# Go-News

2020, PDMP Ajukan Penyertaan Modal Usaha Rp 2,5 Miliyar

Tron Dorong Digitalisasi Transportasi Umum di Bekasi
Bus Transpatriot

Perusahaan Daerah Mitra Patriot (PDMP) Kota Bekasi pada tahun 2020 ini mengajukan penyertaan modal usaha sebesar Rp 2,5 miliyar kepada Pemerintah Daerah. Dana itu diperuntukan untuk mengembangkan usaha disamping operasional Transpatriot.

Direktur Utama PDMP, Tubagus Hendra Suherman mengemukakan bahwa Rp 2,5 miliyar bertujuan untuk mengembangkan usaha samping selain pengoperasian Transpatriot.

“Rp 2,5 Miliyar itu penambahan penyertaan modal untuk pengembangan usaha lainnya. Untuk Transpatriot subsidi dianggarkan 6 Miliyar. Sejauh ini PDMP, dalam operasionalnya sudah dapat mengurangi subsidi sebesar 30 persen. Di negara-negara maju subsidi untuk BRT itu sebesar 80 persen,” kata Hendra Hendra di kantornya, Jalan Veteran, Kelurahan Margajaya, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Jumat (13/3/2020).

Hendra berharap penyertaan modal udaha sebesar Rp 2,5 miliyar itu dapat direalisasi oleh pemerintah daerah. Karena, sebelumnya PDMP juga telah mengajukan penyertaan modal usaha dengan pagu anggaran yang sama.

“Pada tahun 2019 lalu kita ajukan penyertaan modal Rp 6 miliyar, yang disetujui hanya Rp 2,5 miliyar. Tapi sampai saat ini Rp 2,5 miliyar itu juga tidak cair, artinya tidak ada. Makanya untuk 2020 ini diharapkan pemerintah dapat merealisasikan,” harapnya.

Sementara soal pengoperasian Transpatriot, PDMP selama ini mendapatkan subsidi sebesar Rp 6 miliyar. Angka Rp 6 miliyar itu dikarkulasikan lantaran dalam sehari bus Transpatriot membutuhkan biaya operasional sebesar Rp 23 juta untuk sembilan bus. Sebab, dari 26 bus yang ada, sembilan diantaranya disubsidi hingga mencapai 70 persen.

“Rp 23 juta itu sudah termasuk penghitungan sumber daya manusia, perawatan mesin, bahan bakar, dan sebagainya,” kata

Hendra menjelaskan, dalam satu hari pendapatan dari penjualan tiket Transpatriot hanya sebesar Rp 7 juta. Namun ia menampik jika pengeluaran dan pendapatan itu disebut rugi.

“Kalau namanya subsidi ya rugi, tapi namanya bukan rugi itu subsidi. Tujuannya memang untuk meringankan masyarakat untuk beralih ke angkutan massal,” kata dia.

Sejatinya kata Hendra, subsidi 70 persen oleh perusahaan dalam naungannya itu adalah bertujuan untuk mengajak masyarakat beralih dari penggunaan kendaraan pribadi ke kendaraan transportasi massal. Sejauh ini, Transpatriot sendiri sudah banyak diminati.

Bahkan ia sesumbar bahwa kehadiran Transpatriot banyak ditolak oleh kalangan para sopir angkutan kota (Angkot). Pasalnya, banyak masyarakat yang mulai menggunakan transportasi milik pemerintah itu.

“Itu adalah konsekuensi kami, memang tujuan menghadirkan Transpatriot ini adalah untuk masyarakat. Kita tahu bagaimana kondisi lalu lintas, untuk menanggulangi salah satunya adalah dengan transportasi massal yang nyaman dan aman,” ujar dia.

Dia menegaskan, sebagai BUMD yang mengelola bus Transpatriot, perusahaan tak semata-mata mencari keuntungan bisnis saja tapi juga mencari sisi benefit lainnya.

“Seperti pelayanan kepada masyarakat akan pemenuhan moda transportasi yang nyaman, aman, terjangkau. Sisi benefit ini yang kita pertahankan,” tegas Hendra.

Hendra sendiri masih optimistis bila Transpatriot dapat bertahan di kemudian hari. Mengingat, pembangunan kereta ringan (light rail transit/LRT) memiliki stasiun di Bekasi Timur, yang menjadi potensi penambahan penumpang Transpatriot.

“Kita tetap optimistis ke depannya, Transpatriot akan menjadi moda transportasi yang dibutuhkan masyarakat,” katanya.

Mekanisme pemberian subsidi terhadap Transpatriot dilakukan dengan cara mengganti uang yang sudah dikeluarkan (reimburse). Tidak semua dana penyertaan modal yang telah disetujui pemerintah daerah, bisa langsung masuk ke kas perusahaan PDMP. Namun, diambil berdasarkan besaran biaya yang telah dikeluarkan perusahaan.

“Kita pengeluaran biaya dahulu, baru di-reimburse. Sedangkan, dana yang sudah cair (masuk) ke perusahaan hanya Rp 900 juta,” bebernya.

Sebagaimana diketahui, terdapat tiga koridor Transpatriot. Koridor I yakni rute Terminal Induk Kota Bekasi-Harapan Indah, koridor ini adalah yang disubsidi oleh pemerintah.  Koridor II (rute Perumahan Vida-Summarecon) dan Koridor III (rute Perumahan Wisma Asri-Sumber Arta), telah dikerjasamakan dengan pihak swasta, PT Priatman Sarana Abadi (PSA). 

(YES)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top