Kota Bekasi — Gunung sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, kembali memuntahkan isinya.
Tumpukan sampah setinggi belasan meter longsor pada Jumat (7/11/2025), menimbun sejumlah truk pengangkut yang tengah mengantre membuang muatan. Seorang sopir truk terluka di bagian leher akibat insiden tersebut.
“Ya, benar terjadi longsor di area TPST Bantargebang milik Pemprov DKI,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi, Kiswatiningsih, saat dikonfirmasi, Senin (10/11/2025).
“Lokasi itu dikelola oleh UPT TPST Bantargebang di bawah Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta,” sambungnya.
Sopir truk yang terluka, menurut Kiswatiningsih, langsung dievakuasi dan dibawa ke klinik terdekat untuk mendapat perawatan medis. Hingga kini, belum ada laporan korban jiwa.
Gunung Sampah yang Tak Pernah Reda
Longsoran di Bantargebang bukan kali pertama terjadi. Gunung sampah yang menampung lebih dari 7.000 ton limbah setiap hari dari Jakarta itu ibarat bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak — atau dalam kasus ini, longsor.
Meski lokasinya berada di wilayah Kota Bekasi, Pemkot Bekasi tak punya kendali langsung atas pengelolaannya.
“Bekasi hanya menjadi lokasi penampungan. Semua kegiatan di TPST Bantargebang merupakan tanggung jawab penuh Pemprov DKI Jakarta,” ujar Kiswatiningsih menegaskan.
Bekasi, kata dia, hanya bertanggung jawab terhadap pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu, yang dikelola sepenuhnya oleh Pemerintah Kota Bekasi.
“Kami tetap akan melakukan pengecekan dan memastikan operasional TPST Bantargebang sudah sesuai dengan dokumen lingkungan,” tambahnya.
Simbol Relasi yang Tak Seimbang
Peristiwa longsor ini kembali membuka luka lama dalam hubungan Jakarta dan Bekasi, dua kota dengan relasi yang timpang dalam urusan sampah. Jakarta membuang, Bekasi menampung.
Sejak 1989, Bantargebang telah menjadi muara terakhir bagi jutaan ton sampah ibu kota.
Meski berbagai perjanjian kerja sama dan kompensasi telah disepakati, persoalan sosial dan lingkungan di sekitar lokasi pembuangan tetap menjadi beban warga Bekasi.
Seorang warga Kampung Ciketing Udik, yang rumahnya berjarak kurang dari 500 meter dari zona pembuangan, mengaku sudah terbiasa dengan bau menyengat dan suara alat berat. Tapi longsor membuat mereka kembali waswas.
“Setiap hujan deras, kami takut. Sampah bisa longsor lagi, siapa yang tanggung jawab?” katanya lirih.
Insiden longsor kali ini menambah daftar peringatan soal krisis pengelolaan sampah di kawasan metropolitan Jakarta–Bekasi.
Data DLH DKI menyebut, kapasitas TPST Bantargebang sudah mendekati ambang batas. Tumpukan sampah di beberapa zona mencapai lebih dari 40 meter tinggi, melampaui rekomendasi ideal.
Meski proyek waste to energy atau PSEL (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) sempat dijanjikan jadi solusi, hingga kini realisasinya tak kunjung rampung.
Ikuti Kami di GOOGLE NEWS
Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.












