Kota Bekasi – Rencana PT Mitra Patriot (Perseroda) Kota Bekasi mengimpor 10.000 ton daging kerbau pada 2026 memantik kegaduhan. Program yang diklaim sebagai langkah menjaga ketahanan pangan daerah itu dinilai janggal setelah data resmi dari pemerintah menunjukkan kebutuhan daging masyarakat Kota Bekasi sangat kecil dibandingkan rencana impor tersebut.
Dalam dokumen Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026 yang diperoleh,PT Mitra Patriot menyebut proyek itu sebagai strategi intervensi pasar demi ketahanan pangan dan stabilisasi harga komoditas daging di Kota Bekasi.
BUMD itu menyatakan impor diperlukan untuk stabilisasi harga serta menyediakan alternatif daging yang lebih murah daripada sapi lokal, terutama menjelang hari raya keagamaan.
PT Mitra Patriot menjadikan impor daging kerbau sebagai top revenue driver perusahaan tahun depan.
Data dan angka yang dipaparkan PT Mitra Patriot ternyata berseberangan dengan fakta konsumsi masyarakat Kota Bekasi yang tercatat oleh Pemerintah sendiri.
Data Pemerintah Justru Menunjukkan Stok Melimpah
Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kota Bekasi pada awal tahun 2025 mencatat bahwa pasokan daging sapi maupun kerbau di Kota Bekasi berada jauh di atas kebutuhan rata-rata penduduk.
Adapun stok telur ayam ras mencapai 22.811 ton per bulan, lebih banyak dari konsumsi masyarakat yang sebesar 22.053 ton.
Sementara itu, stok daging sapi atau kerbau tersedia sebanyak 3.026 ton per bulan, jauh melebihi kebutuhan masyarakat yang hanya 85 ton per bulan.
Stok daging ayam ras juga tercatat aman dengan jumlah 5.900 ton per bulan, dibandingkan konsumsi masyarakat yang hanya 1.548 ton.
Jika PT Mitra Patriot jadi mengimpor 10.000 ton, maka jumlah tersebut 10 kali lipat lebih besar dibandingkan konsumsi masyarakat Kota Bekasi selama satu tahun.
“Jadi 10.000 ton daging kerbau itu nanti mau dijual ke siapa?” kata Mulyadi, Ketua Forum Komunikasi Intelektual Muda Indonesia (Forkim), kepada Gobekasi.id, Rabu (26/11/2025).
Selain itu, kata Mulyadi, tingkat konsumsi daging masyarakat Kota Bekasi lebih dominan pada daging ayam, bukan sapi atau kerbau. Ia mempertanyakan dasar kajian ekonomi dan kelayakan bisnis proyek tersebut.
“Ini bukan kebijakan pangan, ini manuver bisnis tanpa logika pasar. Kalau dipaksakan, berpotensi menjadi pemborosan anggaran,” ujarnya.
Dugaan Analisa Pasar Dangkal dan Risiko Kerugian
Menurut Mulyadi, proposal tersebut tak memiliki proyeksi penjualan yang realistis.
“Target pendapatan tinggi, tapi tidak ada data pasar yang mendukung. Risiko stok menumpuk sangat besar,” kata Mulyadi.
Dalam sektor daging beku, biaya penyimpanan dan distribusi menjadi komponen paling krusial. Jika pasokan tidak terserap, kerugian akan berkembang dari biaya energi penyimpanan, penyusutan kualitas, hingga potensi kedaluwarsa.
Mulyadi mencatat, di sejumlah daerah lain, proyek impor pangan berskala besar oleh BUMD berakhir dengan kerugian besar dan kasus hukum lantaran stok tak terjual.
Pendanaan Mengandalkan Skema Utang dan PMD
Dalam dokumen RKAP PT Mitra Patrot, pembiayaan impor daging kerbau direncanakan melalui oinjaman investasi perbankan BUMN/BUMD, skema Kerjasama Operasi (KSO) dengan pihak swasta hingga Penyertaan Modal Daerah (PMD).
Mulyadi menilai skema pembiayaan berbasis pinjaman untuk sektor komoditas berisiko tinggi dapat menjadi bumerang.
“Kalau stok tidak terserap, BUMD menanggung utang, dan akhirnya APBD harus turun tangan menutupnya,” katanya.
Mulyadi meminta Wali Kota Bekasi mengambil tindakan.
“Wali Kota harus menegur Direksi PT Mitra Patriot. RKAP seperti ini tidak bisa diloloskan tanpa audit dan kajian mendalam,” ujarnya.
Ia menduga proyek impor daging kerbau skala jumbo bisa menjadi pintu masuk konflik kepentingan bisnis tertentu.
Pertanyaan Besar yang Masih Misterius
Mengapa impor dilakukan dalam skala 10 kali lipat dari konsumsi pasar?
Siapa mitra swasta yang akan dilibatkan dalam KSO?
Apakah ada kajian risiko independen sebelum angka 10.000 ton ditetapkan?
Mengapa fokus pendapatan perusahaan tidak diarahkan pada sektor yang sesuai karakter konsumsi masyarakat, seperti unggas?
Apakah proyek ini terkait dengan kepentingan bisnis tertentu di balik layar?
Antara Strategi atau Potensi Skandal
Menurut Mulyadi, rencana impor daging kerbau PT Mitra Patriot menghadirkan dua gambaran kontras: Di satu sisi, manajemen menyebutnya strategi stabilisasi harga dan ketahanan pangan.
Di sisi lain, data pemerintah sendiri menunjukkan pasokan berlimpah dan konsumsi rendah, sehingga proyek justru terlihat seperti rencana bisnis berisiko tinggi yang bisa menyeret uang publik ke jurang kerugian.
Mulyadi menunggu keberanian pemerintah menjawab pertanyaan yang mengemuka, apakah proyek ini strategi ekonomi, atau justru awal dari skandal besar pengelolaan BUMD?
Gobekasi juga sudah berusaha menggali informasi skema impor yang menjadi rujukan Dinas Perdagangan dan Perindustrian. Namun kepala dan sekretaris (Disdagperin) urung memberikan jawaban.
Ikuti Kami di GOOGLE NEWS
Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.












