Messi pensiun dari Timnas Argentina dengan harga diri dan berjuta penghormatan. Jokowi mengakhiri tugas sebagai presiden, masih dengan ambisi jabatan dan haus kekuasaan serta bersiap menghadapi tuntutan pengadilan atas pelbagai kejahatan.
Dua negara, dua sosok yang menyita perhatian rakyatnya. Indonesia ada Jokowi. Argentina punya Lionel Messi. Sama-sama pemimpin, satu dalam pemerintahan, lainnya di lapangan hijau. Keduanya punya reputasi masing-masing.
Dengan jabatan dan profesi pada level internasional. Mereka berdua sangat dikenal juga sebagai tokoh global. Betapapun tugas dan tanggungjawab serta dedikasi antara Jokowi dan Messi berbeda pada ruang lingkup kapasitas, teknis, dan ukuran capaiannya. Keduanya tetap menjadi sosok yang kehadiran dan eksistensinya memengaruhi ruang publik yang luas.
Soal nasionalisme dan patriotisme misalnya. Juga tentang seberapa besar arti dan manfaat kehadirannya dalam kehidupan di dalam dan luar negerinya.
Jokowi lebih kental pada bagaimana mengelola kekuasaan yang di dalamnya ada kewenangan politik, ekonomi, hukum, dll. Sedangkan Messi bagaimana menunjukkan keahlian dalam sepak bola yang tidak hanya sebatas olah raga namun juga tentang seni dan ikon dunia.
Sayangnya, antara Jokowi dan Messi memang tidak bisa dibandingkan secara “apple to apple” pada struktur sosial, rekam jejak, dan legasinya. Pun demikian, tak ada salahnya membuat satu komparasi yang bisa menjadi satu pelajaran dan mengambil hikmah pada kehidupan seseorang dan relasinya dengan kepentingan banyak orang.
Jokowi merupakan pejabat presiden di Indonesia yang selama bertugas dua periode, masih meninggalkan kontroversi dan polemik kepemimpinannya. Apa yang dianggap terbaik yang dilakukan dalam satu dekade pemerintahan (terutama versi pendukungn pragmatisnya), hilang begitu saja terkubur oleh gelimang dosa-dosa politik kenegaraannya. Mulai dari penyimpangan konstitusi dan demokrasi hingga kejahatan kemanusiaan dan bahkan pengingkaran nilai-nilai Ketuhananan.
Dalam konteks kepemimpinan, Jokowi dianggap setara dengan Nero di Romawi, Jengis Khan di Mongol atau bahkan Namrud dan Ramses II (Firaun) di Mesir, Vlad III di Rumania, dll. yang memerintah kerajaan. Jokowi juga disejajarkan dengan beberapa tokoh seperti Stalin, Musolini, Polpot, Hitler, dll. yang bertangan besi memimpin negaranya. Semua perilaku tokoh-tokoh yang mencerminkan ambisi kekuasaan yang penuh politik adu domba, rakus harta, dan kejam serta bengis terhadap rakyatnya, kerap diasosiasikan pada seorang Jokowi.
Untuk Messi, ia malah masuk dalam daftar pesepak bola top dan berpengaruh dunia. Seperti Pele dari Brasil, Sir Bobby Charlton dari Inggris, Eusubio dari Portugal, Franz Beckenbauer Jerman, Platini dari Prancis, Johan Cruyff dari Belanda, Maradona dari Argentina dll. Dunia sepak bola juga menempatkan Messi sebagai pemain sepak bola terbaik sepanjang masa. Demam dan kegilaan penggemar internasionalnya menempatkan Messi sebagai atlit sepak bola sekaligus figur yang pernah memimpin sebuah era dan tak tergantikan.
Jokowi justru sering mendapat stigma pemimpin berdarah dingin dan keji, dibalik tampilan polos, sederhana, dan wajah ndesonya itu. Melalui kebijakan yang berlumuran darah rakyatnya, dengan kekuasaaan represif yang tiran dan menindas. Jauh dari kesan negarawan apalagi pemimpin dunia berkarakter.
Jokowi berkepanjangan menyandang gelar “The King of Lip Service” alias raja kebohongan. Ia kaya raya bukan dari kerja keras dan cucuran keringat, melainkan dari KKN. Untuk itu Jokowi mendapatkan penghargaan internasional sebagai ‘runner up’ koruptor dari Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP).
Usai pensiun dari jabatan presiden, ia tak kembali ke desa sebagai orang biasa sebagaimana ucapannya. Jokowi malah sibuk dan lebih bersemangat lagi safari politik berselimut ‘tour of duty’ untuk kembali meraih kekuasaan dan jabatan presiden, bukan pengabdian kemanusiaan.
Lain halnya dengan Lionel Messi. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, kerja cerdas, dan disiplin berintegritas. Domain karyanya bulan hanya di atas lapangan rumput, namun pesonanya menghipnotis seantero dunia. Perjuangan dan prestasinya dalam sepak bola, lebih dari sekedar menghibur.
Messi juga menyatukan semua perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan dari semua populasi manusia di bumi. Messi begitu dielu-elukan dan dicintai banyak kalangan lintas usia, profesi, dan status sosial apapun.
Pemilik julukan ‘alien’ dan si Kutu itu, telah membuktikan pengabdian pada rakyat, negara, dan bangsa itu. Lebih dari sekadar mengharumkan nama bangsa dan negaranya. Messi mengajarkan kepada semua orang, tidak harus menjadi birokrat yang punya jabatan dan memiliki kekuasaan tak terbatas untuk menjadi seseorang yang bernilai dan berarti.
Lewat kakinya yang mampu mengolah si kulit bundar dengan estetik dan eksotik. Messi berhasil dan sukses membangun keharmonisan personal dan komunal dalam sebuah tim sepakbola yang dihormati, disegani, dan diapresiasi begitu tinggi.
Messi memanifestasikan betapa kekuatan individual bisa mewarnai sekaligus mengubah dunia, seiring mengangkat kehormatan serta martabat rakyat, negara, dan bangsanya. Termasuk dengan charitynya pada masyarakat dan komunitas marginal yang luas di pelbagai belahan dunia.
Dengan raihan satu Piala Dunia dan tiga Piala Copa Amerika. Ditambah sederet gelar pribadi termasuk delapan ballon d’or dan 6 sepatu emas serta prestasi di pelbagai klub internasional. Messi yang memasuki usia senja sepak bola namun sarat prestasi dan masih diinginkan fans global untuk bermain lagi, memilih pensiun dari sepak bola. Cara menutup karir panjang yang elegan dan prestisius.
Jutaan rakyat baik dari Argentina maupun negara lainnya melepas Messi, melebihi perlakuan terhadap seorang presiden sekalipun dengan tangisan, kerinduan dan cinta yang teramat dalam dari rakyatnya.
Beda Jokowi, beda Messi
Messi begitu dielu-elukan, dipuja, dan selalu berada dalam hati banyak masyarakat dunia bola, meskipun telah meninggalkan timnas Argentina. Sementara Jokowi, pasca pensiun dari presiden, masih terus berburu jabatan dan kekuasaan. Terus melampiaskan dendam pada kegagalan tiga periode menjabat presiden. Entah karena syahwat dunia yang terlalu menggebu atau memang satu-satunya cara bagi dirinya dan keluarganya menghindari jeratan hukum akibat ‘abuse of power’ dan ‘state organized crime’ dari kepemimpinanya selama menjabat presiden.
Begitulah perbedaan keduanya. Messi mengakhiri karir sepak bolanya terutama di Timnas Argentina dengan banyak catatan manis. Resmi pensiun pada 21 Juli dan diunggah di media sosial akhir bulan Agustus 2026. Hingga pada 7 Oktober 2026, Messi melakukan laga perpisahan saat Argentina menang 3-0 melawan Benin, dengan sambutan gegap gempita dan fantastis. Nama Messi begitu harum dan dikagumi banyak orang sepanjang waktu, meski suatu saat tak lagi menyentuh sepak bola.
Namun malang bagi Jokowi, usai pensiun dari jabatan presiden ia masih berkejaran antara ambisi kekuasaan yang tak pernah pupus dan pertanggungjawaban hukum atau pengadilan rakyat dihadapannya. Bahkan bukan saja Jokowi, seluruh keluarganya akan terus menjadi cemooh dan hujatan sebagian besar rakyat. Salah satunya, meskipun kini menjabat wapres, putra sulungnya Gibran Rakabuming Raka, tak pernah lepas dari pelecehan sosial dan gugatan hukum.
Bagai pedang tajam yang menikam terhunus dan kapan saja bisa mengadili daya rusaknya selama berkuasa. Sejak mengakhiri jabatan presiden pada Oktober 2024, Jokowi masih terus kasak-kusuk dalam politik, termasuk safari kampanye untuk Partai Solideritas Indonesia (PSI). Sisi lainnnya yang miris, pada 6 Oktober 2026, Jokowi justru harus menyaksikan sidang MK pada kasus ijazah SMA Gibran anaknya, yang bisa berujung membidik persoalan hukum lain pada dirinya sendiri. Sungguh kontradiktif antara Jokowi dan Messi. Akan lain kisahnya, seandainya Jokowi itu Messi.
Bekasi Kota Patriot.
28 Rabiul Akhir 1448 H/10 Oktober 2026.
Oleh: Yusuf Blegur-Direktur Eksekutif Institute for Public Policy (IPPS)
Ikuti Kami di GOOGLE NEWS
Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.












