Bekasi – Saya kerap hilir mudik di wilayah Kota Bekasi. Bukan sekali. Sering.
Bermotoran sekitar Stasiun Bekasi hingga ke depan Terminal. Kusam. Itu kesan pertama.
Kabel menggantung seperti mie yang tumpah. Trotoar hilang. Dikuasai gerobak. Klakson bersahutan. Bau selokan bercampur gorengan.
Saya bertanya dalam hati: ini etalase kota besar?
Bekasi ini kota 2,5 juta penduduk. APBD-nya triliunan. Gedungnya tinggi-tinggi. Tapi pintu masuknya seperti ini?
Ternyata bukan saya saja yang berpikir begitu. Puluhan tahun orang Bekasi mengeluh soal itu.
Mitos Kawasan Tanpa Sentuhan
Di Bekasi ada mitos. Mitos yang tidak pernah ditulis, tapi dipercaya semua orang.
Ada kawasan yang tidak boleh disentuh. Dua di antaranya: Pasar Baru dan Stasiun.
Kenapa tidak boleh disentuh?
Karena di sana ada PKL. Ratusan atau bahkan ribuan. PKL itu sensitif. Menyentuhnya sama dengan menyentuh suara. Menyentuh bilik suara.
Setiap Wali Kota tahu itu. Mochtar Mohamad tahu. Rahmat Effendi juga tahu.
Mereka pernah mencoba. Sebentar. Lalu kembali seperti semula.
Jalan Ir. H. Juanda itu jalan sejarah. Ia menjadi saksi. Ia dibersihkan pagi, siang sudah kotor lagi. Dibersihkan Senin, Selasa sudah penuh lagi. Kenapa?
Karena di sana ada ekonomi. Ada uang harian yang berputar. Puluhan juta per hari. Dan di mana ada uang harian, di situ ada yang nyaman dengan status quo.
Ini bukan rahasia. Di warung kopi, semua orang membicarakannya: mengutip PKL adalah lahan basah.
Maka kawasan itu menjadi kawasan tanpa sentuhan. Semua takut. Takut dicap tidak pro wong cilik. Takut kehilangan suara. Takut mengganggu anak buahnya sendiri yang sudah nyaman.
Mitos itu berlangsung belasan atau bahkan puluhan tahun. Sampai datang Tri Adhianto.
Berani yang Tidak Populer
Tri ini menarik. Ia kader PDI Perjuangan. Partai yang sejak lahir memegang teguh satu kata: marhaen. Wong cilik. Kaum bawah.
Secara logika politik, Tri seharusnya menjadi orang yang paling tidak mau menyentuh PKL. Karena PKL adalah marhaen itu sendiri.
Tapi yang ia lakukan justru sebaliknya. Ia sentuh. Ia datang langsung.
Saya melihat videonya saat penertiban di Plaza Patriot Chandrabhaga. Suasananya tegang.
Tri dikelilingi Satpol PP. Di depannya puluhan PKL berteriak. Ada yang mencemooh. Ada yang berteriak: “Seperti Kompeni!”
Saya merinding melihatnya. Itu momen yang tidak enak. Tidak populer. Tidak akan dapat tepuk tangan di media sosial.
Tapi seorang pemimpin harus melalui momen tidak enak itu. Di Pasar Baru, ia melakukan hal yang sama. Tidak hanya mengusir. Ini yang membedakan.
Kalau hanya mengusir, semua Wali Kota bisa. Satpol PP disuruh maju, selesai. Tri menawarkan yang lain: penataan.
Ia geser, ia tata, ia carikan solusi relokasi. Ia tidak membiarkan PKL hilang mata pencahariannya, tapi ia juga tidak membiarkan hak pejalan kaki hilang.
Itu keseimbangan yang sulit. Dan ia berani menggadaikan bilik suaranya sendiri untuk itu.
Etalase Itu Akhirnya Bersih
Coba Anda lewat sekarang di Jalan Ir. H. Juanda, Bekasi Timur. Berbeda.
Kabel udara yang dulu semrawut seperti benang layangan putus, sekarang sudah mulai dirapikan. Dirapikan ke bawah tanah.
Trotoar terlihat lagi. Anda bisa berjalan kaki tanpa harus turun ke jalan dan takut diserempet motor.
Stasiun Bekasi terlihat lebih lega. Apakah ini pencitraan? Saya tidak berpikir begitu. Etalase adalah hal serius dalam manajemen kota.
Dalam buku-buku manajemen kota yang saya baca, kesan pertama sebuah kota ditentukan dalam 7 menit pertama. Dari stasiun dan terminal.
Jika kesan pertama itu kotor, kumuh, semrawut, maka citra seluruh kota akan kotor.
Investor yang turun dari kereta akan berpikir: apakah saya mau investasi di kota yang pintu masuknya saja tidak terurus?
Warga dari Jakarta yang transit akan berkata ke temannya: “Bekasi masih begitu.” Tri paham itu. Ia membenahi dari pintu masuk.
Bandingkan dengan Tetangga
Saya ingin membandingkan sedikit. Lihat Kabupaten Bekasi. Di sana ada Sentra Grosir Cikarang (SGC) dan Pasar Cibitung. Persoalannya sama: PKL tumpah ke jalan.
Siapa yang turun? Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Ia yang harus turun langsung menata. Baru setelah itu Plt Bupati-nya mengikuti.
Saya membayangkan perasaan warga Kabupaten Bekasi. Kepala daerahnya seperti tidak punya power. Harus menunggu Gubernur.
Di Kota Bekasi, ceritanya beda. Wali Kotanya turun sendiri. Tidak menunggu Gubernur. Tidak menunggu viral dulu.
Ini soal kepemimpinan. Leadership. Ada pemimpin yang menunggu bola, ada yang menjemput bola. Tri Adhianto menjemput bola.
PR yang Masih Panjang
Apakah pekerjaan Tri sudah selesai? Belum. Sama sekali belum. Jika Anda ke Alun-alun Kota Bekasi malam hari, Anda akan melihat PR itu.
Di sana PKL tumpah ruah ke jalan. Jalan yang seharusnya untuk olahraga, untuk keluarga jalan-jalan, berubah jadi pasar malam setiap hari: Macet. Sampah. Tidak tertib. Itu harus menjadi target selanjutnya.
Juga soal parkir liar. Bangunan liar di atas saluran air. Kabel-kabel yang masih menggantung di banyak tempat.
Tapi setidaknya, satu mitos sudah dijebol. Mitos bahwa Pasar Baru dan Stasiun tidak bisa disentuh, ternyata bisa. Asal berani. Asal tidak hanya berpikir untuk 2029, tapi berpikir untuk 20 tahun ke depan.
Kota Butuh Tukang Beres-Beres
Kota itu seperti rumah. Butuh tukang beres-beres. Bukan tukang yang hanya memoles ruang tamu saat ada tamu, tapi membiarkan dapur dan kamar mandi berantakan.
Tri Adhianto dalam 100 hari lebih ini memilih menjadi tukang beres-beres.
Pekerjaan tukang beres-beres itu tidak terlihat keren. Ia akan dimarahi penghuni rumah karena membuang barang-barang lama yang dianggap masih berharga.
“Jangan buang itu! Itu masih bisa dipakai!” Begitu teriakan PKL saat ditertibkan. Dan itu wajar.
Tapi jika tidak ada yang berani membuang dan menata, rumah itu akan selamanya berantakan.
Bekasi sudah terlalu lama berantakan di dua titik itu. Sekarang, untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, saya melihat ada harapan pintu masuk itu menjadi bersih.
Dan itu bukan soal Tri Adhianto dari partai apa. Ini soal keberanian melakukan hal yang tidak populer demi kebaikan yang lebih lama.
Penulis: Mochamad Yacub Ardiansyah
Ikuti Kami di GOOGLE NEWS
Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

