Bekasi  

Terjepit Proyek dan Lonjakan Kendaraan: Ujian Pagi di Jalan I Gusti Ngurah Rai

Kota Bekasi - Kemacetan di Jalan I Gusti Ngurah Rai akibat p[erbaikan jalan dan volume kendaraan yang tinggi. Foto: Ist/Gobekasi.id.
Kemacetan di Jalan I Gusti Ngurah Rai akibat p[erbaikan jalan dan volume kendaraan yang tinggi. Foto: Ist/Gobekasi.id.

Kota Bekasi – Bagi komuter Bekasi yang saban pagi menuju Jakarta, melintasi Jalan I Gusti Ngurah Rai adalah bagian dari rutinitas yang nyaris tak terhindarkan. Namun beberapa pekan terakhir, perjalanan itu terasa lebih panjang dari biasanya.

Perbaikan jalan di kawasan Pondok Kopi menuju Kranji mempersempit lajur. Ruang yang menyusut bertemu dengan lonjakan volume kendaraan dari permukiman sekitar. Hasilnya: arus lalu lintas seperti terkunci. Antrean mengular puluhan meter, terutama pada jam sibuk pagi hari.

Dinas Perhubungan melalui UPTD Lalu Lintas dan Angkutan pada Bekasi Barat mengakui kombinasi dua faktor itu menjadi pemicu utama. Kepala UPTD LLAP Bekasi Barat, Nurudin, menyebut peningkatan volume kendaraan dari kawasan hunian turut memperparah situasi.

“Alternatifnya memang ada dua, lewat I Gusti Ngurah Rai atau Jalan Bintara Raya. Namun pengendara tetap harus waspada karena potensi kepadatan juga kerap terjadi di titik perempatan jalur tersebut,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).

Pada Selasa pagi, kecepatan kendaraan terpantau masih di kisaran 50–60 kilometer per jam. Namun kondisi itu dinilai fluktuatif—mudah berubah ketika arus kendaraan dari Bekasi Barat dan Kranji bertemu di simpul penyempitan.

Jalan Alternatif yang Tak Sepenuhnya Bebas

Salah satu opsi yang disarankan adalah Jalan Bintara Raya. Jalur ini menembus kawasan permukiman dan sentra ekonomi warga. Lebarnya lebih sempit dibanding I Gusti Ngurah Rai, tetapi relatif minim kendaraan besar seperti truk dan bus.

Dari arah Stasiun Kranji atau Jalan Sudirman Bekasi, pengendara dapat masuk melalui pertigaan Pasar Kranji Baru, lalu berbelok ke Bintara Raya. Jalur ini membawa kendaraan melewati Perempatan Bintara VII dan area Pasar Bintara—dua titik yang menuntut kewaspadaan ekstra karena aktivitas warga dan parkir kendaraan kerap menghambat arus.

Di ujung lintasan, kendaraan akan bertemu flyover Bintara/Pondok Kopi. Dari sana, pengendara bisa memilih keluar ke arah Pondok Kopi dan kembali ke I Gusti Ngurah Rai, atau lurus menuju akses Kalimalang untuk menghindari simpul kemacetan di bawah flyover Kranji.

Namun jalan alternatif bukan tanpa risiko. Ketika sebagian besar pengendara berpindah rute pada jam yang sama, kepadatan bisa berpindah lokasi.

Manajemen Lalu Lintas di Tengah Proyek

Menanggapi keluhan warga terkait keterlambatan penanganan sebelumnya, UPTD Bekasi Barat kini menyiagakan personel di titik rawan. Tujuannya sederhana: memastikan penyempitan lajur akibat proyek tidak melumpuhkan arus sepenuhnya.

Imbauan yang disampaikan juga klasik namun relevan—pengguna jalan diminta menyesuaikan waktu keberangkatan dan lebih cermat memilih jalur.

Di balik kemacetan yang berulang, tersimpan persoalan yang lebih besar: pertumbuhan kawasan hunian yang cepat tidak selalu diimbangi kapasitas jalan memadai. Ketika proyek perbaikan dilakukan, sistem lalu lintas yang sudah padat menjadi rentan lumpuh.

Bagi warga, waktu tempuh yang bertambah bukan sekadar soal ketidaknyamanan. Ia berpengaruh pada produktivitas, biaya bahan bakar, hingga kualitas hidup.

Perbaikan jalan pada akhirnya memang diperlukan. Namun selama pekerjaan berlangsung, kota diuji: apakah mampu mengelola transisi tanpa membuat pagi hari warganya berubah menjadi medan kesabaran?

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *