Kota Bekasi — Waktu berjalan cepat. Pada 20 Februari 2026, duet kepemimpinan Tri Adhianto Tjahyono dan Harris Bobihoe genap satu tahun memimpin Kota Bekasi sejak dilantik pada 20 Februari 2025.
Satu tahun pertama selalu menjadi fase krusial. Di titik ini, publik mulai menakar: mana janji yang terealisasi, mana yang masih menjadi pekerjaan rumah.
Ketua DPRD Kota Bekasi, Sardi Efendi, memberikan penilaian yang berimbang — ada capaian yang patut diapresiasi, namun ada pula catatan kritis yang tak bisa diabaikan.
Janji yang Mulai Terwujud
Sardi mengakui beberapa program prioritas telah terealisasi.
Program bantuan Rp100 juta per RW sudah berjalan. Insentif bagi RT dan RW juga mengalami peningkatan. Di sektor transportasi, layanan Trans Beken (Bus Keren) resmi beroperasi sebagai wajah baru angkutan publik di Kota Bekasi.
“Ya memang catatan yang sudah terlaksana itu, yang pertama 100 juta per RW, itu kan sudah terlaksana kemudian kedua naiknya insentif RT RW, kemudian yang ketiga Bus keren,” ujar Sardi, Jumat (20/2/2026).
Secara politik dan administratif, realisasi program tersebut menjadi bukti bahwa pemerintahan Tri–Harris tidak sekadar mengumbar janji.
Namun, realisasi program adalah satu hal. Dampak jangka panjangnya adalah hal lain.
Trans Beken dan Ujian Integrasi Transportasi
Salah satu program yang menuai sorotan adalah Trans Beken. Kehadirannya diharapkan menjadi solusi transportasi massal yang lebih modern dan terjadwal.
Namun, implementasinya sempat memicu keberatan dari sebagian sopir angkot melalui Organda. Bagi Sardi, ini sinyal bahwa kebijakan transportasi harus dievaluasi secara menyeluruh.
“Tapi ini kan masih ada koreksi dari Organda ya tentang penerapan Tran Beken. Bagaimana transportasi massal ini dapat teruji di Kota Bekasi, ada bus dan angkot beriringan,” katanya.
Masalahnya bukan sekadar operasional bus. Ini soal integrasi moda, keberlanjutan ekonomi sopir angkot, dan desain transportasi kota yang berkeadilan.
Jika tidak dikelola dengan cermat, kebijakan transportasi bisa berubah dari solusi menjadi sumber konflik baru.
PR yang Tak Bisa Ditunda
Di luar transportasi, Sardi mengingatkan masih banyak agenda strategis yang perlu dikejar.
Penataan taman kota masih belum optimal. Penguatan sektor UMKM butuh langkah konkret agar benar-benar berdampak. Digitalisasi layanan publik harus dipercepat, bukan sekadar jargon. Dan yang paling mendasar, perbaikan sarana serta prasarana pendidikan perlu target jelas dan terukur.
“Ada lagi janji-janji yang lain kaitan dengan penataan taman, kemudian UMKM, kemudian digitalisasi, kemudian perbaikan peningkatan mutu pendidikan di mana seluruh sarana-sarana pendidikan di Kota Bekasi ini harus diperbaiki dengan target-target tertentu,” pungkasnya.
Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa pembangunan kota tidak cukup dinilai dari satu atau dua program unggulan. Jika tahun pertama adalah fase eksekusi janji prioritas, maka tahun kedua akan menjadi fase pembuktian dampak.
Satu tahun kepemimpinan adalah awal. Apresiasi telah diberikan, tetapi evaluasi akan terus berjalan. Karena bagi warga Kota Bekasi, yang paling penting bukan sekadar program berjalan — melainkan perubahan yang terasa.
Ikuti Kami di GOOGLE NEWS
Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
(Advertorial)













