Bekasi  

RSUD CAM Kota Bekasi Ogah Disebut Gulung Tikar, Beban Utang Rp70 Miliar dalam Tahap Penyelesaian

Kota Bekasi - RSUD CAM Kota Bekasi. Foto: Ist/Gobekasi.id.
RSUD CAM Kota Bekasi. Foto: Ist/Gobekasi.id.

Kota Bekasi – Rumor soal RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid (CAM) Kota Bekasi bakal “gulung tikar” menggemparkan publik dalam sepekan terakhir. Isunya sederhana: utang rumah sakit daerah itu menembus Rp70 miliar.

Tapi manajemen RSUD cepat membantah. Mereka menyebut isu gulung tikar terlalu jauh, dan menyebut situasi ini lebih tepat dibaca sebagai koreksi manajemen dan konsekuensi sistem pembiayaan kesehatan yang tidak stabil.

“Rumah sakit tidak benar terancam gulung tikar. RSUD tetap beroperasi normal,” ujar Yuli Swastiawati, Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSUD yang juga PPID, Selasa (13/1/2026).

Status rumah sakit sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), kata Yuli, memberi fleksibilitas pengelolaan keuangan di bawah pengawasan pemerintah daerah.

Utang Menumpuk, Klaim Tak Terbayar

Nilai Rp70 miliar yang disebut sebagai utang, menurut Yuli, adalah kewajiban akumulatif dari tahun-tahun sebelumnya dan saat ini sedang dalam proses penyelesaian.

Di internal manajemen, angka itu tak dianggap utang perseroan dalam makna komersial, melainkan kewajiban operasional untuk vendor utama seperti gas medis, laboratorium, hingga kebutuhan alat kesehatan.

“Sekitar segitu, itu utang operasional,” ujar dr. Sudirman, Wakil Direktur Pelayanan RSUD. Ia menegaskan seluruh kewajiban itu menjadi tanggung jawab BLUD, bukan pemerintah daerah sebagai entitas fiskal terpisah.

Namun tekanan tidak hanya datang dari pemasok. Sistem rujukan BPJS disebut memperburuk arus kas rumah sakit. Dengan kriteria kegawatdaruratan yang semakin ketat, banyak pasien yang sudah dilayani tak dapat diajukan klaimnya.

Defisit klaim ini memukul keuangan RSUD, terutama karena rumah sakit menjadi tumpuan warga kurang mampu dan pasien tanpa identitas melalui skema LKM-NIK.

Meski demikian rumah sakit tak mau menolak pasien. “Kami tetap berkomitmen melayani,” tegas Yuli. Tapi dalam skema kesehatan berbasis BPJS, komitmen sosial seringkali berbanding terbalik dengan kemampuan finansial.

Belanja Pegawai Kebesaran

Utang vendor bukan satu-satunya problem. Sudirman mengungkap fakta lain yang selama ini jarang dibahas: porsi belanja pegawai RSUD mencapai 60,4 persen dari total belanja operasional rumah sakit.

Angka ini jauh di atas rekomendasi Kementerian Kesehatan yang menyarankan kisaran 45 persen agar layanan tetap sehat dan berkelanjutan.

“Hasil audit Inspektorat juga menemukan hal yang sama,” ujar Sudirman. Konsekuensinya, manajemen memilih langkah rasionalisasi remunerasi.

Kebijakan ini tidak merata. Untuk ASN, remunerasi dipotong sekitar 5 persen. Untuk dokter dan tenaga medis BLUD, penyesuaian dilakukan melalui penurunan persentase jasa pelayanan (jaspel) sebesar dua persen.

Dalam nominal, potongan ini mencapai 8—10 persen. Sementara pegawai BLUD berpenghasilan rendah tidak tersentuh pemotongan.

Keputusan ini menimbulkan ketegangan internal, tapi manajemen menyebut tidak ada opsi lain. “Ini soal keseimbangan struktur biaya. Kalau tidak, layanan bisa terancam,” kata Sudirman.

Intervensi Wali Kota

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto tak menutup mata atas persoalan ini. Ia menyebut kondisi keuangan RSUD sudah lama buruk. Audit manajemen saat pergantian direktur baru disebut membuka peta masalah yang sebelumnya tak teridentifikasi.

“Saya sudah perintahkan dilakukan langkah-langkah efisiensi sesuai kemampuan yang ada,” ujar Tri. Salah satu bentuknya adalah pengurangan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP), meski detail teknis diserahkan pada manajemen RSUD.

Tri mengakui kondisi ini bukan situasi mendadak. “Kami sama-sama menanggulangi proses yang sudah terjadi begitu lama,” katanya.

BLUD dan Masalah Sistemik

Model BLUD sejatinya dirancang memberi fleksibilitas finansial bagi rumah sakit daerah. Namun di banyak daerah, fleksibilitas ini berubah menjadi ruang abu-abu: antara pelayanan publik yang wajib diberikan dan realitas arus kas yang tidak stabil.

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

(Syafira Y.M)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *