Kota Bekasi – Sore itu, lalu lintas di Kota Bekasi masih riuh oleh kendaraan yang berpacu dengan waktu berbuka. Di sela pembagian paket takjil kepada pengendara, Kapolres Metro Bekasi Kota, Kusumo Wahyu Bintoro, melakukan sesuatu yang tak tercantum dalam susunan acara resmi.
Ia menghampiri seorang pedagang kecil yang menjajakan gendar opak di tepi jalan. Tanpa banyak seremoni, perwira menengah itu memborong seluruh dagangan si pedagang. Tak berhenti di situ, beberapa lapak UMKM lain di sekitar lokasi juga dibeli habis.
Aksi tersebut terjadi pada Senin (23/2/2026), menjelang waktu berbuka puasa. Di tengah rutinitas patroli dan pengamanan, langkah itu terasa sederhana, tetapi menyita perhatian warga.
“Ini adalah bentuk dukungan kita kepada pelaku usaha mikro. Semoga dengan diborongnya dagangan ini, para pedagang bisa segera pulang untuk berbuka puasa bersama keluarga di rumah,” ujar Kusumo.
Namun yang menarik, dagangan yang telah diborong tidak dibawa pergi. Gendar opak dan penganan lainnya justru dibagikan kembali kepada masyarakat dan pengguna jalan sebagai tambahan menu berbuka.
Simbol di Bulan Ramadhan
Di bulan Ramadhan, ruang publik kota sering berubah menjadi ruang sosial: tempat warga berbagi takjil, pedagang kecil menggantungkan harapan, dan aparat hadir menjaga ketertiban. Aksi memborong dagangan ini menjadi simbol kecil dari pergeseran peran—dari sekadar penegak hukum menjadi figur yang ingin lebih dekat dengan masyarakat.
Bagi pedagang kecil, dagangan yang habis terjual sebelum azan magrib berarti satu hal: kesempatan berbuka bersama keluarga tanpa kekhawatiran sisa barang tak laku. Bagi warga yang menyaksikan, gestur itu menghadirkan citra polisi yang lebih humanis.
Di tengah berbagai isu yang kerap membayangi institusi kepolisian, tindakan semacam ini menjadi penyejuk. Ia mungkin tak mengubah persoalan struktural, tetapi memberi pesan bahwa empati tetap mungkin hadir dalam seragam.
Lebih dari Sekadar Seremonial
Polres Metro Bekasi Kota menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen mendekatkan diri dengan masyarakat. Kehadiran aparat, kata mereka, tak hanya dalam konteks kamtibmas, tetapi juga dalam kepedulian sosial.
Tentu, publik berhak berharap bahwa kepedulian tak berhenti pada momentum Ramadhan atau aksi simbolik semata. Dukungan terhadap pelaku UMKM, misalnya, dapat diperluas melalui pengamanan yang ramah, penataan ruang berdagang yang tertib, dan perlindungan dari praktik premanisme.
Namun sore itu, di antara deru kendaraan dan cahaya senja yang meredup, gendar opak yang berpindah tangan menjadi pengingat bahwa interaksi negara dan warga bisa berlangsung dalam bentuk yang hangat.
Kadang, di kota yang sibuk dan penuh tekanan, satu gestur kecil cukup untuk menghadirkan rasa dekat—bahwa aparat bukan hanya penjaga ketertiban, melainkan juga bagian dari denyut kehidupan warganya.
Ikuti Kami di GOOGLE NEWS
Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.












