Bekasi  

16 Puskesmas di Bekasi Siaga 24 Jam Selama Mudik Lebaran dan Ancaman Malaria

Kota Bekasi - Posko kesehatan di Jalur Mudik. Foto: Ist/Gobekasi.id.
Posko kesehatan di Jalur Mudik. Foto: Ist/Gobekasi.id.

Kota Bekasi – Di sela keriuhan persiapan mudik Lebaran 2026, Dinas Kesehatan Kota Bekasi mencoba memasang pagar pengaman. Kepala Dinas Kesehatan, Satia Sriwijayanti Anggraeni, menyatakan komitmennya untuk tidak meliburkan layanan vital di tengah eforia pulang kampung.

Dari 55 Puskesmas yang tersebar di wilayah penyangga ibu kota ini, 16 di antaranya diperintahkan siaga penuh: 24 jam tanpa jeda.

Namun, di balik angka-angka kesiapan tersebut, Bekasi tengah menghadapi ujian ganda: menangani kegawatdaruratan di aspal panas sekaligus menjaga status “Bebas Malaria” yang kini terancam oleh mobilitas massa.

Kegawatdaruratan di Pintu Gerbang

Kebijakan menyiagakan 16 Puskesmas 24 jam, terutama untuk layanan obstetri neonatal emergensi dasar (PONED), menunjukkan bahwa risiko persalinan dan kegawatdaruratan ibu-anak tidak mengenal kata cuti.

Dalam bincang-bincang Ridho Berpeci di kanal YouTube Pemkot Bekasi, Jumat (13/3/2026), Satia menegaskan bahwa dukungan tenaga medis juga akan disebar ke empat titik jalur mudik utama.

Setiap posko bukan sekadar tenda singgah. Ada satu dokter, satu paramedis, dan satu ambulans yang bersiap melakukan tindakan cepat jika terjadi kecelakaan lalu lintas—sebuah momok yang selalu menghantui jalur-jalur seperti Kalimalang dan Jalan Sultan Agung.

Namun, mampukah rasio satu dokter per posko ini membendung lonjakan pasien jika terjadi kecelakaan massal di tengah kemacetam horor?

Hantu Malaria dari Daerah Endemis

Satu hal yang menarik dari strategi tahun ini adalah kewaspadaan tinggi terhadap penyakit menular. Bekasi, yang saat ini memegang status daerah bebas malaria, kini berada dalam posisi rentan.

Arus balik nanti akan membawa ribuan orang dari wilayah endemis seperti Lampung, Maluku, hingga Nusa Tenggara.

“Kota Bekasi merupakan daerah bebas malaria. Karena itu kami melakukan surveilans di titik kedatangan,” ujar Satia.

Langkah ini krusial. Tanpa pengawasan ketat di terminal dan stasiun, status “bebas malaria” Bekasi bisa runtuh hanya dalam satu siklus mudik.

Strategi deteksi dini ini menjadi pertaruhan reputasi bagi Dinkes Bekasi untuk memastikan bahwa yang dibawa pulang oleh pemudik hanyalah rindu, bukan parasit Plasmodium.

Keamanan Pangan: Antara Pasar dan Meja Makan

Tak berhenti di urusan medis darurat, Dinkes juga mulai merambah ke sektor keamanan pangan. Pengawasan di pasar tradisional hingga supermarket dilakukan untuk memastikan makanan yang beredar—mulai dari kue kering hingga daging mentah—bebas dari bahan berbahaya.

Langkah ini seolah ingin menutup setiap celah risiko yang mungkin muncul.

Bekasi kini tengah bersiap menjadi benteng kesehatan bagi jutaan manusia yang akan melintasinya. Dengan 44 rumah sakit swasta dan 5 RSUD yang diklaim tetap buka, pemerintah daerah mencoba memberikan rasa aman.
Namun, efektivitas dari benteng ini hanya akan teruji saat gelombang manusia mulai memadati jalanan pekan depan.

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *