Kota Bekasi — Banjir yang melanda Kota Bekasi sepanjang akhir pekan bukan hanya menyisakan genangan, kendaraan mogok, dan laporan evakuasi. Di Perumnas 3, Aren Jaya, Bekasi Timur, seorang pria lanjut usia bernama Namat (79) meninggal dunia setelah terseret arus banjir, Minggu (18/1/2026) pagi.
“Tim BPBD mendapat laporan adanya korban meninggal yang terseret arus,” kata Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Bekasi, Idham Kholid, saat dikonfirmasi di Bekasi.
Hujan Panjang, Air Menyergap Subuh
Bekasi diguyur hujan intensitas tinggi sejak Sabtu malam hingga Minggu pagi. Tak ada peringatan dini lokal yang memadai, sementara aliran air dari wilayah timur Bekasi menuju hilir tak lagi tertampung.
Genangan muncul di puluhan titik, salah satunya di kawasan Perumnas 3—lingkungan padat dengan kanal drainase tua yang kerap meluap.
Dari laporan relawan, Namat tengah berada tidak jauh dari bagian jalan yang tergenang ketika arus air mendadak menguat.
Warga sempat berusaha menariknya, namun banjir menyeret tubuhnya ke jalur aliran yang lebih deras. Ia ditemukan dan dievakuasi pukul 09.00 WIB, dalam kondisi tak bernyawa.
“Nyawanya tidak tertolong,” ujar Idham.
Korban Banjir Meninggal Pertama 2026
Ini adalah korban jiwa pertama yang tercatat akibat banjir Bekasi sepanjang Januari 2026. Peristiwa ini membuka kembali pertanyaan lama soal penanganan banjir di kota dengan pertumbuhan permukiman pesat dan sistem drainase yang tak ikut berkembang.
Data BPBD menyebut setidaknya lima kecamatan terdampak banjir pada Minggu pagi, yaitu Medan Satria, Bekasi Timur, Bekasi Utara, Rawalumbu, dan Bekasi Barat.
Ketinggian air bervariasi dari 20 hingga 100 sentimeter. Beberapa lokasi mengajukan permintaan evakuasi warga rentan, seperti lansia dan anak-anak.
Namun tidak semua permukiman memiliki jalur evakuasi atau titik kumpul yang jelas. Di beberapa RW, warga masih mengandalkan grup WhatsApp lingkungan untuk koordinasi bantuan, sementara sirine atau sistem peringatan lokal praktis tak tersedia.
Tata Ruang yang Membiarkan Air Mencari Jalannya Sendiri
Banjir yang berulang di Bekasi adalah hasil dari tumpukan masalah: sedimentasi kali, drainase tertutup, alih fungsi lahan, hingga perizinan permukiman yang beririsan dengan daerah serapan.
Namun proyek mitigasi lebih sering berskala parsial — menunggu anggaran tahun berjalan dan mempertimbangkan siklus politik. Sementara itu, air tak mengikuti kalender.
BPBD Minta Warga Waspada
BPBD meminta warga tetap waspada terhadap cuaca ekstrem dan melapor jika membutuhkan pertolongan. Tetapi bagi keluarga korban, peringatan itu datang terlambat. Penanganan banjir di Bekasi kembali menunjukkan pola klasik: mitigasi reaktif, bukan preventif.
Banjir yang datang setiap tahun sejatinya bukan lagi bencana alam murni, melainkan bencana tata kelola. Negara hadir, tetapi kerap beberapa jam setelah air naik.
Ikuti Kami di GOOGLE NEWS
Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
(Zachra Mutiara Medina)












