# Go-Opini

Politik Punk

Ilustrasi Foto Punk

Punk menjalankan praktik politik berdasarkan kedaulatan individu. Seorang punk bergerak mewakili dirinya sendiri dan tidak dituntut tanggung jawab apapun kecuali kesadaran dan hatinya.

Ketika memiliki frekuensi yang sama dalam melihat persoalan, maka akan bertemu di satu titik. Sama ketika punk dan anarkis bertemu dalam satu titik, dia akan berjalan beriringan, tidak ada asas kepentingan selain jujur berafiliasi di frekuensi yang sama.

Seperti anarkisme, punk juga menolak hierarkis. Dia tidak terwadahi dalam suatu lembaga tertentu. Misalnya, ketika individu punk sudah ideologis maka dia akan berbaur dengan masyarakat untuk memperjuangkan keadilan, bukan membentuk kelompok sendiri.

Bicara punk itu bagaimana dia melakukan proses ‘bunuh diri kelas’ yang dengan sadar membawa diri tanpa mengatasnamakan kelompoknya, tapi sebagai insan yang melebur dalam sebuah perjuangan rakyat.

Pengelompokan merupakan perbuatan sistem kekuasaan untuk memecah belah masyarakat agar tidak memiliki perasaan senasib dan kesamaan harapan. Kemapanan berpikir sebagai warisan sistem itu perlu dibongkar.

Selama ini, Misalnya saja Band Marjinal kerap dilabeli sebagai band anarko punk. Band yang dirikan sejak 1996 itu pernah membuat lagu “Anarki Bukan Barbar”. Namun Mike sang Vokalis sendiri menolak pelabelan itu.

Identitas sebagai seorang punk itu mungkin tidak mungkin, anarkis, atau anarko punk. Terpenting adalah semangat yang dibawa punk adalah katalisator yang mempertemukan setiap perjuangan kemanusiaan.

Punk adalah katalisator. Apa yang dirasakan lalu dikontribusikan dalam barisan rakyat untuk menjemput keadilan. Punk akan ada di situ.

Kontribusi besar untuk menghidupi komunitas punk adalah dengan memanusiakan manusia dan menjadi bagian dari laju perubahan. Setiap orang adalah pemilik atas dirinya sendiri dengan segala pertanggungjawabannya.

Musuh terbesar punk yang paling nyata adalah dirinya sendiri. Ada idiom di punk, ‘be your self’. Maka musuh terbesar untuk menjadi diri sendiri adalah dirinya, ketika dirinya ingin menjadi orang lain.

Sangat jelas tentang apa yang disampaikan di dalam punk, yaitu pulang kembali menjadi diri sendiri. Dengan begitu, punk akan terus berkembang, di mana indivinya berbaur dalam suatu keadaan dan kondisi objektif masing-masing.

Hematnya adalah itu yang akan membuat punk tidak akan pernah mati oleh kekuatan apapun. Walaupun tubuhnya dipenjarakan, tapi jiwa dan pikirannya tetap adalah dirinya. Itu yang disebut dengan Punk Not Dead.

Perkuat Basis Bawah Tanah

Aktivitas membangun kepercayaan masyarakat terhadap komunitas punk adalah sebuah langkah awal membangun gerakan.

Melalui diri sendiri, kita bisa mengembangkan kemampuan hidup masing-masing individu punk dan membangun pola pikir maju di tengah masyarakat

Di sini punk lebih bermasyarakat. Kami bergerak bukan sekadar hura-hura, tapi ada maksud untuk masyarakat dan negara, lewat lagu maupun aksi sosial.

Tidak sedikit komunitas punk menyalurkan bakat melalui usaha sablon, desain grafis, fotografi. Bahkan sampai kursus Bahasa Inggris.

Jiwa punk dapat di mulai dilingkungan sekitar dulu, bicara riil soal kerja-kerja nyata. Bukan enggak perlu turun ke jalan, suatu saat itu pasti, kami tetap berontak. Tapi perbaiki dulu ekonomi.

Hemat saya, setiap pemberontakan harus ada solusi, bukan hanya sekadar protes. Perlu memperbaiki sikap setiap individu sebelum melangkah pada hal-hal yang lebih jauh.

Disisi lain, sosialisasi atau berbaur dengan masyarakat merupakan cara yang dipakai untuk tetap melawan. Tanpa perlu bicara apa itu punk maupun ide anarkisme, kerja kolektif bersama warga adalah strategi subkultur punk itu sendiri. Semua itu dibiarkan berjalan secara natural, karena setiap manusia pada dasarnya memiliki rasa ingin berbagi, bebas, dan tidak mau dibatasi aturan yang mengekang.

(Mochamad Yacub Ardiansyah)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top