Kota Bekasi — Genap setahun duet Tri Adhianto–Abdul Harris Bobihoe memimpin Kota Bekasi. Alih-alih menuai konsensus atas capaian kerja, periode awal pemerintahan ini justru dibayangi kritik tajam. Forum Komunikasi Intelektual Muda Indonesia (Forkim) menjadi salah satu yang paling vokal.
Ketua Forkim, Mulyadi, menilai langkah politik pada awal masa jabatan telah memantik persepsi negatif. Penempatan adik kandung dan adik ipar wali kota pada jabatan strategis disebut memunculkan kesan nepotisme—isu yang, menurutnya, lebih menyentuh legitimasi moral ketimbang sekadar aspek legalitas.
“Publik menangkap kesan kekuasaan dipusatkan di lingkaran keluarga. Itu menjadi catatan awal yang sulit dihapus,” ujar Mulyadi, Jumat (20/2/2026).
Dalam politik, persepsi adalah modal. Ketika kepercayaan terganggu di awal, setiap kebijakan berikutnya akan selalu dibaca dengan kacamata curiga.
Proyek Miliar Rupiah, Skala Prioritas Dipersoalkan
Forkim juga menyoroti arah belanja pembangunan yang dinilai lebih condong pada proyek bernilai besar ketimbang kebutuhan dasar warga. Pembangunan taman di bawah Tol Becakayu dengan anggaran sekitar Rp26 miliar menjadi contoh yang dipertanyakan.
Di saat lebih dari 4.400 unit rumah tidak layak huni (rutilahu) masih tercatat di berbagai wilayah kota, proyek ruang terbuka itu dinilai belum menjadi kebutuhan paling mendesak.
“Kalau Rp26 miliar itu dialihkan untuk perbaikan rutilahu, manfaatnya bisa langsung dirasakan ribuan warga,” kata Mulyadi.
Pertanyaannya sederhana: apakah pembangunan diarahkan untuk mempercantik lanskap kota, atau memperkuat fondasi kesejahteraan warganya?
Problem Klasik yang Terus Berulang
Evaluasi Forkim meluas pada persoalan struktural: banjir tiap turun hujan, jalan rusak yang memicu kecelakaan, pengelolaan sampah yang belum sistemik, kemacetan, hingga reformasi pelayanan publik yang belum terasa signifikan.
“Janji perubahan terasa seperti retorika. Problem kota justru makin kompleks. Bahkan tepat setahun kepemimpinan ini dibayangi banjir,” ujar Mulyadi.
Menurutnya, kebijakan pemerintah masih cenderung reaktif—hadir ketika krisis muncul, bukan mencegah sebelum terjadi.
Menurutnya, evaluasi publik tak lagi bertumpu pada janji kampanye, melainkan pada indikator konkret: apakah banjir berkurang, apakah jalan rusak tertangani, apakah pelayanan publik membaik.
Jika tidak, persepsi “rakus kekuasaan” yang telanjur melekat berpotensi berubah menjadi krisis kepercayaan yang lebih dalam.
“Jangan sampai publik mengibaratkan wali kota sebagai ‘Bebek Lumpuh’,” pungkasnya.
Permohonan Maaf dan Realitas Lapangan
Di tengah kritik, Tri Adhianto menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat. Ia mengakui masih ada kebijakan yang belum sepenuhnya membahagiakan warga.
“Tentu kami juga memohon maaf apabila dalam prosesnya masih ada hal-hal yang belum menyenangkan atau belum membahagiakan. Harapannya, kami ingin terus berkeadilan,” ujar Tri, Rabu (18/2/2026).
Tri menegaskan pembangunan kota bukan kerja satu orang, melainkan sinergi bersama wakil wali kota, ASN, dan masyarakat. Ia juga mengakui persoalan infrastruktur dan banjir masih menjadi keluhan utama.
Beberapa ruas jalan telah diperbaiki, sementara untuk jalan nasional pemerintah kota mengklaim terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Di sektor pengendalian banjir, langkah seperti pembangunan tanggul, normalisasi sungai, pengurukan, dan sumur resapan disebut tengah berjalan.
Namun publik menunggu hasil, bukan rencana.
UHC, Pendidikan, dan PLTSa
Di bidang kesehatan, komitmen Universal Health Coverage (UHC) dipertahankan. Warga disebut tetap bisa mengakses layanan kesehatan dengan KTP jika kepesertaan BPJS terkendala.
Di sektor pendidikan, Tri menegaskan tak boleh ada pungutan yang membebani siswa. Transparansi dana BOS dan penyediaan fasilitas dasar seperti sanitasi menjadi perhatian.
Adapun persoalan sampah diarahkan pada solusi jangka panjang melalui rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Proyek ini digadang sebagai langkah strategis mengurangi beban TPA dan volume sampah harian.
Ikuti Kami di GOOGLE NEWS
Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.












