Bekasi  

Warga Dapat Kompensasi dari Pembangunan Tower yang Ambruk di Bekasi, Kini Jadi Malapetaka

Listiawati Ketua RT 08 RW 05, Desa Karang Satria, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi. Listiawati mengaku dapat kompensasi dari pembangunan tower yang belakangan makan korban jiwa.
Listiawati Ketua RT 08 RW 05, Desa Karang Satria, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi. Listiawati mengaku dapat kompensasi dari pembangunan tower yang belakangan makan korban jiwa.

Pembangunan tower provider di atas bangunan musala Yayasan Nurul Iman, Desa Karang Satria, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, telah mendapatkan izin dari warga sekitar.

Selain izin, perusahaan kontraktor juga memberikan kompensasi kepada 46 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di dekat lokasi tower.

Ketua RT setempat, Listiawati, menjelaskan bahwa kompensasi diberikan kepada warga dengan besaran yang bervariasi, tergantung radius rumah dari lokasi tower.

Nilai kompensasi berkisar dari Rp1 juta hingga Rp5 juta per keluarga.

“Ada kompensasi dan nilainya berbeda-beda tergantung jarak rumah warga ke lokasi tower,” ujar Listiawati pada Selasa (28/1/2025).

Setelah kejadian robohnya beton penyangga tower, sebanyak 44 KK telah diungsikan untuk keselamatan.

Pembangunan Tower Permanen Dimulai 2024

Pembangunan tower provider dimulai sejak pertengahan 2024, diawali dengan pendirian tower sementara berukuran lebih kecil.

Tower permanen berwarna merah putih mulai dibangun pada Januari 2025, sebelum akhirnya insiden robohnya beton penyangga terjadi.

“Awalnya dibangun tower sementara dengan ukuran lebih kecil. Dari September sampai Desember tower sementara sudah ada, lalu dilanjutkan pembangunan tower permanen,” kata Listiawati.

Musala Yayasan Nurul Iman yang menjadi lokasi pembangunan tower merupakan fasilitas yang biasa digunakan para santri.

Sejak proyek pembangunan dimulai, aktivitas di musala tersebut dihentikan sementara.

“Itu musala santri Yayasan Nurul Iman, tapi sementara tidak aktif sejak pembangunan tower dimulai,” ungkap Listiawati.

Sebagai pengurus lingkungan, Listiawati mengakui adanya dinamika yang muncul di kalangan warga saat proyek pendirian tower pertama kali dilakukan.

Sosialisasi dan pemberian kompensasi disebut menjadi langkah awal yang dilakukan kontraktor untuk mendapatkan persetujuan dari warga.

Kini, insiden robohnya beton penyangga tower provider menambah kekhawatiran masyarakat sekitar.

Selain evakuasi warga, penyelidikan juga tengah dilakukan oleh pihak kepolisian untuk memastikan penyebab ambruknya konstruksi tower permanen yang baru dibangun tersebut.

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *