Kota Bekasi – Skatepark baru yang dibangun di bawah flyover KH.Noer Ali-kawasan Summarecon, Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan, menjadi penanda bertambahnya ruang publik alternatif di Kota Bekasi.
Di tengah minimnya fasilitas olahraga ekstrem, kehadiran arena ini disambut komunitas skateboard. Namun, apresiasi itu disertai catatan: fasilitas tersebut belum memenuhi standar arena kompetisi.
Arena yang berdiri di kolong jalan layang itu membentang sekitar 30 meter dengan lebar 15 meter, mengusung konsep street course. Secara visual, skatepark ini tampak menjanjikan.
Lokasinya berada di pusat kota, mudah dijangkau, dan dekat dengan kawasan komersial. Bagi skater lokal, keberadaan ruang semacam ini bukan sekadar tempat berlatih, melainkan simbol pengakuan atas eksistensi olahraga yang selama ini kerap terpinggirkan.
Pendiri Patriot Skate Club Bekasi, Ade Tri Utama—akrab disapa Odenk—menilai pembangunan skatepark tersebut sebagai langkah maju pemerintah kota.
“Kami bangga karena lokasinya strategis dan berada di jantung kota. Ini jarang terjadi,” kata Odenk, Selasa, 6 Januari 2026.
Berbeda dengan proyek fasilitas publik pada umumnya, komunitas skateboard dilibatkan sejak tahap perencanaan.
Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA) membuka ruang dialog dengan skater, termasuk dalam proses desain lintasan. Menurut Odenk, komunitas ikut memastikan karakter lintasan sesuai kebutuhan teknis para pengguna.
“Kami ikut mengawal desain lintasan. Hasilnya juga kami laporkan langsung ke Wali Kota melalui media sosial,” ujarnya.
Namun, keterlibatan komunitas tidak serta-merta menjadikan skatepark ini siap untuk ajang prestasi. Dari sisi teknis, arena tersebut belum memenuhi standar nasional untuk kompetisi resmi.
Salah satu penyebabnya adalah pengerjaan konstruksi yang belum ditangani kontraktor bersertifikat khusus skatepark.
“Di Indonesia baru ada dua kontraktor yang memiliki sertifikasi KIS, yaitu Labs Skate dan Motion Skatepark,” kata Odenk.
Ia mencontohkan skatepark di Flyover Pasar Rebo, Slipi, Koja Jakarta Utara, serta Stadion Wibawa Mukti di Kabupaten Bekasi—yang kini menjadi pusat latihan tim nasional skateboard—sebagai proyek yang dibangun dengan standar kompetisi.
Selain aspek lintasan, fasilitas pendukung juga masih minim. Area parkir, toilet, dan musala belum tersedia secara memadai. Untuk sementara, pengunjung mengandalkan fasilitas di Stadion Patriot atau Gedung Pemerintah Kota Bekasi.
Pemerintah daerah berjanji akan melengkapi sarana penunjang tersebut pada tahap berikutnya.
Keterbatasan ini membuat skatepark kolong flyover lebih tepat diposisikan sebagai ruang pembinaan dasar, bukan arena prestasi.
Meski demikian, fungsinya tetap strategis, terutama menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Barat 2026, di mana cabang skateboard akan resmi dipertandingkan.
Bagi komunitas, kehadiran skatepark ini setidaknya membuka peluang regenerasi atlet sejak usia dini.
“Untuk latihan dasar dan pembinaan, ini sudah sangat membantu,” ujar Odenk.
Ia juga mengapresiasi konsistensi Wali Kota Bekasi dalam mendukung penyediaan sarana olahraga non-konvensional.
Menurutnya, tidak banyak kepala daerah yang memberi perhatian pada skateboard sebagai cabang olahraga serius.
“Indonesia termasuk negara yang paling banyak membangun skatepark di Asia, selain Jepang. Tapi kualitas dan standar tetap harus dijaga,” kata Odenk.
Skatepark di bawah flyover akhirnya menjadi cermin dilema pembangunan fasilitas publik: antara kecepatan menghadirkan ruang baru dan kebutuhan menjaga standar. Di satu sisi, ia menjawab dahaga ruang berekspresi kaum muda. Di sisi lain, tanpa perencanaan teknis yang matang, fasilitas itu berisiko berhenti sebatas simbol, bukan mesin prestasi.
Ikuti Kami di GOOGLE NEWS
Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
(Septian)












