Jabar Bidik Industri Semikonduktor Hilir, Bekasi Jadi Episentrum Baru Investasi Teknologi Tinggi

Kawasan Industri Bekasi, Foto: Knic.co.id
Kawasan Industri Bekasi, Foto: Knic.co.id

Bekasi — Peta investasi di Jawa Barat tengah bergeser. Pemerintah Provinsi tak lagi sekadar berburu pabrik manufaktur konvensional, melainkan membidik industri bernilai tambah tinggi: elektronik dan semikonduktor hilir.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Dinamika investasi global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perubahan arah besar-besaran.

Modal internasional kini lebih selektif, condong ke sektor berbasis teknologi tinggi seperti data center dan semikonduktor, seiring melonjaknya kebutuhan komputasi akibat Artificial Intelligence (AI) serta kebijakan kedaulatan chip di berbagai negara, termasuk melalui CHIPS and Science Act di Amerika Serikat.

Kepala DPMPTSP Jabar, Dedi Taufik, menyebut pihaknya kini menerapkan pendekatan klasterisasi tematik di 27 kabupaten/kota.

Hasilnya, beberapa daerah diproyeksikan menjadi pusat industri elektronik dan semikonduktor hilir, yakni Kabupaten Bekasi, Kabupaten Subang, Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Sukabumi.

Bekasi disebut sebagai salah satu episentrum paling siap. Infrastruktur kawasan industri, kedekatan dengan Pelabuhan Tanjung Priok, akses tol, hingga jaringan listrik besar menjadi faktor penentu.

Bekasi dan Sabuk Industri Digital

Selain manufaktur elektronik, Jawa Barat juga diproyeksikan sebagai hub ekonomi digital dan data center nasional. Lebih dari 30 perusahaan tercatat berinvestasi di sektor ini, mayoritas berada di kawasan industri Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang dan Kabupaten Purwakarta.

Pada 2025, kawasan Bodebekarpur (Bogor–Depok–Bekasi–Karawang–Purwakarta) mencatat realisasi investasi sektor informasi dan komunikasi sebesar Rp26 triliun. Sementara Bandung Raya mencapai Rp3,40 triliun.

Angka ini menunjukkan satu hal: Bekasi dan sekitarnya bukan lagi sekadar “kota pabrik”, tetapi mulai bertransformasi menjadi simpul infrastruktur digital nasional.

Namun pertanyaannya, apakah kesiapan ekosistem penunjang — mulai dari SDM hingga pasokan energi — sudah benar-benar matang?

Pergeseran Global: Dari Tekstil ke Teknologi

Menariknya, ketika sektor data center dan semikonduktor melonjak, sejumlah sektor lama justru tertekan. Industri tekstil, elektronik konvensional, hingga permesinan mengalami penurunan tajam akibat tekanan tarif global dan perlambatan ekonomi.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa investasi kini tak lagi mengejar kuantitas proyek, melainkan kualitas dan nilai strategis jangka panjang.

Bagi Bekasi, ini peluang sekaligus tantangan. Masuknya industri semikonduktor hilir berarti kebutuhan tenaga kerja lebih terampil, investasi energi besar dan stabil, standar lingkungan lebih ketat hingga integrasi rantai pasok global.

Tanpa kesiapan SDM dan tata ruang yang presisi, potensi lonjakan investasi bisa berujung pada ketimpangan baru.

Jangan Lupakan Sektor Pangan

Di sisi lain, Pemprov Jabar juga melihat potensi besar pada sektor pangan. Dengan proyeksi penduduk 2030 mencapai 52,69 juta jiwa, kebutuhan beras diperkirakan menyentuh 4,28 juta ton per tahun, telur 428 ribu ton, dan daging ayam 578 ribu ton.

Artinya, Jawa Barat bukan hanya basis produksi industri, tetapi juga pasar raksasa.

Kepala Bappeda Jabar, Dedi Mulyadi, menegaskan arah kebijakan investasi 2025–2029 juga akan menyasar kawasan afirmasi 3T (tertinggal, terdepan, terluar), agar pertumbuhan tidak hanya terkonsentrasi di sabuk industri Bekasi–Karawang–Purwakarta.

Infrastruktur Jadi Kunci

Pemerintah Provinsi menempatkan pembangunan jalan dan irigasi sebagai prioritas untuk menjaga keberlanjutan investasi.

Namun bagi kawasan seperti Bekasi, persoalan klasik masih membayangi banjir musiman, kemacetan akses logistik, tekanan lingkungan, kesenjangan sosial antara kawasan industri dan permukiman.

Jika sektor semikonduktor benar-benar masuk secara masif, tata kelola wilayah harus naik kelas. Industri teknologi tinggi tidak hanya membutuhkan lahan luas, tetapi juga kepastian regulasi, stabilitas energi, dan kualitas hidup pekerja.

Bekasi di Titik Balik

Transformasi menuju industri semikonduktor hilir bisa menjadi babak baru bagi Kabupaten Bekasi. Dari kota buruh manufaktur menuju pusat teknologi tinggi.

Pertanyaannya bukan lagi apakah investasi akan datang, tetapi apakah pemerintah daerah siap mengelola dampaknya, apakah masyarakat lokal ikut menikmati nilai tambahnya, ataukah Bekasi hanya kembali menjadi tuan rumah tanpa menjadi pemain utama?

Gelombang investasi teknologi tinggi sudah di depan mata. Kini, yang menentukan bukan sekadar angka triliunan rupiah, melainkan bagaimana arah pembangunan itu benar-benar membawa kesejahteraan jangka panjang.

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *