Bekasi – Berkas berstempel rahasia itu sudah berdebu di meja kerja Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto. Berisi tiga nama hasil akhir uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon Direktur Teknik Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Patriot, dokumen tersebut sejatinya tinggal membutuhkan satu hal: goresan pena sang kepala daerah. Namun, hingga terik musim kemarau membakar tanah Patriot dan membuat pipa-pipa distribusi mengering, dokumen itu tak jua disentuh.
Pelaksana Tugas Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Bekasi, Agus Harpa, yang menyebut sosialisasi dan pengumuman pejabat definitif akan diketok pada pertengahan Juni lalu, menguap begitu saja.
Publik menyaksikannya berubah menjadi sandiwara birokrasi. Di balik alasan klasik “penyelarasan administratif” dan penantian pertimbangan teknis Kementerian Dalam Negeri, berhembus aroma kencang tawar-menawar politik yang menyandera BUMD air minum tersebut.
Karpet Merah Berbiaya Mahal
Proses open bidding untuk posisi Direktur Teknik Perumda Tirta Patriot sejatinya dirancang bagai panggung profesionalisme. Mengucurkan anggaran daerah yang bersumber dari uang rakyat—Panitia Seleksi (Pansel) menggelar hajatan besar: mulai dari pengumuman terbuka, penyaringan berkas administrasi, uji kelayakan dan kepatutan oleh tim independen, hingga tahap wawancara akhir.
Dari sederet nama yang bertarung, Pansel menyaring tiga kontender terbaik yang berhak melaju ke meja Kuasa Pemilik Modal (KPM), yakni Wali Kota Bekasi:
Edwarsyah, S.T., M.T. (Magister Teknik): Mantan Direktur Operasional PT Air Minum Bandarmasih dan eks Water Losses Reduction Manager PT Air Batam Hilir. Memiliki latar belakang teknis serta rekam jejak pengelolaan PDAM kota besar yang teruji.
Bahrul Alam, S.T. (Sarjana Teknik): Orang dalam (internal) Tirta Patriot yang menduduki jabatan Manajer Investasi Pengembangan & Manajemen Risiko. Menguasai peta teknis dan jaringan pipa lokal.
Irwan Indriyanto, S.E., S.H., M.M. (Magister Manajemen): Direktur Utama PT Dinifa Bangun Persada; berlatar belakang pengusaha swasta dan profesional manajemen.
Secara normatif, seluruh tahapan telah rampung. Rekomendasi dari Kemendagri pun dikabarkan sudah lama mendarat di Pemkot Bekasi. Namun, persis di titik krusial inilah mesin birokrasi mendadak mogok. Pengesahan yang seharusnya tinggal hitungan hari berubah menjadi penantian tanpa kepastian yang memakan waktu bertandak-tandak.
Kalkulasi Politik di Balik Keran yang Mampet
Mengapa Tri Adhianto ragu menaikkan pena? Dugaan tertundanya penandatanganan SK Direktur Teknik ini tak lepas dari kalkulasi politik elektoral. Sebagai yang memegang kendali atas Perumda Tirta Patriot selaku Kuasa Pemilik Modal, posisi direksi BUMD bukan sekadar urusan teknis mengalirkan air, melainkan “komoditas strategis”.
“Ini bukan lagi masalah administrasi birokrasi. Ketika proses teknis dan persetujuan kementerian sudah rampung namun SK tak kunjung ditandatangani, artinya ada kalkulasi politik yang belum selesai. BUMD dijadikan alat tawar-menawar kekuatan,” kata Ketua Umum Forkim, Mulyadi, Rabu (19/8/2026).
Dalam pemetaan konstelasi politik, jabatan Direktur Teknik memegang kendali atas proyek-proyek infrastruktur perpipaan, pengadaan alat teknik, hingga perluasan cakupan layanan bernilai puluhan miliar rupiah. Siapa yang menduduki posisi itu akan menentukan arus modal, penetapan rekanan (vendor), dan pembagian proyek. Posisi ini menjadi incaran banyak kepentingan.
Ketidakmampuan Wali Kota mengambil keputusan tegas di antara tiga pilihan ini mengindikasikan adanya kekhawatiran merusak kompromi politik yang sedang dibangun.
Rakyat Menanggung Air Kotor, Anggaran Melayang
Dampak dari politik ulur-ulur waktu ini dirasakan langsung oleh warga Kota Bekasi. Memasuki puncak musim kemarau, pasokan air bersih di sejumlah wilayah mengalami penurunan debit parah. Ribuan pelanggan mengeluhkan air yang mampet, keruh, atau hanya mengalir di jam-jam hantu tengah malam.
Tanpa adanya Direktur Teknik definitif, Perumda Tirta Patriot berjalan bak kapal tanpa juru mudi di ruang mesin. Pelaksana Tugas (Plt) atau jajaran direksi yang ada tidak memiliki kewenangan hukum penuh untuk mengambil keputusan strategis jangka panjang, seperti eksekusi pemeliharaan darurat, optimalisasi instalasi pengolahan air (IPA), atau penambahan pasokan air baku dari Sungai Kalimalang.
Mulyadi, mengecam keras sikap indecisive wali kota. Menurutnya, publik telah dirugikan ganda: uang pajak mereka dipakai untuk membiayai seleksi mahal yang tak berujung, sementara hak dasar mereka atas air bersih terabaikan.
“Uang rakyat sudah keluar banyak untuk proses seleksi ini. Kalau hasilnya dibiarkan menggantung, ini adalah bentuk pemborosan anggaran yang nyata dan kecacatan dalam political will. Wali kota tidak boleh menyandera kepentingan publik demi kalkulasi kelompok,” tegas Mulyadi.
Jangan Jadikan BUMD Sapi Perahan
Mulyadi mendesak agar Wali Kota Tri Adhianto segera menyetop praktik undur-mengundur yang merusak tata kelola BUMD (Good Corporate Governance).
Ia mengingatkan bahwa Perumda Tirta Patriot dibentuk dengan jaminan penyertaan modal APBD untuk melayani masyarakat, bukan dijadikan alat akomodasi politik atau BUMD sapi perahan untuk suksesi kepemimpinan daerah.
Secara aturan, Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2017 tentang BUMD memandatkan bahwasanya pengangkatan anggota Direksi dilakukan melalui proses transparan dan berbasis meritokrasi.
“Ketika hasil meritokrasi sudah disajikan oleh Pansel, penundaan tanpa alasan kedaruratan hukum jelas mencederai norma hukum itu sendiri,” tegas Mulyadi.
Menurutnya, kasus mengambangnya posisi Direktur Teknik Tirta Patriot kini menjadi cermin ujian kredibilitas bagi Tri Adhianto. Membiarkan posisi vital ini terus tak bertuan hanya akan memperkuat persepsi publik bahwa Pemerintah Kota Bekasi lebih mengutamakan transaksi di balik layar daripada pelayanan publik yang bersih dan profesional.
“Jika Wali Kota terus ragu dan memilih bermain aman di zona abu-abu, bukan saja keran air warga yang mengering, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap integritas kepemimpinan di Kota Bekasi. Keputusan harus diambil—sebelum krisis kepercayaan bertransformasi menjadi gelombang amarah publik yang tak lagi bisa disumbat,” tandasnya.
Sebelumnya, Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, membeberkan alasan di balik alotnya pengumuman nama pejabat definitif tersebut hingga kursi Dirtek Perumda Tirta Patriot masih kosong.
Tri menyebut berkas ketiga calon saat ini tengah diproses secara intensif di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) lantaran masih ada kelengkapan administratif yang wajib dipenuhi.
Tak hanya di meja kementerian, proses verifikasi kandidat juga melibatkan lembaga intelijen negara guna memastikan rekam jejak para calon bersih dari masalah hukum maupun rekam jejak yang cacat integritas.
“Prosesnya sekarang masih di Kemendagri, ada beberapa syarat administrasi yang masih perlu harus dilengkapi oleh ketiga calon,” ujar Tri Adhianto, Selasa (21/7/2026).
“Kemarin juga saya baru buat surat, karena harus sampai ke BINDA (Badan Intelijen Negara Daerah), memang harus ada kajian tentang latar belakang terkait masing-masing calon yang maju,” sambungnya.
Di lain sisi, Direktur Utama Perumda Tirta Patriot, Ali Iman Faryadi, mendesak agar proses penetapan Dirtek definitif bisa segera dituntaskan.
Pria yang akrab disapa Awenk ini mengungkapkan bahwa kekosongan jabatan Dirtek sudah berlangsung cukup lama dan hanya ditopang oleh pejabat sementara berstatus Pelaksana Tugas (Plt).
Awenk menegaskan jajarannya siap berkolaborasi dan menyambut terbuka siapa pun figur yang kelak diberi mandat oleh Wali Kota Bekasi untuk mendampingi manajemen.
“Kami bersedia menerima siapa pun yang diberikan mandat oleh Wali Kota Bekasi, siapa pun itu,” tegas Awenk.
Menurut Awenk, pengisian jabatan Dirtek definitif sangat mendesak demi menjaga stabilitas teknis perusahaan.
Terlebih saat ini Kota Bekasi mulai memasuki musim kemarau panjang yang mengancam debit air baku, ditambah lagi beban integrasi teknis pasca-pengalihan aset dan ratusan ribu pelanggan baru dari Perumda Tirta Bhagasasi yang butuh pengawalan ekstra di lapangan.
“Biar ada fokus (Dirtek). Ini mau menjelang kemarau, belum lagi masalah-masalah teknik yang terjadi,” pungkas Awenk.
Ikuti Kami di GOOGLE NEWS
Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.













