Site icon Go Bekasi

Vilmei Ingatkan 242 Ketua OSIS Bekasi soal Screen Time dan Jejak Digital

Bekasi - Kreator konten Meicy Villia Kalangi atau Vilmei saat memberikan edukasi media sosial kepada 242 ketua OSIS SMA dan SMK se-Kota Bekasi dalam program Pelajar Bertanya Polisi Menjawab di Mapolres Metro Bekasi Kota, Selasa (22/9/2026). Foto: Ist/Gobekasi.id.

Kreator konten Meicy Villia Kalangi atau Vilmei saat memberikan edukasi media sosial kepada 242 ketua OSIS SMA dan SMK se-Kota Bekasi dalam program Pelajar Bertanya Polisi Menjawab di Mapolres Metro Bekasi Kota, Selasa (22/9/2026). Foto: Ist/Gobekasi.id.

Bekasi — Sebanyak 242 ketua OSIS SMA dan SMK se-Kota Bekasi mendapat pembekalan tentang penggunaan media sosial secara bijak. Kegiatan itu berlangsung dalam program Pelajar Bertanya Polisi Menjawab di Mapolres Metro Bekasi Kota, Selasa (22/9/2026).

Kreator konten Meicy Villia Kalangi atau Vilmei turut hadir dalam kegiatan tersebut. Ia berbagi pengalaman kepada para pelajar sekaligus mengingatkan mereka agar tidak menjadikan media sosial sekadar ruang mengikuti tren.

Menurut Vilmei, pelajar perlu mampu mengatur waktu, menyaring informasi, dan mempertimbangkan dampak setiap konten yang mereka unggah.

Vilmei Ingatkan Pelajar soal Screen Time

Salah satu topik yang dibahas adalah penggunaan waktu layar atau screen time.

Vilmei mengingatkan pelajar agar penggunaan media sosial tetap seimbang dengan kegiatan lain. Waktu untuk menggunakan perangkat digital perlu dibagi dengan waktu belajar, beristirahat, berinteraksi secara langsung, serta melakukan aktivitas produktif.

Keseimbangan tersebut penting karena media sosial telah menjadi bagian dari keseharian pelajar. Mereka bukan hanya menerima konten, tetapi juga dapat membuat, mengomentari, dan menyebarkannya kepada pengguna lain.

Karena itu, setiap aktivitas di ruang digital membutuhkan kesadaran.

“Apa yang terasa biasa bagi kita belum tentu diterima dengan cara yang sama oleh orang lain. Sekali dibagikan, sebuah konten dapat memengaruhi perasaan, cara berpikir, bahkan kehidupan seseorang. Karena itu, gunakan media sosial dengan empati dan kesadaran terhadap dampaknya,” kata Vilmei.

Pelajar Diminta Tak Asal Sebarkan Informasi

Vilmei juga mengajak peserta lebih kritis menghadapi derasnya informasi di berbagai platform digital.

Pelajar perlu mengenali perbedaan antara informasi faktual, misinformasi, dan disinformasi. Salah satu caranya dengan memeriksa sumber serta memahami konteks sebelum membagikan sebuah konten.

Kebiasaan tersebut penting karena satu informasi dapat menyebar dengan cepat setelah dibagikan.

Sebelum meneruskan konten, pengguna perlu memastikan informasi memiliki dasar yang jelas dan mempertimbangkan kemungkinan dampaknya bagi orang lain.

Jejak Digital Tak Mudah Hilang

Pesan tersebut kemudian diperkuat Putu Kholis. Ia mengingatkan bahwa kecakapan digital tidak berhenti pada kemampuan menggunakan perangkat atau mengikuti perkembangan media sosial.

Pelajar juga perlu memahami konsekuensi dari aktivitas mereka di internet.

Unggahan, komentar, maupun interaksi digital dapat meninggalkan jejak. Karena itu, Putu meminta pelajar mempertimbangkan tiga hal sebelum mengunggah atau membagikan sesuatu: kebenaran, manfaat, dan dampaknya.

“Jejak digital melekat pada setiap pilihan yang dibuat di media sosial. Pertimbangkan kebenaran, manfaat, dan dampaknya sebelum mengunggah atau membagikan sesuatu. Jika menemukan ancaman, perundungan, atau konten yang merugikan, simpan bukti dan segera sampaikan kepada orang tua, sekolah, atau kepolisian,” kata Putu Kholis.

Pesan tersebut juga menjadi pengingat bagi pelajar ketika menghadapi persoalan seperti perundungan atau ancaman di ruang digital. Mereka tidak perlu menghadapi persoalan tersebut sendirian dan dapat meminta bantuan orang dewasa atau pihak yang berwenang.

Ketua OSIS Punya Peran di Sekolah

Kehadiran 242 ketua OSIS membuat pembekalan tidak hanya menyasar kebiasaan bermedia sosial secara pribadi.

Sebagai bagian dari lingkungan sekolah, para ketua OSIS juga berhadapan dengan berbagai aktivitas digital bersama teman sebaya. Karena itu, kemampuan berkomunikasi secara bijak dan memahami risiko di ruang digital menjadi bekal penting.

Komunikasi melalui media sosial tetap membutuhkan empati dan tanggung jawab. Kecepatan arus informasi juga menuntut pengguna lebih berhati-hati sebelum menyampaikan atau menyebarkan sesuatu.

Para pelajar dapat membantu menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat dengan membiasakan diri memeriksa sumber dan konteks informasi.

Bijak Bermedia Sosial Dimulai dari Kesadaran

Kegiatan Pelajar Bertanya Polisi Menjawab di Mapolres Metro Bekasi Kota menempatkan literasi digital tidak sekadar sebagai kemampuan menggunakan teknologi.

Pelajar juga perlu memahami konsekuensi dari tindakan mereka di internet.

Pesan Vilmei dan Putu Kholis bertemu pada satu hal: setiap aktivitas di ruang digital memiliki dampak.

Mengatur waktu layar, memeriksa informasi, menjaga komunikasi, hingga mempertimbangkan dampak sebelum mengunggah konten merupakan bagian dari kebiasaan bermedia sosial yang bertanggung jawab.

Bagi pelajar, media sosial tetap dapat menjadi ruang untuk berinteraksi, belajar, dan berkembang. Namun, manfaat tersebut akan lebih besar jika pengguna mampu mengendalikan kebiasaan digitalnya dan berpikir sebelum membagikan sesuatu.

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Exit mobile version