Bekasi  

Efek Domino Perang Timur Tengah, Harga Plastik di Pasar Bekasi Meroket, Pedagang ‘Keder’ Modal Tergerus

Bekasi - Salah satu pedagang Plastik. Foto: Ist
Salah satu pedagang Plastik. Foto: Ist

Kota Bekasi – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah ternyata tidak hanya menjadi konsumsi berita mancanegara, tetapi telah memukul langsung kantong para pedagang kecil di Bekasi.

Sejak awal Maret 2026, harga berbagai jenis plastik di pasar tradisional seperti Pasar SBS dan Pasar Seroja meroket tajam, dipicu oleh tersendatnya pasokan bahan baku plastik (biji plastik) yang berasal dari olahan minyak mentah.

Bagi para pedagang, kenaikan kali ini adalah yang terparah, di mana harga bisa berubah dalam hitungan jam mengikuti fluktuasi pasar internasional.

Lonjakan Harga yang Tak Terkendali

Zainuddin (47), salah satu pedagang di Pasar SBS, Bekasi Utara, membeberkan lonjakan harga yang mencapai lebih dari 50% pada beberapa item tertentu. Pergerakan harga ini dirasakan sangat cepat dan sulit diprediksi oleh para pelaku usaha mikro.

Misalnya saja, Plastik Kresek yang semula dijual seharga Rp 10.000, kini melonjak menjadi Rp 15.000 per pack. Begitu pula dengan Plastik Kiloan yang melompat dari Rp 9.000 ke angka Rp 15.000 per pack. Bahkan wadah makanan plastik atau Thinwall (500 ml) kini harus ditebus seharga Rp 28.000 dari harga normal Rp 23.000.

“Kita keder (bingung), tiap mau belanja dikasih price list baru. Malam nanya harga sekian, besok pagi sudah berubah lagi,” keluh Zainuddin, Jumat (27/3/2026).

Modal Sejuta Hanya Dapat Satu Jenis Barang

Lonjakan harga ini berdampak fatal pada perputaran modal pedagang. Jika dulu uang Rp 1 juta bisa digunakan untuk menyetok berbagai macam ukuran dan jenis plastik, kini daya beli pedagang ke distributor menyusut drastis.

Zainuddin bercerita bahwa sekarang uang sejuta hanya cukup untuk menebus satu jenis plastik saja. Kondisi ini memaksanya untuk memangkas jumlah stok barang demi menjaga napas usahanya tetap berjalan.

Fenomena “mundur alon-alon” dalam menyetok barang ini menjadi pilihan pahit agar modal tidak habis tertahan di satu jenis produk saja.

UMKM Kuliner Terjepit Situasi

Meski harga melambung, permintaan plastik tidak serta-merta hilang. Upi (60), pedagang di Pasar Seroja, menyebutkan bahwa pelanggan setianya yang mayoritas adalah pelaku UMKM makanan tetap terpaksa membeli karena tidak ada pilihan lain untuk membungkus dagangan.

“Ya karena butuh untuk bungkus dagangan, ya (pelanggan) beli-beli saja dia,” ujar Upi. Namun, ia khawatir jika tren ini berlanjut, para pedagang makanan di Bekasi juga akan menaikkan harga jual atau mengurangi porsi, yang pada akhirnya membebani konsumen akhir.

Selat Hormuz Jadi Kunci

Kenaikan di tingkat pasar ini hanyalah muara dari kemelut di hulu industri. Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiyono, menjelaskan bahwa intensitas perang yang meningkat dan ketidakpastian di Selat Hormuz telah mengganggu rantai pasok feedstock (bahan baku).

Secara nasional, harga bahan baku plastik dilaporkan melonjak hampir dua kali lipat, dari kisaran Rp 15.000–17.000 per kg menjadi sekitar Rp 30.000 per kg. Kondisi ini memaksa industri fokus pada manajemen stok yang sangat ketat untuk bertahan di tengah krisis.

Para pedagang di Bekasi kini hanya bisa berharap ketegangan global segera mereda agar denyut nadi ekonomi di pasar tradisional bisa kembali normal.

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *