Bekasi  

KPAD Bekasi Ungkap Dugaan Sexual Grooming di Balik Kasus Penculikan dan Rudapaksa Remaja 16 Tahun

Kota Bekasi - Wakil Ketua KPAD Kota Bekasi, Novrian.
Wakil Ketua KPAD Kota Bekasi, Novrian.

Kota Bekasi – Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bekasi mengungkap dugaan kuat adanya sexual grooming dalam kasus penculikan dan dugaan rudapaksa terhadap seorang remaja putri berinisial D (16) di Ciketing Udik, Bantargebang.

Kerentanan psikologis korban—yang memiliki hambatan komunikasi—diduga dimanfaatkan pelaku sejak awal interaksi.

Ketua KPAD Kota Bekasi, Novrian, mengatakan relasi yang terbangun antara pelaku dan korban memperlihatkan pola manipulatif yang khas dalam praktik grooming. Indikasi itu terlihat sejak pertemuan pertama mereka.

“Ini masuk ke dalam kasus sexual grooming. Mereka kenalan di polder Ciketing Udik, dan di situ ada manipulasi atau bujuk rayu. Anak ini mungkin belum mampu membedakan mana orang jahat dan mana orang baik,” ujar Novrian, Senin (17/11/2025).

Minim Pemahaman, Korban Lebih Mudah Dijebak

Menurut Novrian, korban memiliki keterbatasan dalam memahami dinamika sosial, membuatnya lebih mudah diarahkan atau dijebak. Situasi ini semakin diperburuk oleh kurangnya informasi pencegahan dari lingkungan terdekat.

“Ketika dia tidak dapat informasi tentang pencegahan, dia akan mudah sekali dimanipulasi. Karena itu pentingnya supporting system dari orang tua untuk menciptakan ruang diskusi terkait dunia digital maupun dunia luar,” kata Novrian.

Ia menekankan pentingnya mengenalkan anak sejak dini terhadap karakter orang asing dan cara menghadapi ancaman, termasuk kemampuan membaca tanda-tanda manipulasi.

“Bagaimana modelnya, bagaimana menghadapi orang-orang jahat—ini harus dikenalkan sejak dini. Ketika bertemu orang yang belum dikenal, anak harus tahu bagaimana bersikap,” jelasnya.

KPAD Dalami Pola Manipulasi

KPAD Kota Bekasi saat ini masih mendalami tahapan manipulasi yang dialami korban. Lembaga itu telah melibatkan tenaga psikolog untuk memahami proses grooming secara lebih menyeluruh.

“Untuk kasus grooming ini, kami masih terus mendalami prosesnya. Kami juga libatkan psikolog,” ujarnya.

Pendampingan intensif dilakukan terhadap keluarga korban untuk melihat faktor kerentanan dari sisi relasi dan pola komunikasi di rumah.

“Kami bersama dinas terkait mendampingi keluarga. Kami juga akan melihat hubungan anak dan Ibu seperti apa, serta latar belakang yang membuat anak ini mudah dimanipulasi. Itu jadi temuan penting juga,” katanya.

Menunggu Sinkronisasi BAP Polisi

KPAD menunggu hasil sinkronisasi keterangan antara korban dan pelaku dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kepolisian untuk memperkuat konstruksi kasus.

Dalam kesempatan itu, Novrian mengapresiasi masyarakat yang berperan aktif menyebarkan informasi hilangnya korban hingga mempercepat proses pencarian.

“Saya mengapresiasi masyarakat dan peran media sosial. Informasi cepat sekali tersebar ketika ada orang hilang, dan masyarakat ikut membantu mendeteksi keberadaan korban,” ujarnya.

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *