Bekasi  

Terjebak di Maroko, Ibu Muda Asal Teluk Pucung Menangis Minta Pulang: “Saya Diintimidasi Agen”

Kota Bekasi - Lely Lydia (33), warga Kelurahan Telukpucung, Kecamatan Bekasi Utara kini berada di Shelter Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Maroko. Foto: Ist
Lely Lydia (33), warga Kelurahan Telukpucung, Kecamatan Bekasi Utara kini berada di Shelter Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Maroko. Foto: Ist

Kota Bekasi – Mimpi memperbaiki nasib di negeri orang berubah menjadi horor bagi Lely Lydia (33). Warga Kelurahan Teluk Pucung, Bekasi Utara ini, kini tertahan di Shelter Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Maroko, tanpa kepastian kapan bisa memeluk kembali buah hatinya yang masih balita di Kota Patriot.

Tiga minggu sudah Lely berlindung di bawah atap kedutaan setelah nekat kabur dari jeratan agen penyalur yang dinilainya tidak manusiawi.

Tergiur Gaji Rp8 Juta di Media Sosial

Kisah pilu ini bermula pada pertengahan Januari lalu. Lewat jagat maya, Lely tergiur tawaran pekerjaan sebagai pengasuh anak dengan iming-iming gaji menggiurkan, lebih dari Rp8 juta per bulan. Namun, janji manis itu menguap saat kakinya menginjak bumi Maroko.

Bukannya mengasuh anak, Lely justru dipaksa melakoni seluruh pekerjaan rumah tangga layaknya mesin. Tak hanya tenaga yang diperas, batinnya pun tersiksa. Kekerasan verbal hingga tindakan fisik berupa “ditoyor” oleh majikan pertama menjadi santapan sehari-hari.

“Hampir sebulan kerja, gaji saya malah dipotong agen. Saya merasa tidak nyaman dan tertekan,” ungkap Lely melalui sambungan telepon, Minggu (8/3/2026).

Intimidasi Agen dan Tiket Rp11 Juta yang Tak Terjangkau

Nasib Lely kian terpojok saat ia dipindahkan ke majikan baru, namun hanya bertahan sehari sebelum dikembalikan ke agen. Di sinilah intimidasi dimulai. Pihak agen penyalur mulai meneror keluarga Lely di Bekasi, menuntut sejumlah uang dengan kata-kata kasar.

Atas saran kakaknya di Bekasi, Lely akhirnya memutuskan untuk kabur dan mencari perlindungan ke KBRI. Namun, jalan pulang ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Harga tiket pesawat dari Maroko ke Indonesia yang mencapai Rp11 juta menjadi tembok tebal bagi keluarganya yang secara ekonomi kurang mampu.

“Agennya kaya kabur-kaburan nggak mau bayar tiket. Keluarga saya jujur tidak mampu kalau harus beli tiket sendiri seharga itu,” keluh Lely dengan nada getir.

Menanti ‘Tangan Dingin’ Pemerintah Kota Bekasi

Kini, harapan Lely tertumpu pada respons cepat Pemerintah Kota Bekasi dan wakil rakyat di Kalimalang. Ia mengaku terinspirasi dari keberhasilan pemulangan warga Bekasi dari Kamboja pada tahun 2025 lalu, yang berhasil pulang berkat campur tangan pemerintah daerah.

Lely dikabarkan sudah mencoba menjalin komunikasi dengan salah satu anggota DPRD Kota Bekasi guna mencari jalan keluar. Di Teluk Pucung, keluarga besarnya hanya bisa berdoa agar Lely segera lepas dari ketidakpastian di negeri orang.

“Saya berharap pemerintah bisa membantu rakyat Indonesia yang jauh di negeri orang. Saya ingin pulang, ingin kumpul lagi sama anak dan orang tua,” tutupnya.

Potret buram pekerja migran asal Bekasi ini kembali menjadi alarm bagi Pemkot Bekasi untuk lebih memperketat pengawasan terhadap warganya yang berangkat ke luar negeri lewat jalur non-formal atau tawaran media sosial yang mencurigakan.

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *