Bekasi  

Siaga di Lereng Bojongmangu

Kabupaten Bekasi - Kondisi longsor di wilayah Bojongmangu, Kabupaten Bekasi. Foto: Ist/Gobekasi.id.
Kondisi longsor di wilayah Bojongmangu, Kabupaten Bekasi. Foto: Ist/Gobekasi.id.

Kabupaten Bekasi – Hujan memang sudah reda. Tapi ancaman belum benar-benar pergi dari perbukitan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi. Lima titik longsor yang terjadi akhir Januari lalu menyisakan retakan—di tanah, di dinding rumah, dan dalam kecemasan warga.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bekasi (BPBD) meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor susulan.

Pengkajian kebutuhan pascabencana (Jitupasna) memang telah rampung, namun pergerakan tanah dinilai masih mungkin terjadi, terutama bila hujan deras kembali mengguyur wilayah berbukit itu.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bekasi, Muchlis, mengatakan pemantauan masih terus dilakukan di sejumlah titik terdampak. Karakter Bojongmangu yang berbukit dengan sistem drainase terbatas membuat kawasan ini rentan. Air hujan yang tak mengalir lancar justru meresap dan menekan struktur tanah.

“Kami minta masyarakat segera melapor jika melihat ada retakan baru di tanah atau dinding rumah. Penanganan dini sangat penting untuk mencegah kerugian yang lebih besar atau adanya korban jiwa,” ujar Muchlis, Selasa (24/2/2026).

Longsor sebelumnya dipicu curah hujan tinggi dalam rentang 18–28 Januari 2026. Intensitas hujan yang berlangsung lama membuat tanah jenuh air. Struktur pondasi bangunan warga maupun fasilitas publik melemah. Sejumlah rumah dan fasilitas pendidikan dilaporkan rusak.

Menurut Muchlis, tanda-tanda awal kerap diabaikan. Retakan kecil di lantai, dinding, atau halaman rumah sering dianggap sepele. Padahal, itu bisa menjadi indikator awal adanya pergerakan tanah.

“Kalau dilaporkan lebih cepat, kita bisa lakukan asesmen dan langkah pengamanan,” katanya.

BPBD kini berkoordinasi dengan perangkat desa dan kecamatan untuk mempercepat arus informasi jika kondisi darurat muncul. Petugas lapangan disiagakan, terutama saat hujan turun dengan intensitas tinggi dan durasi panjang.

Selain menyalurkan bantuan logistik bagi warga terdampak, BPBD juga memberikan rekomendasi teknis kepada dinas terkait. Namun, mitigasi jangka panjang, kata Muchlis, tak cukup hanya dengan respons darurat. Dibutuhkan kerja sama lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat.

Wilayah perbukitan seperti Bojongmangu memang menyimpan kerentanan terhadap bencana hidrometeorologi. Edukasi kebencanaan dan kesiapsiagaan warga menjadi kunci pencegahan.

“Kami tidak ingin ada korban jiwa. Lebih baik melapor meskipun ternyata bukan sesuatu yang berbahaya, daripada terlambat mengambil tindakan,” ujar Muchlis.

Cuaca yang masih berpotensi hujan membuat kewaspadaan menjadi harga mati. Di lereng-lereng Bojongmangu, retakan sekecil apa pun kini tak lagi sekadar garis di tanah—melainkan isyarat yang tak boleh diabaikan.

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *