Bekasi  

Pemkot Bekasi Kaji Relokasi SPBE Cimuning Demi Keselamatan Warga

Langkah ini dipertimbangkan sebagai upaya meningkatkan keselamatan warga, mengingat lokasi SPBE berada di tengah permukiman padat.

Kota Bekasi - Kondisi bangunan Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) di Cimuning, Mustikajaya, Kota Bekasi, tampak hangus dan rusak parah usai insiden ledakan, Kamis (2/4/2026). Foto: Septian/Gobekasi.id.
Kondisi bangunan Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) di Cimuning, Mustikajaya, Kota Bekasi, tampak hangus dan rusak parah usai insiden ledakan, Kamis (2/4/2026). Foto: Septian/Gobekasi.id.

Kota Bekasi – Pemerintah Kota Bekasi tengah mengkaji rencana relokasi Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) Cimuning, Mustika Jaya, pascaledakan yang menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.

Langkah ini dipertimbangkan sebagai upaya meningkatkan keselamatan warga, mengingat lokasi SPBE berada di tengah permukiman padat.

Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe mengatakan, pihaknya akan segera menggelar rapat koordinasi bersama sejumlah pihak untuk menentukan langkah ke depan, termasuk kemungkinan pemindahan lokasi SPBE.

“Nah ini kita coba hari ini saya akan rapat koordinasi dengan teman-teman, saya kira kalau kondisi sekarang saya sih berharap tidak mungkin lagi kita bolehkan lagi disitu harus direlokasi karena itu pemukiman sudah padat sekali dan,” ujarnya, Senin (6/4/2026).

Selain membahas relokasi, Pemkot Bekasi juga melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional SPBE, tidak hanya di Cimuning, tetapi juga di seluruh wilayah Kota Bekasi.

Baca Juga: Korban Tewas SPBE Cimuning Jadi Dua, Camat: Keduanya Sekuriti

“Bukan hanya SPBE yang ada di Cimuning saja, hari ini kita akan melihat, mereview SPBE yang ada di kota Bukasi,” katanya.

Evaluasi ini akan melibatkan pemerintah pusat serta pihak terkait, termasuk Pertamina, guna memastikan seluruh aspek keselamatan dan kepatuhan terhadap regulasi terpenuhi.

“Saya kira nanti kita akan lakukan dengan pemerintah pusat, terutama dengan Pertamina yang telah membawahi langsung supaya ini dapat kita akan coba kalau memang ada pelanggaran kita tertibkan kemudian bagaimana keamanan juga harus kita coba maksimalkan, seperti alat-alat pemadam kebakaran yang ada di lingkungan SPBE harus juga kita lihat nanti,” jelasnya.

Harris menegaskan pentingnya penerapan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3), termasuk kesiapan alat pemadam kebakaran dan sistem penanganan dini saat terjadi insiden.

“Saya kira pertama tentunya, K3 dimana tentunya tadi peralatan pemadam kebakaran itu harus siap sedia,” ujarnya.

“Jangan kemudian saat datang kebakaran, tapi pada awalnya itu harus ada pemadaman oleh pihak perusahaan,” lanjutnya.

Ia juga menyoroti dugaan kebocoran gas yang menjadi salah satu penyebab ledakan, sehingga diperlukan pemeriksaan rutin terhadap seluruh peralatan operasional.

“Kemudian kan terjadi kemarin itu kebocoran, kebocoran kan luar biasa ini harus kita antisipasi ke depan,” katanya.

“Maksudnya kita mulai melihat bahwa ada pemeriksaan berkala terhadap alat-alat yang ada disitu,” sambungnya.

Di sisi lain, Pemkot Bekasi terus melakukan pendataan terhadap korban. Jumlah korban tercatat bertambah dari awalnya 14 orang menjadi sekitar 22 orang, mayoritas mengalami luka ringan. Dua korban dilaporkan meninggal dunia.

Pemkot Bekasi berharap langkah evaluasi dan rencana relokasi ini dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mencegah kejadian serupa serta menjamin keamanan masyarakat di sekitar fasilitas energi tersebut.

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *