Bekasi  

Harga Telur Naik Menjelang Tahun Baru di Bekasi

Pedagang Telur Ayam
Pedagang Telur Ayam

Kota Bekasi – Harga telur ayam ras di Kota dan Kabupaten Bekasi kembali merangkak naik menjelang pergantian tahun 2026. Kenaikan ini bukan hanya dipicu meningkatnya permintaan musiman, tetapi juga derasnya distribusi telur ke luar daerah yang membuat pasokan lokal kian tertekan.

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) yang dikutip Infobekasi mencatat, per 25 Desember 2025, harga telur ayam ras nasional telah mencapai Rp33.050 per kilogram.

Di Kabupaten Bekasi, lonjakan harga bahkan menyentuh kisaran 25 persen dalam hitungan pekan. Dari sebelumnya sekitar Rp28.000 per kilogram, harga kini bertengger di angka Rp32.000 hingga Rp33.050 menjelang akhir Desember.

Kenaikan ini mulai terasa sejak awal bulan. Athaya Fadhila (26), pedagang telur di kawasan Pekopen, Tambun, Bekasi, mengatakan harga bergerak naik secara bertahap dalam dua minggu terakhir.

“Mulai dua minggu terakhir harga telur memang naik pelan-pelan. Sekarang kisaran Rp32.000 per kilo, sebelumnya masih di bawah Rp29.000,” ujarnya.

Menurut Athaya, lonjakan permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru menjadi faktor utama. Namun, ia menilai distribusi telur ke luar daerah ikut mempercepat pengetatan stok di tingkat peternak.

“Barang sebenarnya masih ada, tapi cepat keluar daerah. Jadi stok di peternakan tidak bertahan lama,” katanya.

Bekasi selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penyangga produksi dan distribusi pangan bagi wilayah Jabodetabek.

Ironisnya, pada momentum permintaan tinggi, wilayah produsen justru ikut terdampak gejolak pasokan. Telur dari peternakan Bekasi banyak disalurkan ke daerah lain yang permintaannya melonjak, meninggalkan pasar lokal dengan stok terbatas dan harga yang terkerek naik.

Bagi konsumen, kenaikan ini langsung terasa di dapur rumah tangga. Cut Meutiawati (52), ibu rumah tangga asal Cibitung, mengaku pengeluaran bulanannya meningkat.

“Telur itu kebutuhan pokok. Dikonsumsi hampir setiap hari. Kalau harganya naik, pengeluaran dapur jadi bertambah,” ujarnya.

Telur ayam selama ini menjadi sumber protein paling terjangkau bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Saat harga beras, minyak goreng, dan gula masih fluktuatif, kenaikan telur—meski terlihat kecil per kilogram—memberi efek berlapis bagi pengeluaran harian rumah tangga.

Kondisi ini kembali mengungkap persoalan klasik pengendalian pangan menjelang hari besar.

Pemerintah kerap memastikan stok aman, namun mekanisme distribusi yang tidak berpihak pada kebutuhan lokal membuat harga di tingkat konsumen tetap melambung. Ketika permintaan nasional meningkat, daerah produsen justru kehilangan kendali atas pasokannya sendiri.

Jika tren ini berlanjut hingga malam pergantian tahun, tekanan harga berpotensi belum mereda. Tanpa intervensi distribusi atau operasi pasar yang efektif, telur—komoditas yang selama ini dianggap murah dan stabil—berisiko menjadi beban tambahan bagi rumah tangga Bekasi di awal 2026.

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

(Zachra Mutiara Medina)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *