Kota Bekasi — Pemerintah Kota Bekasi terus memantau pergerakan harga komoditas di pasar menjelang bulan suci Ramadan. Pemantauan ini dilakukan menyusul posisi inflasi Kota Bekasi pada awal 2026 yang tercatat sebagai tertinggi di antara 10 kota dan kabupaten di Jawa Barat untuk kategori inflasi bulanan dan tahun kalender.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bekasi, inflasi bulan ke bulan (month to month/m-to-m) pada Januari 2026 tercatat sebesar 0,07 persen, demikian pula inflasi tahun berjalan (year to date/y-to-d) yang berada di angka 0,07 persen. Sementara itu, inflasi tahunan (year on year/y-on-y) mencapai 3,37 persen.
Statistisi Ahli Madya BPS Kota Bekasi Hendra Wijaya mengatakan, inflasi awal tahun ini terutama didorong oleh kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya. Sejumlah komoditas mencatatkan andil terbesar terhadap inflasi bulanan.
“Emas perhiasan menjadi penyumbang utama inflasi dengan andil 0,33 persen. Selanjutnya ikan kembung 0,03 persen, tarif rumah sakit 0,02 persen, tomat 0,02 persen, dan kangkung 0,01 persen,” kata Hendra, Selasa (3/2/2026).
Di sisi lain, sejumlah komoditas justru menahan laju inflasi. Cabai merah menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil 0,18 persen, disusul cabai rawit 0,08 persen, bawang merah 0,07 persen, bensin 0,03 persen, serta telur ayam ras 0,02 persen.
Secara regional, inflasi bulanan dan tahun kalender Kota Bekasi menjadi yang tertinggi di Jawa Barat. Sebaliknya, inflasi terendah tercatat di Kota Cirebon dengan angka minus 0,44 persen. Namun, untuk inflasi tahunan, posisi tertinggi ditempati Kota Sukabumi sebesar 3,74 persen, sementara terendah berada di Kabupaten Subang sebesar 2,92 persen.
“Inflasi month to month terbesar terjadi di Kota Bekasi karena termasuk daerah yang mengalami inflasi pada Januari ini,” ujar Hendra.
Menanggapi kondisi tersebut, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kota Bekasi memastikan pemantauan harga terus dilakukan, terutama menjelang Ramadan yang kerap diiringi peningkatan permintaan bahan pokok.
Kepala Disdagperin Kota Bekasi Ika Indah Yarti mengatakan pihaknya aktif berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Bulog, guna menjaga stabilitas pasokan dan harga.
“Kita terus memantau pergerakan harga. Paling tidak, kami juga menerima informasi resmi dari Bulog,” kata Ika.
Ia menyebutkan, belakangan komoditas yang mengalami fluktuasi cukup signifikan adalah daging sapi. Selain faktor distribusi, kondisi cuaca juga menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi harga komoditas hortikultura.
“Musim hujan ini berkaitan langsung dengan bawang dan cabai, karena sangat bergantung pada kondisi cuaca,” ujarnya.
Pemkot Bekasi berharap langkah pemantauan dan koordinasi lintas sektor dapat menahan laju inflasi, sekaligus menjaga daya beli masyarakat menjelang Ramadan.
Ikuti Kami di GOOGLE NEWS
Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
(Shyna)












