# Go-News

Pak Jokowi, Pemulung di Bantar Gebang Minta Diperhatikan

Pak Jokowi, Pemulung di Bantar Gebang Minta Diperhatikan
Ningsih dan dua anaknya: Alifia-Naza di permukiman kumuh Bantar Gebang

Nama Bantar Gebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, nampaknya sudah tidak asing di telinga. Wilayah yang terkenal sampai Mancanegara itu adalah kawasan terbesar pengolahan dan pembuangan sampah.

Lokasinya yang berada di timur Ibu Kota DKI Jakarta itu menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Betapa tidak, disanah terdapat Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).

Dari sampah disanah itu, terdapat sekelompok masyarakat yang memanfaatkan sumber penghasilan. Seperti yang diungkapkan oleh Ningsih (37).

Baca Juga: Dukung Kemajuan Pendidikan, K-eco Pax Global Group Bangun Fasilitas Lab Komputer Sekolah Pemulung di Bantar Gebang

Ia menjelaskan, selain sebagai sumber mencari penghasilan, disana pula lah mereka menghabiskan waktu hidup bersama keluarganya. Menurut Ningsih, tinggal ditengah kepungan sampah adalah hal yang biasa.

“Sudah 10 tahun lebih saya tinggal disini, sudah biasa (hidup dilingkungan) seperti ini,” kata Ningsih kepada gobekasi.id di rumahnya yang hanya berbentuk gubuk tanpa alas, Selasa (23/6/2020).

Pak Jokowi, Pemulung di Bantar Gebang Minta Diperhatikan

Suasana permukiman pemulung di Bantar Gebang

Disanah, Ningsing tinggal bersama sang suami bernama Rohmat (40) serta tiga anaknya yaitu: Naman (18), Alfia (10) dan si bungsu Nazwa (3). Sehari-hari, mereka hanya makan apa adanya.

“Kalau makan ya seada-adanya saja, ya yang penting bisa makan tidak kelaparan,” imbuhnya.

Baca Juga: Total Kelompok John Kei Ditahan 30, Kapolda Ungkap Kasusnya Soal Pembagian Uang Hasil Jual Tanah

Alasan Ningsih memang terbilang masuk akal. Sebab, suaminya hanya seorang pemulung yang berpenghasilan rendah. Atas dasar itu pula, tidak sedikit anak-anak disanah yang harus putus sekolah.

“Sehari suami saya itu bawa pulang uang Rp 80 ribu, tapi sekarang (sejak Covid-19) penghasilan berkurang, kerja nyari rongsok bawa uang paling Rp 40 ribu, karena harganya sekarang (rongsokan) kaya aqua itu turun, biasa satu kilo Rp 1000 sekarang jadi Rp 500,” ungkap Ningsih.

Mirisnya lagi, sambung Ningsih, selama wabah Covid-19 menjalar di Kota Bekasi, tidak ada bantuan yang di dapat dari pemerintah. Ningsih dan pemulung disanah hanya mendapat bantuan dari masyarakat yang lalu lalang.

Baca Juga: Detik-detik Polisi Kepung Tytyan Indah Bekasi, Warga Mengira Ada Penyerangan ke Kelompok John Kei

“(Bantuan dari pemerintah) tidak ada, kemarin hanya dapet dari TNI aja, dapet beras dua liter, minyak sama mie. Lainnya ya cuma orang (warga) yang bagi, itu juga cuma beras,” tuturnya.

Ningsih beranggapan bahwa sudah seharusnya pemerintah saat ini dalam kepemimpinan Presiden Joko Widodo dapat memperhatikan kelompoknya. Artinya tidak tebang pilih dalam memberikan bantuan kepada masyarakat.

Disis lain, Ningsing juga meminta Presiden yang hangat di kenal dengan sebutan Jokowi itu untuk memperhatikan pendidiklan anak-anak pemulung. Sejauh ini, mereka hanya dapat mengenyam pendidikan sampai tingkat setara dengan sekolah dasar.

“Anak saya yang besar lulusan ya sekolah alam (tingkat sekolah dasar), itu juga gratis sekolahnya. Sekarang kerja bantuin bapaknya cari rongsok juga. Mau banget kalau diperhatiin sama pemerintah, biar bisa sekolah anak-anak,” kata Ningsing.

Baca Juga: Polisi Bersenjata Lengkap Jaga Kediaman John Kei Pasca Penggerebekan tadi Malam

Ditempat yang sama, anak kedua dari Ningsih, Alifia (10) mengatakan jika saat ini ia duduk di kelas V. Dengan lugu ia mengatakan cukup berbahagia bisa merasakan proses belajar mengajar.

“Di sekolah alam, belajar agama, belajar matematika, belajar bahasa inggris,” katanya singkat ketika ditanya.

(FIR)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top