Bekasi  

Wali Kota Bekasi: Trans Beken Bukan Program Baru, Klaim Bisa Ciptakan Pasar Baru

Kota Bekasi - Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto resmi melepas Trans Beken untuk kembali mengaspal, Selasa (10/2/2026). Foto: Gobekasi.id.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto resmi melepas Trans Beken untuk kembali mengaspal, Selasa (10/2/2026). Foto: Gobekasi.id.

Kota Bekasi — Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menanggapi aksi protes ratusan sopir angkutan kota (angkot) yang menolak pengoperasian kembali Bus Trans Bekasi Keren (Trans Beken).

Menurut dia, layanan transportasi massal tersebut bukan program baru, melainkan kelanjutan kebijakan yang telah dirancang sejak pemerintahan sebelumnya.

“Ini bukan program tiba-tiba. Perencanaannya sudah sejak periode sebelumnya dan sempat berjalan sebelum terhenti pada 2023,” kata Tri.

Trans Beken kembali dioperasikan di tengah dinamika penolakan dari sebagian sopir angkot yang merasa rute bus bersinggungan langsung dengan trayek mereka.

Namun Tri menilai kebutuhan transportasi massal di Kota Bekasi semakin mendesak, seiring pertumbuhan kawasan perkotaan dan meningkatnya mobilitas warga.

Jawaban atas Kepadatan Kawasan Transit

Kota Bekasi - Trans Beken berjajar di Stadion Patriot Candrabhaga, Selasa (10/2/2026). Foto: Ist/Gobekasi.id.
Trans Beken berjajar di Stadion Patriot Candrabhaga, Selasa (10/2/2026). Foto: Ist/Gobekasi.id.

Tri menyebut perkembangan aktivitas di sekitar Stasiun Kranji dan Stasiun Bekasi menjadi salah satu alasan penguatan transportasi publik.

Dua kawasan itu kini menjadi simpul mobilitas komuter yang semakin padat, terlebih dengan konektivitas LRT Bekasi Timur dan Bekasi Barat.

Menurut dia, rute Trans Beken dirancang menghubungkan Terminal Bekasi, jaringan LRT, hingga kawasan Harapan Indah. Skema ini diharapkan menciptakan integrasi antarmoda dan memberikan alternatif perjalanan yang lebih terstruktur.

“Ini menjawab kebutuhan transportasi massal yang modern, aman, nyaman, dan teratur waktunya. Harapannya memudahkan masyarakat dan memberi banyak pilihan transportasi,” ujarnya.

Dalam konteks kota penyangga Jakarta seperti Bekasi, integrasi transportasi publik kerap menjadi prasyarat untuk mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.

Pemerintah kota menilai sistem berbasis jadwal dan halte tetap menjadi keunggulan dibanding pola angkutan konvensional yang lebih fleksibel namun tidak terstandar waktu.

Soal Sosialisasi dan Kekhawatiran Angkot

Kota Bekasi - Aksi protes sopir Angkot saat peluncuran Trans Beken di Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Selasa (10/2/2026). Foto: Gobekasi.id.
Aksi protes sopir Angkot saat peluncuran Trans Beken di Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Selasa (10/2/2026). Foto: Gobekasi.id.

Menanggapi kekhawatiran sopir angkot soal potensi penurunan pendapatan, Tri menilai akar persoalan terletak pada minimnya sosialisasi sebelum peluncuran kembali layanan.

Ia mengakui komunikasi dengan para pengemudi perlu diperkuat agar kebijakan transportasi tidak memicu resistensi.

Meski demikian, ia berpendapat kehadiran Trans Beken tidak semata mengambil pasar yang sudah ada, melainkan berpotensi menciptakan pasar baru.

“Ini bisa menarik penumpang baru, terutama masyarakat yang beralih dari kendaraan pribadi atau dari transportasi lain yang lebih mahal seperti ojek online,” kata Tri.

Argumen ini bertumpu pada asumsi bahwa tarif dan kenyamanan transportasi massal dapat mendorong pergeseran moda.

Namun dalam praktiknya, keberhasilan pergeseran tersebut sangat ditentukan oleh konsistensi layanan—mulai dari ketepatan waktu, frekuensi keberangkatan, hingga integrasi tiket.

Ujian Integrasi Transportasi Bekasi

Polemik antara angkot dan Trans Beken mencerminkan fase transisi sistem transportasi di kota-kota penyangga Jakarta. Modernisasi layanan kerap berbenturan dengan moda eksisting yang menjadi sumber penghidupan ribuan pengemudi.

Di satu sisi, pemerintah daerah dituntut menghadirkan sistem transportasi publik yang efisien dan terintegrasi. Di sisi lain, kebijakan tersebut menyentuh dimensi sosial-ekonomi yang sensitif.

Ke depan, efektivitas Trans Beken tidak hanya diukur dari jumlah armada atau panjang rute, tetapi juga dari kemampuan pemerintah kota membangun skema integrasi—baik integrasi trayek, tarif, maupun peran pengemudi angkot dalam ekosistem transportasi baru.

Peluncuran kembali Trans Beken mungkin menjadi langkah awal. Namun keberlanjutan dan penerimaan sosialnya akan menjadi penentu apakah kebijakan ini benar-benar menjawab kebutuhan mobilitas Kota Bekasi, atau sekadar menambah babak baru dalam konflik transportasi perkotaan.

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

(Sufi P.A)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *