Bekasi  

Tanggul Kali Bekasi Belum Tersambung, KP2C Nilai Pengendalian Banjir Belum Maksimal

Kota Bekasi - Kementerian PU membangun tanggul di Kali Bekasi. Foto: Ist
Kementerian PU membangun tanggul di Kali Bekasi. Foto: Ist

Kota Bekasi – Proyek normalisasi Kali Bekasi yang telah rampung ternyata masih menyisakan pekerjaan rumah. Sejumlah titik tanggul diketahui belum tersambung, sehingga dinilai belum mampu memberikan perlindungan maksimal terhadap ancaman banjir di Kota Bekasi.

Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C), Puarman, menyoroti kondisi tersebut saat meninjau lokasi bersama Komisi II DPRD Kota Bekasi dan perwakilan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWS Ciliwung Cisadane), Kamis (5/3/2026).

Puarman menjelaskan, pemerintah sebelumnya telah melakukan normalisasi sungai sepanjang 11,5 kilometer, dimulai dari titik nol pertemuan Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas hingga ke Bendung Bekasi. Proyek tersebut menelan anggaran sekitar Rp380 miliar.

Namun, menurut dia, keberadaan celah tanggul membuat fungsi pengendalian banjir belum optimal.

“Ibarat kapal pesiar, sebagaimanapun bagusnya kalau masih ada yang bolong di beberapa titik, tidak akan berfungsi dengan baik,” ujar Puarman.

Beberapa Titik Tanggul Masih Terputus

Puarman mengungkapkan masih terdapat beberapa lokasi tanggul yang belum tersambung, di antaranya di kawasan Kemang Pratama sepanjang sekitar 200 meter serta di Pondok Mitra Lestari sepanjang kurang lebih 470 meter.

Selain itu, terdapat pula sejumlah titik di kawasan Kemang IFI Graha yang belum tersambung.

Menurut Puarman, persoalan utama yang menghambat penyambungan tanggul diduga berkaitan dengan proses penyiapan dan pembebasan lahan.

“Permasalahannya sepertinya dari penyiapan lahan. Ini PR ke depan untuk Kali Bekasi,” katanya.

Banjir Dipicu Tiga Faktor

Puarman menilai persoalan banjir di Kota Bekasi tidak hanya disebabkan oleh kondisi tanggul. Ia menyebut terdapat tiga faktor utama yang memicu banjir, yakni luapan sungai, banjir rob, serta curah hujan lokal.

Ia menjelaskan bahwa Sungai Bekasi merupakan hasil pertemuan Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas. Ketika debit air dari wilayah hulu meningkat, volume air di Kali Bekasi pun melonjak dan berpotensi meluap ke permukiman di sekitarnya.

“Kondisi ini semakin berisiko karena beberapa tanggul belum tersambung,” kata dia.

Perubahan Tata Ruang Hulu Perparah Banjir

Puarman juga menyoroti perubahan tata guna lahan di kawasan hulu seperti Sentul, Puncak, dan Babakan Madang yang berdampak besar terhadap peningkatan debit air ke Kali Bekasi.

Ia menyebutkan bahwa kondisi resapan air kini jauh menurun dibandingkan masa lalu.

“Dulu kalau hujan di Sentul, 80 persen air meresap ke tanah dan hanya 20 persen yang mengalir ke Kali Bekasi. Sekarang justru terbalik,” jelasnya.

Kolam Retensi Dinilai Solusi Efektif

Selain pembangunan tanggul, Puarman menilai pembangunan kolam retensi atau waduk di beberapa titik menjadi solusi penting untuk menahan limpasan air sebelum masuk ke Kali Bekasi.

Saat ini pemerintah disebut telah menganggarkan pembangunan delapan titik kolam retensi sebagai bagian dari strategi pengendalian banjir.

“Menurut saya itu sangat efektif untuk mengendalikan banjir,” ujarnya.

Pengembang Diminta Terapkan Zero Delta Q

Puarman juga mendorong para pengembang properti menerapkan prinsip Zero Delta Q, yaitu setiap pembangunan tidak boleh menambah debit air yang mengalir ke saluran maupun sungai.

“Silakan membangun, tapi jangan sampai bertambahnya debit air ke saluran atau ke sungai,” tegasnya.

Pengendalian Banjir Jadi Agenda Nasional

Ia menambahkan bahwa pengendalian banjir Kali Bekasi sebenarnya telah masuk dalam rencana aksi bersama yang ditandatangani oleh pemerintah daerah hingga pemerintah pusat, termasuk oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Dalam Negeri.

Dalam skema tersebut, biaya konstruksi ditanggung oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum, sementara pembebasan lahan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah masing-masing.

Puarman berharap persoalan lahan yang menghambat penyambungan tanggul dapat segera diselesaikan agar sistem pengendalian banjir di Kali Bekasi bisa berfungsi maksimal.

“Potensi banjir di Bekasi setiap tahun semakin meningkat, sehingga penyelesaian tanggul ini tidak bisa lagi ditunda,” pungkasnya.

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *