Site icon Go Bekasi

Ribuan Hektare Sawah di Bekasi Terancam Kekeringan, Pemkab Terjunkan Pompa Air dan Normalisasi Irigasi

Bekasi - Ilustrasi seorang petani laki-laki yang sedang menggunakan sekop untuk menggali tanah di sawahnya.

Ilustrasi seorang petani laki-laki yang sedang menggunakan sekop untuk menggali tanah di sawahnya.

Bekasi — Pemerintah Kabupaten Bekasi, bergerak cepat memitigasi risiko penurunan produksi pertanian akibat ancaman kekeringan yang meluas. Sebanyak 1.354 hektare lahan sawah produktif yang tersebar di 41 desa dan 15 kecamatan kini berstatus rawan akibat menyusutnya pasokan air irigasi.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Abdillah Majid, menyoroti penurunan debit air yang berpotensi mengganggu target perluasan areal tanam jika tidak segera ditangani secara teknis.

“Di situ potensi terdampak penurunan produksi. Padahal dari Kementerian Pertanian itu kita harus menambah luas tanam. Kalau luas tambah tanam ditingkatkan, kembali lagi ke kondisi air,” ujar Abdillah di Cikarang, Rabu (19/8/2026).

Pompanisasi dan Rekomendasi Solar Subsidi

Guna menyelamatkan tanaman padi dari puso, Dinas Pertanian menyalurkan bantuan teknis berupa 13 unit mesin pompa berukuran enam inci dan 70 unit berukuran tiga inci.

Alat penarik air ini dikirim ke wilayah kritis seperti Kecamatan Pebayuran, Cabangbungin, Kedungwaringin, Tambelang, Sukawangi, Setu, hingga Muaragembong.

Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Eem Embang, menambahkan bahwa Pemkab Bekasi juga menerbitkan surat rekomendasi BBM bersubsidi bagi para petani. Langkah ini diambil untuk mengatasi kesulitan pasokan solar operasional mesin pompa di lapangan.

“Melakukan mitigasi sejak dini pada wilayah rawan kekeringan dan melakukan penanganan jangka pendek sudah sesuai tugas, fungsi, dan anggaran Dinas Pertanian,” tutur Eem.

Normalisasi Sungai dan Target Produksi Pangan

Selain pengerahan pompa air, Pemkab Bekasi bekerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) serta Perum Jasa Tirta (PJT) II mengeruk endapan dan pembersihan eceng gondok di sejumlah aliran vital.

Pengerjaan normalisasi mencakup aliran Balong Tuatu sepanjang 7 kilometer, SS Jagawana sepanjang 10 kilometer, dan Kali Butek sepanjang 5,5 kilometer.

Seluruh langkah darurat ini ditujukan untuk menjaga ketercapaian target produksi 503.000 ton gabah kering di Kabupaten Bekasi sepanjang tahun 2026. Wilayah Pebayuran masih menjadi tumpuan utama dengan tingkat produktivitas mencapai 8 hingga 9 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektare.

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Exit mobile version