Seperti ketapel, sebuah mainan yang menghibur. Namun tetap berbahaya dan bisa melukai siapapun jika dipergunakan sebagai senjata. Bagi presiden kebijakan reshuffle hampir sama dengan ketapel. Punya elastisitas dan fleksibiltas serta alat tarik ulur juga, tergantung siapa yang memainkan dan dimainkan
Tujuh kali reshuffle kabinet dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, tak satupun mencerminkan progres pemerintahan yang berbasis pada kualitas dan integritas kepemimpinan. Terakhir reshuffle pada 1 Oktober 2026, presiden masih asyik pada reposisi dan akomodasi jabatan semata.
Dua hal yang kental pada keseringan dan pola reshuffle yang dilakukan presiden.
Pertama, Reshuffle dilakukan presiden dalam rangka memelihara sekaligus merawat konfigurasi dan konstelasi politik yang masih kental diwarnai kekuasaan lama yakni personifikasi dan eksistensi Jokowi.
Dalam hal ini, entitas Jokowi dan Geng Solo yang notabene menjadi latar sekaligus penopang jabatan presiden selama ini. Masih sangat dominan, bukan hanya dalam hal kualitas dan kuantitas orang dan jabatan strategis. Termasuk wakil presiden dalam pemerintahan Prabowo. Melainkan membuktikan kekuasaan Prabowo, pun sebagai presiden masih lemah dihadapan seorang Jokowi yang identik sangat konspiratif dengan inner circle kekuasaan dan kalangan oligarki.
Pada hal yang lebih mengikat dan membatasi kekuasaan Prabowo adalah adanya komitmen terhadap kontrak politik terkait kesinambungan program pemerintahan Jokowi sebelumnya. Naiknya Prabowo sebagai presiden masih diasosiasikan sebagai jasa dan budi Jokowi, bahkan meliputi persekongkolan distorsi kekuasan yang terkait pada keduanya.
Kedua,untuk mengamankan masa jabatan presiden hingga 2028 sekaligus konsolidasi kekuatan menyiapkan presiden dua periode. Prabowo terus merangkul beberapa kekuatan kritis dan oposisi masuk dalam pemerintahan.
Persfektif di atas mengupas motif dan tendensi reshuffle yang bisa dilihat dari beberapa indikator.
Misalnya, pada beberapa menteri yang disinyalir menjadi titipan Jokowi dan sarat dibekap masalah mulai dari behavior hingga korupsi seperti Bahlil, Zulkifli Hasan, Raja Juli Antoni, dll. masih bertahan dan hanya rotasi atau mutasi seperti pada Sigit Sulistyo dari Kapolri menjadi KSP. Juga, masih terlalu banyak para penganut, pemuja, dan penghamba Jokowi yang dibiarkan Prabowo tetap bertengger dalam pemerintahannya.
Kemudian seiring itu Prabowo juga mengakomodir beberapa tokoh yang sebelumnya dianggap kritis dan kerap kritik terhadap kebijakan pemerintahannya. Nama-nama seperti Rocky Gerung yang menjadi anggota wantimpres dan Syahganda Nainggolan sebagai Kepala Bakom. Merepresentasikan bagaimana Prabowo perlahan tapi pasti berusaha menutup suara miring di luar pemerintahannya. Membunuh iklim demokrasi dan partisipasi serta kedaulatan rakyat. Tentunya, rakyat juga berkesempatan melihat sambil memahami siapa pejuang sebenarnya dan pengkhianat sesungguhnya dalam godaan eksotis kekuasaan.
Reshuflle berulang-ulang dan kelewat sering yang dilakukan Prabowo, dinilai publik tidak relevan dan signifikan terhadap perbaikan ekonomi dan politik khususnya. Pembantu-pembantu presiden baik dalam kementerian maupun lembaga negara lainnya, dinilai publik tidak memiliki kelayakan kompentensi. Prabowo lebih banyak menampung sekadar tim sukses, kaum oportunis, dan para penjilat kekuasaan.
Indonesia dibawah kendali Prabowo tidak lebih baik dari presiden yang pernah ada, bahkan jauh lebih buruk lagi dari kepemimpinan Jokowi yang dianggap memiliki daya rusak tinggi. Selain rekam jejak buruk, faktor usia dan kesehatan, serta cacat konstitusi dan demokrasi saat menjabat presiden. Menempatkan Prabowo sebagai presiden eksisting yang oleh khalayak dinilai identik fasis, korup, dan otoritarian.
Menyoal reshuffle yang hanya sekadar kosmetik dan penuh gaya seolah-olah presiden memiliki kesadaran makna dan kesadaran krisis. Maka, sudah sepantasnya refleksi dan evaluasi main-main Prabowo dalam pemerintahannya itu disebut reshuffle ala Ketapel.
Sebuah mainan dengan struktur berbentuk hurup Y bercabang dua dan memiliki kelenturan bak busur panah. Menarik kencang dan melepaskan tali yang membawa setangkup kerikil atau bola-bola kecil yang dapat mengusir, melukai dan bisa saja mematikan bagi siapapun. Sebuah elastisitas kekuasan dalam wujud reshuffle ala Ketapel.
Bekasi Kota Patriot.
22 Rabiul Akhir 1448/3 Oktober 2026.
Oleh Yusuf Blegur-Direktur Eksekutif Institute for Public Policy Strategic (IPPS)
Ikuti Kami di GOOGLE NEWS
Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
