Kota Bekasi – Di bawah terik matahari Bekasi, Sungai Kalimalang terbentang panjang, mengalir tenang namun menyimpan jejak kekecewaan.
Proyek ambisius revitalisasi Kalimalang yang dulu digaungkan oleh mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, kini menyisakan bangunan sempal, rumput liar yang menjulang tinggi, dan harapan warga yang layu bersama waktu.
Sekitar tujuh tahun lalu, publik dibuat terpesona oleh desain revitalisasi Kalimalang yang disebut-sebut akan menyerupai keindahan Cheonggyecheon di Seoul, Korea Selatan.
Kala itu, Ridwan Kamil menjanjikan transformasi Kalimalang menjadi destinasi wisata modern dengan anggaran sekitar Rp50 miliar. Namun, hingga kini proyek itu belum menampakkan hasil memuaskan.
Warganet Bekasi bahkan sempat menagih janji tersebut, mempertanyakan ke mana larinya visi yang pernah dikampanyekan dengan gegap gempita.
Kini, di era Gubernur Jawa Barat yang baru, Dedi Mulyadi, Kalimalang kembali menjadi sorotan. Namun dengan wajah baru, wisata air.
Pada Kamis, 21 Agustus 2025, Dedi meletakkan batu pertama pembangunan proyek wisata air Kalimalang di Bekasi Selatan.
“Saya sudah WA ke kepala badan agar dibantu Kota Bekasi Rp60 miliar. Tapi ini untuk tahun depan 2026,” ujarnya dalam sambutannya, sambil menegaskan bahwa program ini juga bentuk pelestarian sejarah Kerajaan Tarumanegara yang menjadikan sungai sebagai sumber kehidupan.
Baginya, keindahan Jawa Barat tak boleh hanya dinikmati mereka yang sanggup membayar. “Kita tidak mau seperti itu, kita mau keindahan itu dinikmati seluruh warga,” tegas Dedi.
Tak hanya dari pemerintah provinsi, proyek ini juga didukung dana CSR dari pihak swasta. Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menyebut Pemkot telah menyiapkan Rp30 miliar untuk pedestrian dan menerima dukungan CSR senilai Rp36 miliar untuk pembangunan jembatan.
“Mudah-mudahan tahun depan sudah bisa dinikmati. Kita bisa merasakan keindahan Kalimalang dengan menggunakan transportasi air yang melintas di atasnya,” harap Tri.
Namun, tidak semua pihak menyambut proyek ini dengan tepuk tangan. Pegiat lingkungan Sony Teguh Trilaksono mengingatkan bahwa Kalimalang bukanlah sungai alami, melainkan kanal buatan yang memiliki peran vital sebagai penyalur air bersih ke Jakarta.
“Kalimalang bukan sekadar sungai, tapi kanal yang sengaja dibuat. Fungsinya vital untuk kebutuhan air, jadi harus diperhatikan benar-benar kalau mau dijadikan wisata,” ujarnya.
Sony menyuarakan kekhawatiran, risiko pencemaran, peningkatan volume sampah, kemacetan, hingga dampak buruk pada kualitas air. Baginya, alih-alih menjadi destinasi wisata besar, Kalimalang lebih cocok dijadikan taman atau jalur olahraga ramah lingkungan. “Kalau sifatnya mengumpulkan orang dalam jumlah besar, itu harus dipikirkan matang-matang,” tambahnya.
Ia bahkan menyarankan alternatif, mengembangkan potensi wisata di Kali Bekasi atau polder air yang tersebar di sejumlah titik kota. Terlebih, sempadan Kalimalang yang sudah terbebas dari bangunan liar bisa ditata menjadi ruang terbuka hijau tanpa mengganggu fungsi utama kanal.
Sejak era Ridwan Kamil hingga kini, perdebatan soal Kalimalang tak pernah usai. Di satu sisi, warga mendambakan ruang publik yang nyaman dan menarik. Di sisi lain, para pemerhati lingkungan terus mengingatkan pentingnya menjaga fungsi utama kanal ini: sebagai penyuplai air bersih bagi jutaan warga Jakarta.
Kini, dengan rencana wisata air yang telah dimulai, muncul pertanyaan besar, Apakah Kalimalang benar-benar akan menjadi ikon wisata baru di Bekasi, atau lagi-lagi hanya janji populis yang tenggelam bersama aliran sungainya?
Ikuti Kami di GOOGLE NEWS
Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.












