Kota Bekasi – Ramadan selalu membawa dua wajah bagi Kota Bekasi. Di satu sisi, suasana religius dan geliat ekonomi rakyat meningkat. Di sisi lain, ancaman klasik kembali menghantui: lonjakan harga dan gangguan pasokan bahan pangan.
Menghadapi siklus tahunan tersebut, Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto Tjahyono, menegaskan Pemerintah Kota Bekasi tidak akan bersikap reaktif. Strategi disiapkan sejak awal, dengan kombinasi operasi pasar murah dan monitoring ketat distribusi pangan hingga Idulfitri 2026.
“Kami tidak ingin kecolongan. Disdagperin dan DKP3 akan turun langsung melakukan monitoring. Operasi pasar juga akan digelar di 12 kecamatan,” ujar Tri, Sabtu (21/2/2026)
Dua Instansi, Satu Misi Stabilitas
Langkah pengendalian ini melibatkan dua perangkat daerah: Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) serta Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3).
Disdagperin akan fokus pada stabilisasi harga dan pengawasan mekanisme pasar. Sementara DKP3 memastikan ketersediaan stok serta kelancaran distribusi, terutama komoditas strategis.
Pola ini menunjukkan pendekatan terintegrasi—bukan sekadar operasi pasar seremonial, melainkan pengawasan rantai pasok dari hulu ke hilir.
H-7 Lebaran: Titik Rawan Lonjakan Harga
Pemkot Bekasi memetakan periode paling krusial terjadi pada H-7 Idulfitri. Pada fase inilah permintaan masyarakat melonjak tajam.
Komoditas yang menjadi perhatian utama antara lain daging, telur dan cabai.
Ketiganya memiliki karakteristik sensitif terhadap fluktuasi pasokan dan distribusi.
“Monitoring harga dan pasokan akan kita intensifkan di H-7. Terutama daging, telur, dan cabai yang sering naik saat hari besar,” tegas Tri.
Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan, gangguan distribusi kecil saja bisa memicu kenaikan harga signifikan di tingkat konsumen.
Ketahanan Pangan dari Rumah
Di luar kebijakan struktural, Tri juga mendorong pendekatan partisipatif. Ia mengimbau warga memperkuat ketahanan pangan skala rumah tangga, khususnya untuk komoditas hortikultura seperti cabai.
“Cabai ini kan harganya sering naik, kenapa tidak tanam sendiri di rumah. Kalau mau, saya ada bibitnya di rumah, tinggal datang ambil,” ujarnya.
Pernyataan ini bukan sekadar ajakan simbolik. Dalam konteks urban seperti Bekasi, gerakan tanam pekarangan bisa menjadi penyangga mikro terhadap gejolak harga.
Jika satu rumah mampu memenuhi sebagian kebutuhan cabai sendiri, tekanan permintaan di pasar dapat berkurang—meski dalam skala kecil.
Distribusi Luar Daerah Jadi Kunci
Sebagai kota penyangga Jakarta, Bekasi sangat bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah. Gangguan distribusi—baik karena cuaca, hambatan logistik, maupun spekulasi pasar—berpotensi memicu kenaikan harga lokal.
Karena itu, Pemkot menegaskan akan memantau jalur distribusi secara aktif.
“Kita juga akan pantau distribusinya dan pasokannya dari luar daerah. Mudah-mudahan semua terkendali sampai nanti Lebaran,” kata Tri.
Ujian Konsistensi Pengendalian Harga
Langkah ini menjadi ujian konsistensi Pemerintah Kota Bekasi dalam menjaga stabilitas ekonomi masyarakat kelas menengah dan bawah. Sebab, lonjakan harga pangan selalu berdampak paling besar pada kelompok tersebut.
Operasi pasar dan monitoring rutin bukan hal baru. Namun efektivitasnya bergantung pada ketepatan waktu, akurasi data lapangan, serta koordinasi lintas instansi.
Ramadan 2026 pun akan menjadi barometer: apakah strategi pengendalian ini cukup kuat meredam gejolak tahunan, atau justru kembali menjadi rutinitas administratif tanpa dampak signifikan.
Ikuti Kami di GOOGLE NEWS
Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.











