Jakarta/Bekasi — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan hilal belum mungkin diamati pada 17 Februari 2026 karena secara astronomis posisinya masih berada di bawah ufuk di seluruh wilayah Indonesia.
BMKG menjelaskan, konjungsi atau ijtima terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12.01.07 UT atau 19.01.07 WIB. Sementara itu, waktu Matahari terbenam di Indonesia pada hari yang sama berlangsung lebih dulu, yakni paling awal pukul 17.56.44 WIT di Jayapura dan paling akhir pukul 18.51.25 WIB di Banda Aceh.
Karena konjungsi terjadi setelah Matahari terbenam, secara astronomis hilal belum mungkin diamati pada 17 Februari 2026.
Ketinggian Hilal Masih Negatif
BMKG merinci, saat Matahari terbenam 17 Februari 2026, ketinggian hilal berkisar antara -2,41 derajat (Jayapura) hingga -0,93 derajat (Tua Pejat). Elongasi geosentris hanya 0,94–1,89 derajat, sementara umur bulan masih negatif, antara -3,07 jam hingga -0,16 jam.
Lag time atau selisih waktu terbenam Bulan dengan Matahari tercatat minus 8,27 hingga minus 3,11 menit. Fraksi iluminasi bulan (FIB) juga sangat kecil, hanya 0,01–0,05 persen.
Ketinggian negatif menunjukkan posisi Bulan masih berada di bawah horizon saat Matahari terbenam. Dengan kondisi tersebut, hilal tidak memenuhi ambang visibilitas minimal, termasuk batas 3 derajat yang kerap menjadi parameter awal keterlihatan.
Parameter Berubah Signifikan 18 Februari
BMKG menyebut pelaksanaan rukyat hilal bagi pihak yang menggunakan metode observasi baru relevan dilakukan setelah Matahari terbenam 18 Februari 2026.
Pada 18 Februari 2026, parameter astronomi menunjukkan perubahan signifikan:
- Ketinggian hilal: 7,62–10,03 derajat
- Elongasi: 10,7–12,21 derajat
- Umur bulan: 20,92–23,84 jam
- Lag time: 34,99–45,17 menit
- FIB: 0,74–0,98 persen
Dengan parameter tersebut, peluang keterlihatan hilal secara astronomis jauh lebih besar dibandingkan sehari sebelumnya.
BMKG juga memastikan tidak ada objek astronomis lain seperti Venus, Merkurius, atau bintang terang yang berjarak kurang dari 10 derajat dari Bulan pada 17 maupun 18 Februari 2026. Artinya, kecil kemungkinan terjadi salah identifikasi saat proses rukyat.
Sebagai informasi, BMKG melakukan observasi hilal di 37 lokasi di Indonesia dan menyediakan siaran langsung setiap bulan melalui kanal resminya.
Sidang Isbat Digelar 17 Februari
Penetapan resmi awal Ramadhan 1447 H tetap menunggu hasil sidang isbat yang digelar oleh Kementerian Agama Republik Indonesia pada Selasa, 17 Februari 2026, di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kemenag RI, Jakarta.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menyatakan keputusan awal Ramadan akan ditetapkan berdasarkan pembahasan hasil hisab dan rukyat.
Sidang isbat tersebut menjadi forum resmi pemerintah untuk menentukan kapan umat Islam di Indonesia memulai ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah, dengan mempertimbangkan data astronomi serta hasil pengamatan lapangan.
Dengan dinamika parameter astronomi tersebut, potensi perbedaan awal Ramadan kembali terbuka, bergantung pada pendekatan dan hasil observasi yang digunakan masing-masing pihak.
Ikuti Kami di GOOGLE NEWS
Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
(Adinda Fitria Yasmin)












