Bekasi – Produk kecap buatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) asal Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, menembus pasar Eropa. Kecap Oishii kini diekspor ke Belanda dalam pengiriman satu kontainer.
Pemilik usaha kecap Oishii, Nurjanah Dongoran, mengatakan produk yang dikirim ke Belanda memiliki formulasi berbeda dengan produk yang dipasarkan di Indonesia.
Perbedaan tersebut dilakukan karena Oishii menyesuaikan cita rasa dan formulasi dengan permintaan buyer serta karakteristik pasar di Belanda.
“Yang dikirim ke Belanda memang berbeda dengan kecap Oishii yang kami produksi untuk lokal. Ini menyesuaikan formulasi atau permintaan pasar di sana,” ujar Nurjanah, usai pelepasan ekspor kecap oishii di Perumahan Bumi Anggrek, Desa Karangsatria, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, Senin (24/8/2026).
Dalam pengiriman tersebut, satu kontainer berisi sekitar 2.900 kartus kecap. Menariknya, bahan baku yang digunakan untuk produksi kecap Oishii berasal dari dalam negeri. Salah satu yang menjadi perhatian adalah penggunaan kedelai lokal non-GMO.
Nurjanah mengatakan penggunaan bahan baku lokal merupakan bagian dari komitmen usahanya. Selain kedelai, pihaknya juga menggunakan rempah-rempah segar dalam proses produksi.
Menurutnya, penggunaan bahan baku lokal tidak hanya memberikan manfaat bagi perusahaan, tetapi juga menciptakan efek ekonomi bagi petani dan pedagang yang memasok rempah.
“Kalau kami memproduksi kecap, efeknya tidak hanya ke perusahaan besar pemasok kemasan botol dan kartus, tetapi juga sampai petani ataupun pedagang yang menjual rempah,” katanya.
Ekspor ke Belanda bukan menjadi pengalaman pertama Oishii memasuki pasar luar negeri. Pada 2020, Oishii pernah mengirim produknya ke Jepang meski dalam jumlah terbatas karena hanya menyuplai satu toko.
Oishii juga pernah memasok produk ke Malaysia. Namun, ekspor dalam skala full container baru dimulai pada Desember 2022 dengan tujuan Arab Saudi. Kerja sama tersebut terus berlanjut hingga Oishii telah mengirim enam kontainer ke negara tersebut.
Kini, pasar Belanda menjadi tujuan ekspor berikutnya. Nurjanah berharap kerja sama dengan buyer di Belanda dapat berlangsung panjang dan menghasilkan lebih banyak pesanan di masa mendatang.
“Harapannya yang ke Belanda ini juga bisa panjang, bisa banyak order lagi setelahnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pasar kecap di Belanda sebenarnya cukup terbuka. Namun, produk dari Indonesia tidak bisa begitu saja dipaksakan menggunakan cita rasa yang biasa dikonsumsi masyarakat Indonesia.
Karena itu, Oishii memilih menyesuaikan rasa dengan permintaan buyer di negara tujuan.
“Tidak bisa memaksakan kecap ini dipasarkan di sana. Karena itu namanya membentuk pasar. Tapi karena kita menyesuaikan dengan permintaan buyer di sana, serapannya justru akan jauh lebih baik,” jelasnya.
Produk yang dikirim ke Belanda tersebut nantinya juga menyasar konsumen warga Suriname yang berada di sana. Bahkan, buyer disebut memiliki rencana untuk mendistribusikan produk tersebut ke negara lain, termasuk Belgia dan Australia.
Sementara untuk pasar dalam negeri, Oishii tetap memasarkan produk dengan formulasi khusus pasar Indonesia.
Nurjanah menyebut produk lokal Oishii memiliki sejumlah perbedaan, salah satunya dari bahan baku kedelai. Selain itu, pihaknya mengklaim tidak menggunakan sejumlah food additive seperti pengawet, pewarna, dan MSG.
Di balik keberhasilan menembus pasar Eropa, Oishii memiliki perjalanan panjang. Nurjanah mengaku memulai usaha tersebut dari skala kecil di garasi pada 2017.
Dengan modal dan peralatan yang terbatas, ia mencoba memproduksi kecap sendiri. Latar belakangnya di bidang gizi turut mendorong keinginannya untuk membuat produk kecap dengan bahan yang menurutnya lebih baik.
“Kadang mikirnya gini, masa kecap saja harus perusahaan asing yang bikin? Enggak susah bikin kecap, kan malu,” tuturnya.
Namun, memasuki pasar Indonesia ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Persaingan dengan merek-merek besar menjadi tantangan tersendiri.
Dari situ, ia melihat masih banyak peluang di pasar lain, termasuk pasar ekspor.
Saat ini, kapasitas produksi Oishii mencapai sekitar 2.000 hingga 4.000 botol per hari.
Selain mengembangkan produk, Nurjanah juga mempekerjakan dan melatih anak-anak muda, termasuk mereka yang baru lulus SMA dan belum terserap industri besar.
Bagi Nurjanah, keberhasilan mendapatkan pesanan dalam jumlah besar juga menjadi tantangan bagi sebuah UMKM untuk meningkatkan kemampuan produksi, mengatur sumber daya manusia hingga menyusun jadwal produksi.
Kini, dari usaha yang bermula di garasi, kecap Oishii asal Tambun Utara telah membawa produk lokal Bekasi melangkah ke pasar Eropa.
Ikuti Kami di GOOGLE NEWS
Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

