Bekasi  

Bocah SD Asal Bekasi Cetak Prestasi di Olimpiade Matematika Thailand

Kota Bekasi – Prestasi gemilang datang dari seorang bocah 7 tahun asal Bekasi. M. Khalifah Azka Abqary, siswa kelas 1 SD Negeri Jatiasih 3, berhasil meraih medali bronze dalam Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) 2026 di Bangkok.

Keberhasilan ini menjadi kebanggaan sekolah dan keluarga, serta inspirasi bagi anak-anak lainnya.

Perjalanan ASKA menuju panggung internasional bukanlah sesuatu yang instan. Segalanya dimulai dari seleksi tingkat nasional di Jakarta pada September 2025, di mana ratusan peserta bersaing untuk satu tempat di final internasional.

“ASKA mengikuti penyaringan itu, dan alhamdulillah, usahanya membuahkan hasil dia berhasil lolos dan berhak mewakili Indonesia di Thailand,” ungkap Nancy Aurora, ibunya, saat dihubungi wartawan, Selasa (10/2/2026).

Aska dan keluarga tiba di Bangkok pada 5 Februari 2026 dan menginap di hotel dekat venue Olimpiade, Impec Challenger Wangton Thani, Don Muang.

Hari berikutnya, anak pertama pasangan dari Muhammad Fuadi dan Nancy Aurora itu mengikuti mock test atau geladi bersih sebelum final.

Pada final exam, seluruh peserta dari 30 negara berkumpul, termasuk Kanada, Brazil, Bulgaria, Hongkong, dan negara-negara Asia lainnya.

“Sebelum masuk ruang ujian, anak-anak Indonesia sempat berkumpul, foto bersama, saling mendukung, dan berdoa bersama. Indonesia mengirim sekitar 200 peserta dari semua jenjang, dari TK hingga SMA,” jelas Nancy.

Ujian final berlangsung dua jam dengan 30 soal yang menantang, termasuk aritmatika, kombinatorika, number theory, dan logical thinking materi yang tidak biasa untuk anak kelas 1 SD.

“Aska santai saja saat mengerjakan soal, justru kami orang tua yang lebih gugup,” kata Nancy.

Moment paling menegangkan terjadi saat award ceremony pada Minggu malam. Anak-anak dan orang tua dipisahkan  semua peserta dituntut mandiri.

“Saat namanya dipanggil untuk medali bronze, Aska sedikit panik, memegang bendera secara tidak beraturan dan menjepit sertifikatnya di dagu. Tapi senyum dan rasa bangga tetap terlihat,” ujar Nancy.

Nancy menceritakan minat Aska pada matematika sudah terlihat sejak usia dini. “Dia suka menghitung mainan Hot Wheels dan menyusun benda sambil dihitung-hitung. Usia empat tahun, saya ikutkan lomba berhitung di mall, dan langsung juara satu. Dari situ minatnya semakin berkembang,” kenang Nancy.

Sejak itu, Aska rutin mengikuti berbagai lomba matematika, termasuk Omni Science, hingga akhirnya lolos ke TIMO.

Persiapan Olimpiade dilakukan melalui kombinasi bimbingan di rumah dan di tempat les.

“Di rumah saya coaching, di tempat les dia belajar paspeper tahun sebelumnya. Jadi persiapannya dua arah. Motivasi juga penting, kami beri reward mainan Hot Wheels supaya tetap semangat,” kata Nancy.

Namun, sayangnya, biaya perjalanan tidak ditanggung oleh pemerintah. Seluruh persiapan ke Bangkok sebagian besar ditanggung oleh keluarga secara pribadi.

“Kami sudah berusaha mengurus ke sekolah negeri, bahkan mencoba menghadap ke dinas pendidikan, tapi memang sulit,” ujarnya

Meski begitu, mereka bersyukur karena ada sedikit bantuan dari kantor suami, yang cukup menjadi pegangan untuk perjalanan ke Thailand.

“Alhamdulillah, masih bisa berangkat karena tidak semua anak berprestasi memiliki kesempatan mengikuti Olimpiade internasional,” tambah Nancy.

Nancy berharap ke depan, Aska tetap konsisten dalam prestasinya, dan semoga ada perhatian lebih dari pemerintah Kota Bekasi.

“Kalau nanti Aska mengikuti olimpiade lagi, atau bahkan final internasional berikutnya, semoga ada dukungan yang memadai. Karena tidak semua anak berbakat punya kesempatan yang sama. Ini saja alhamdulillah kami bisa sampai ke Bangkok,” pungkasnya.

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

(Septian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *