Site icon Go Bekasi

Rawat Tradisi Intelektual, Himasi UIN Walisongo Bedah Peran Mahasiswa Bekasi sebagai Agen Perubahan

Bekasi - Himpunan Mahasiswa Bekasi Semarang menggelar diskusi Antropologi Kampus di UIN Walisongo untuk merevitalisasi peran mahasiswa sebagai agent of change. Foto: Ist/Gobekasi.id.

Himpunan Mahasiswa Bekasi Semarang menggelar diskusi Antropologi Kampus di UIN Walisongo untuk merevitalisasi peran mahasiswa sebagai agent of change. Foto: Ist/Gobekasi.id.

Semarang — Himpunan Mahasiswa Bekasi (Himasi) Semarang menggelar forum diskusi bertajuk “Antropologi Kampus: Mahasiswa sebagai Agent of Change” di Edupark FTIK Kampus 2 UIN Walisongo Semarang pada Jumat (18/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung pukul 15.00 hingga 17.30 WIB ini dikemas sebagai forum Satuan Kredit Semester (SKS) tambahan bagi para mahasiswa perantauan asal Bekasi.

Divisi Kajian Himasi menginisiasi forum ini sebagai wadah fasilitator intelektual bagi para anggotanya.

Langkah tersebut diambil guna merawat budaya akademik kampus sekaligus merevitalisasi tanggung jawab mahasiswa sebagai agen perubahan yang mampu menyeimbangkan gerakan intelektual dan gerakan kemasyarakatan.

Presiden DEMA-U UIN Walisongo, Mohammad As’ad Hasanuddin, hadir sebagai pemateri utama.

Diskusi dibuka secara interaktif dan reflektif mengenai eksistensi kemahasiswaan di lingkungan kampus.

Audiens yang hadir diajak mendefinisikan peran mahasiswa yang bermuara pada tiga kata kunci: memfasilitasi, mewadahi, dan mendampingi dalam koridor Tri Dharma Perguruan Tinggi.

As’ad menegaskan pentingnya keterikatan mahasiswa perantauan dengan realitas daerah asalnya.

Ia mendorong mahasiswa Bekasi untuk peka terhadap isu-isu krusial seperti krisis identitas, kriminalitas, hingga persoalan sampah dan limbah lingkungan yang ada di Bekasi.

“Jika kita mau maju dan berkembang, mahasiswa Bekasi jangan pernah menutup diri,” kata As’ad dalam pemaparannya.

Ia menyarankan agar kepekaan terhadap isu daerah tersebut dijadikan bahan studi kasus.

Hasil kajian itu nantinya dapat dirancang menjadi program konkret berbasis proposal untuk diajukan kepada Pemkot maupun Pemkab Bekasi saat masa libur semester.

Klasifikasi Organisasi dan Daya Tawar Media Himasi

Memasuki sesi tanya jawab yang dipandu oleh Gilang selaku moderator, diskusi berlangsung semakin hangat.

Salah satu peserta, Sasa, mempertanyakan cara menumbuhkan kesadaran tanggung jawab mahasiswa serta perbedaan iklim profesionalitas antara organisasi daerah yang berlandaskan kekeluargaan dengan organisasi internal kampus.

Merespons pertanyaan tersebut, As’ad memberikan penjelasan melalui studi komparatif budaya organisasi kampus.

Ia membagi corak organisasi mahasiswa ke dalam beberapa kategori, yakni organisasi bercorak ideologis (seperti PMII, GMNI, HMI, IMM, dan KAMMI), organisasi akademik (HMJ, DEMA, SEMA, BEM), serta organisasi bakat dan minat (UKM).

As’ad menilai Himasi memiliki corak eksternal berbasis jejaring kekeluargaan.

Namun, ia menekankan bahwa Himasi tidak boleh berhenti pada asas kekeluargaan saja, melainkan harus memiliki daya tawar yang lebih tinggi.

“Himasi bisa lebih dikenal dan memiliki nilai jual tersendiri ketika platform medianya berisi konten edukatif, inspiratif, serta berkaitan dengan kebudayaan Bekasi. Media saat ini sangat dekat dengan pengetahuan,” ujar As’ad sembari menawarkan bantuan kolaborasi pengembangan media.

Rangkaian diskusi interaktif tersebut ditutup dengan sebuah kutipan reflektif dari tokoh pendidikan Paulo Freire yang disampaingkan pemateri:

“Education does not change the world, education changes people. People change the world” (Pendidikan tidak mengubah dunia, pendidikan mengubah manusia. Manusiaslah yang mengubah dunia).

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Exit mobile version