Bekasi – Di era digital hari ini, mata manusia bekerja lebih keras dibanding generasi sebelumnya. Layar ponsel, laptop, tablet, hingga papan iklan digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Ironisnya, di tengah kemajuan teknologi tersebut, ada persoalan kesehatan yang kerap diabaikan: mata kering. Keluhan ini sering muncul dalam bentuk mata sepet, perih, dan lelah—yang belakangan dikenal dengan istilah SePeLe—dan sering kali dianggap remeh.
Padahal, jika ditelisik lebih dalam, SePeLe bukan sekadar gangguan ringan, melainkan sinyal awal dari masalah kesehatan mata yang lebih serius. Mengabaikannya sama saja dengan membiarkan kualitas hidup dan produktivitas menurun secara perlahan.
Mata Kering: Masalah Kesehatan yang Kerap Dianggap Biasa
Mata kering atau dry eye syndrome merupakan kondisi ketika mata tidak menghasilkan air mata yang cukup atau kualitas air mata tidak memadai untuk melumasi permukaan mata. Air mata sejatinya memiliki peran penting, bukan hanya untuk menjaga kelembapan, tetapi juga melindungi mata dari infeksi, debu, dan iritasi.
Namun dalam praktik sehari-hari, banyak orang tidak menyadari bahwa mata kering adalah kondisi medis yang nyata. Gejalanya sering kali samar dan datang perlahan: mata terasa sepet saat bangun tidur, perih setelah menatap layar terlalu lama, atau mata cepat lelah meski aktivitas tidak terlalu berat.
Karena tidak disertai rasa sakit yang ekstrem, keluhan ini kerap dianggap hal biasa. Inilah mengapa istilah SePeLe menjadi relevan—bukan untuk meremehkan, tetapi justru sebagai pengingat bahwa gejala ini tidak boleh disepelekan.
Peradaban Layar dan Beban Baru bagi Mata
Sebagai jurnalis di Bekasi, saya mengalami langsung bagaimana teknologi digital mengubah pola kerja. Aktivitas menulis, riset, komunikasi dengan narasumber, hingga pemantauan isu terkini hampir seluruhnya dilakukan melalui layar. Ponsel dan laptop bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan “ruang kerja” itu sendiri.
Dalam satu hari, waktu menatap layar bisa mencapai 8–12 jam, bahkan lebih ketika berita harus segera naik karena tuntutan aktualitas. Di tengah tekanan deadline, waktu istirahat sering kali menjadi kemewahan. Mata dipaksa terus bekerja, sementara frekuensi berkedip menurun drastis tanpa disadari.
Kondisi ini tidak hanya dialami jurnalis. Pekerja kantoran, pelajar, mahasiswa, pengemudi ojek online, hingga ibu rumah tangga kini juga akrab dengan layar digital. Mata manusia, yang secara biologis tidak dirancang untuk menatap cahaya buatan dalam waktu lama, akhirnya mengalami kelelahan kronis.
SePeLe: Gejala Kecil, Dampak Besar
Istilah SePeLe—sepet, perih, dan lelah—mewakili tiga keluhan utama yang paling sering dialami penderita mata kering.
Sepet biasanya muncul karena kurangnya pelumasan pada permukaan mata. Mata terasa berat, tidak nyaman, dan sulit dibuka lebar.
Perih muncul akibat iritasi ringan yang terjadi ketika lapisan air mata tidak cukup melindungi mata dari udara dan partikel asing.
Lelah merupakan dampak akumulatif dari kerja mata yang terus-menerus tanpa jeda.
Jika dibiarkan, kombinasi ketiganya dapat menurunkan konsentrasi, memperlambat kerja, memicu sakit kepala, bahkan memengaruhi kualitas tidur. Dalam jangka panjang, mata kering yang tidak ditangani dengan baik dapat meningkatkan risiko peradangan kronis pada mata.
Budaya Menunda dan Abai terhadap Kesehatan Mata
Salah satu masalah utama dalam penanganan mata kering adalah budaya menunda. Banyak orang baru mencari solusi ketika keluhan sudah mengganggu aktivitas secara signifikan. Padahal, pencegahan dan penanganan dini jauh lebih efektif dan sederhana.
Di masyarakat perkotaan seperti Bekasi, ritme hidup yang cepat sering kali membuat kesehatan mata berada di urutan terakhir prioritas. Fokus utama adalah menyelesaikan pekerjaan, memenuhi target, dan mengejar waktu. Mata dianggap “akan pulih sendiri” setelah istirahat, meski kenyataannya tidak selalu demikian.
Di sinilah pentingnya edukasi publik yang berkelanjutan tentang mata kering dan gejala SePeLe. Kesadaran harus dibangun bahwa mata adalah aset utama dalam aktivitas modern.
Menjaga Mata di Tengah Deadline dan Tekanan Kerja
Sebagai jurnalis, saya memahami betul dilema antara kebutuhan istirahat dan tuntutan pekerjaan. Tidak jarang, saya harus memilih tetap menatap layar meski mata sudah terasa perih karena berita harus segera tayang. Namun pengalaman tersebut juga mengajarkan satu hal penting: menjaga mata bukan pilihan, melainkan kebutuhan.
Langkah-langkah sederhana seperti mengatur jeda pandang, mengurangi intensitas cahaya layar, hingga memastikan mata tetap lembap menjadi bagian dari upaya menjaga produktivitas jangka panjang. Di tengah rutinitas yang padat, memiliki solusi praktis menjadi krusial.
Dalam konteks inilah, Insto Dry Eyes hadir sebagai salah satu solusi yang membantu meredakan gejala mata kering. Dengan fungsi membantu melembapkan mata, produk ini sering digunakan oleh mereka yang aktivitasnya padat dan bergantung pada layar digital.
Insto Dry Eyes dalam Perspektif Edukasi Kesehatan
Penting untuk menempatkan Insto Dry Eyes secara proporsional dalam diskursus kesehatan mata. Produk ini bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari pendekatan preventif dan suportif dalam menangani mata kering.
Penggunaan tetes mata yang tepat dapat membantu menjaga kelembapan mata, mengurangi rasa tidak nyaman, serta mendukung aktivitas harian. Namun, tentu saja, penggunaannya harus dibarengi dengan perubahan kebiasaan, seperti istirahat mata secara berkala dan menjaga lingkungan kerja yang ramah bagi mata.
Edukasi publik perlu menekankan bahwa solusi mata kering tidak berdiri sendiri. Ia harus menjadi bagian dari gaya hidup sadar kesehatan mata.
Mata Kering sebagai Isu Kesehatan Perkotaan
Mata kering sejatinya merupakan isu kesehatan masyarakat perkotaan yang belum banyak dibahas secara serius. Polusi udara, penggunaan pendingin ruangan, stres, dan paparan layar digital menjadi kombinasi faktor risiko yang saling memperkuat.
Jika tidak direspons dengan edukasi dan kesadaran kolektif, mata kering dapat menjadi “penyakit senyap” yang menurunkan kualitas hidup masyarakat urban. Oleh karena itu, kampanye edukatif seperti pengenalan konsep SePeLe menjadi relevan sebagai pintu masuk pemahaman publik.
Istilah ini mudah diingat, dekat dengan bahasa sehari-hari, dan mampu menyampaikan pesan bahwa gejala ringan pun patut diperhatikan.
Refleksi: Merawat Mata adalah Merawat Masa Depan
Pada akhirnya, tulisan ini bukan sekadar membahas mata kering atau Insto Dry Eyes, melainkan ajakan untuk merefleksikan kembali cara kita memperlakukan tubuh di tengah tuntutan modernitas. Mata bukan mesin yang bisa dipaksa bekerja tanpa henti.
Sebagai jurnalis, saya belajar bahwa produktivitas sejati tidak lahir dari pengabaian kesehatan, melainkan dari keseimbangan antara kerja dan perawatan diri. Mengenali gejala SePeLe, memahami risiko mata kering, dan mengambil langkah sederhana untuk merawat mata adalah investasi jangka panjang.
Mata yang sehat memungkinkan kita melihat dunia dengan jernih—baik secara harfiah maupun metaforis. Maka, jangan anggap SePeLe apa yang dirasakan mata hari ini, karena bisa jadi itulah peringatan paling jujur dari tubuh kita.
Karena mata kering bukan soal sepele, dan merawat mata adalah bagian dari menjaga kualitas hidup.
Ikuti Kami di GOOGLE NEWS
Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
Penulis: Mochamad Yacub Ardiansyah












