Harga kelapa parut di pasaran Kabupaten Bekasi terus meroket, membuat pedagang dan konsumen mengeluh. Kenaikan harga yang signifikan ini diduga akibat tingginya volume ekspor kelapa, sehingga pasokan lokal menjadi terbatas.
Juari (41), pemilik agen kelapa parut di Tambun Selatan, menyebut lonjakan harga sudah terjadi sejak sebelum Ramadan. Sebelumnya, harga eceran kelapa parut hanya berkisar Rp5.000 per butir. Kini, harganya melambung menjadi Rp15.000 untuk ukuran kecil dan hingga Rp18.000 untuk ukuran besar.
“Kenaikan itu karena ekspor. Banyak kelapa diekspor ke Thailand, jadi harga lokal ikut harga ekspor. Petani lebih memilih jual ke pembeli ekspor yang langsung turun ke kampung-kampung,” ujar Juari, Minggu (20/4/2025).
Tak hanya harga yang naik, Juari juga mengaku kesulitan mendapatkan pasokan. Dari biasanya mampu membeli 7.000 butir kelapa per minggu, kini ia hanya bisa membeli sekitar 800 butir.
“Kalau beli pakai engkel takut busuk, sekarang paling 800 butir,” katanya.
Dampaknya, pendapatannya pun menurun. Banyak pelanggan yang beralih karena menganggap harga kelapa terlalu mahal untuk kebutuhan rumah tangga.
“Yang beli buat nyayur itu bilang mending buat beli beras daripada kelapa,” keluhnya.
Mimi Suhaimi (39), seorang pelaku usaha katering dan kue, juga merasakan dampaknya. Ia menyebut harga santan kemasan ikut naik, bahkan di warung bisa mencapai Rp7.000 per bungkus.
“Kelapa dari Indonesia, tapi tetap saja mahal. Dulu Rp5.000 per butir kecil, sekarang sudah Rp12.000. Harapannya ya segeralah diturunkan,” ujarnya.
Mimi dan Juari sama-sama berharap agar pemerintah segera turun tangan, baik dengan pengendalian harga, pembatasan ekspor, ataupun upaya menambah pasokan kelapa ke pasaran lokal.
Ikuti Kami di GOOGLE NEWS
Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.












