Bekasi  

BRIN Prediksi Awal Ramadan 1447 H Berpotensi Berbeda, Hilal Global 18 Februari, Hilal Lokal 19 Februari

Suasana pelaksanaan salat tarawih di Masjid Agung Al Barkah, Rabu (14/4/2021). Foto: Gobekasi.id
Suasana pelaksanaan salat tarawih di Masjid Agung Al Barkah, Rabu (14/4/2021). Foto: Gobekasi.id

Jakarta/Bekasi — Awal Ramadan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi di Indonesia berpotensi kembali berbeda. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi terdapat perbedaan penetapan 1 Ramadan jika menggunakan pendekatan hilal global dan hilal lokal.

Koordinator Kelompok Riset (KR) Astronomi dan Observatorium Pusat Riset Antariksa BRIN, Prof Thomas Djamaluddin, menjelaskan perbedaan kali ini bukan semata karena metode hisab dan rukyat, melainkan karena rujukan wilayah pengamatan hilal.

“Perbedaan kali ini berbeda dengan yang sebelumnya karena beda metode (hisab dan rukyat) atau beda kriteria (wujudul hilal dan imkanur rukyat). Perbedaan kali ini karena beda hilal global vs hilal lokal,” ujar Thomas, Selasa (17/2/2026).

Hilal Global: 18 Februari 2026

Thomas menjelaskan, hilal global merujuk pada terpenuhinya kriteria imkanur rukyat di mana saja di permukaan bumi. Pada saat Magrib 17 Februari 2026, kriteria tersebut disebut telah terpenuhi di Alaska.

“Hilal global merujuk terpenuhinya kriteria imkanur rukyat di mana saja. Pada saat Magrib 17 Februari, kriteria itu terpenuhi di Alaska, maka pengguna Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) menetapkan awal Ramadan 18 Februari 2026,” katanya.

Dengan pendekatan ini, 1 Ramadan 1447 H berpotensi jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Hilal Lokal: 19 Februari 2026

Namun, jika merujuk pada hilal lokal—yakni posisi hilal di wilayah Indonesia dan Asia Tenggara—situasinya berbeda. Berdasarkan perhitungan hisab, posisi bulan saat Magrib 17 Februari disebut belum memenuhi kriteria imkanur rukyat.

“Hilal lokal merujuk wilayah Indonesia dan Asia Tenggara. Pada saat Magrib 17 Februari, posisi hilal belum memenuhi kriteria imkanur rukyat, bahkan di Indonesia posisi bulan masih di bawah ufuk,” ujar Thomas.

Jika merujuk pada pendekatan ini, maka 1 Ramadan diprediksi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

“Maka secara hisab dan (nanti dibuktikan) secara rukyat awal Ramadan pada 19 Februari 2026,” tambahnya.

Menunggu Sidang Isbat Pemerintah

Kepastian awal Ramadan di Indonesia tetap menunggu hasil sidang isbat yang digelar pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia.

Mengutip informasi dari laman Bimas Islam Kemenag, sidang isbat penetapan 1 Ramadan 1447 H dilaksanakan di Hotel Borobudur Jakarta, Jakarta Pusat, Selasa (17/2/2026).

Rangkaian kegiatan dimulai dengan seminar posisi hilal pukul 16.30 WIB, dilanjutkan sidang isbat pukul 18.30 WIB, dan pengumuman resmi hasil sidang sekitar pukul 19.05 WIB melalui konferensi pers.

Pemantauan hilal dilakukan di berbagai titik di seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Papua, dengan melibatkan tim daerah serta relawan pengamat hilal.

Potensi perbedaan ini menandakan dinamika penetapan kalender Hijriah masih menjadi isu astronomis sekaligus fiqhiyah yang terus berkembang, seiring perkembangan sains dan pendekatan globalisasi kalender Islam.

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

(Zachra Mutiara Medina)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *