Bekasi  

Warga Bantaran Kali Bekasi Siap Bongkar Rumah demi Tanggul Permanen

Kota Bekasi - Banjir di Gang Mawar, Bekasi Timur akibat meluapnya Kali Bekasi. Foto: Septian/Gobekasi.id.
Banjir di Gang Mawar, Bekasi Timur akibat meluapnya Kali Bekasi. Foto: Septian/Gobekasi.id.

Kota Bekasi — Warga yang bermukim di bantaran Kali Bekasi, Gang Mawar, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Selatan, mengaku telah terbiasa hidup berdampingan dengan banjir tahunan.

Namun, di balik sikap pasrah itu, mereka menuntut solusi permanen: pembangunan tanggul yang tinggi dan kokoh. Demi mewujudkannya, warga bahkan menyatakan siap membongkar sebagian bangunan rumah secara mandiri.

Saari, 72 tahun, salah satu warga bantaran kali, mengatakan dirinya rela membongkar dapur rumah yang selama ini digunakan sebagai tempat produksi tempe. Menurut dia, kehilangan ruang usaha masih lebih ringan dibanding kerugian berulang akibat banjir.

“Silakan dibagusin, tapi jangan tanggung-tanggung. Biar debit besar juga ketahan. Yang penting tanggulnya tinggi,” kata Saari, Selasa (3/2/2026).

Saari menyebut banjir rutin datang setiap tahun dengan ketinggian air sekitar satu meter. Dalam siklus lima tahunan, banjir besar bahkan mampu menenggelamkan lantai pertama rumah warga.

Ia mengingat dua peristiwa terparah terjadi pada 2020 dan 2025. Tahun lalu, ia mengaku harus merogoh kocek hingga Rp100 juta untuk memperbaiki bangunan rumah yang rusak diterjang arus.

Di sepanjang bibir Kali Bekasi, berdiri bangunan semi permanen yang mayoritas difungsikan sebagai tempat usaha tahu dan tempe. Saat banjir datang, produksi terhenti total. Dampaknya bukan hanya kerugian harian, tetapi juga hilangnya pelanggan.

“Bukan cuma soal rugi hari itu. Langganan bisa hilang. Sekarang cari pembeli tetap susah,” ujarnya.

Meski berkali-kali terdampak banjir, solidaritas warga tetap terjaga. Setiap air surut, warga bergotong royong membersihkan lumpur agar aktivitas usaha dapat kembali berjalan.

Pasca kunjungan Wali Kota Bekasi pada Jumat, 30 Januari 2026, tim dari Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA), Dinas Tata Ruang (Distaru), serta pihak kelurahan melakukan pengukuran area bantaran kali yang direncanakan untuk ditertibkan.

Ketua RW 03 Margahayu, Suwarjo, mengatakan jarak bangunan warga terdekat ke bibir kali mencapai sekitar 19 meter dari batas tanah asli. Ia memastikan warga yang bangunannya paling dekat dengan sungai telah menyatakan kesediaan menertibkan bangunan secara mandiri.

“Warga sangat menunggu tanggul ini. Kalau tidak ada pengaman, usaha mereka pasti terus terganggu,” kata Suwarjo.

Berdasarkan pendataan sementara, sedikitnya 18 kepala keluarga bermukim atau menjalankan usaha di area bantaran Kali Bekasi. Saat banjir besar 2025, genangan air bahkan merendam kawasan yang secara kontur lebih tinggi hingga setinggi dagu orang dewasa. Saat itu, debit Kali Bekasi disebut mencapai 1.200 kubik.

Ironisnya, banjir kerap terjadi meski cuaca di Bekasi cerah. Warga menyebut luapan air dipicu oleh kiriman debit besar dari wilayah hulu.

Kini, warga menaruh harapan besar agar rencana pembangunan tanggul benar-benar terealisasi pada 2026, bukan sekadar janji berulang.

“Masyarakat sudah terlalu lama menunggu. Jangan sampai cuma wacana,” ujar Suwarjo.

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

(Adinda Fitria Yasmin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *