Bekasi — Sebanyak 417 siswa mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 1 Kabupaten Bekasi di Cikarang Pusat pada Senin (31/8/2026).
Tim medis langsung menggelar pemeriksaan kesehatan fisik dasar bagi murid baru jenjang Sekolah Dasar (SD) pada hari pertama masuk sekolah.
Pemeriksaan mencakup pengukuran tinggi dan berat badan, kebersihan telinga, hingga pemetaan kemampuan literasi dasar anak.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja menjelaskan bahwa penjarangan peserta mengacu pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
Pengelola sekolah memprioritaskan anak-anak yatim serta piatu yang terancam putus sekolah.
“Kita mengacu pada data DTKS. Jadi insya Allah ini masih awal, dan ke depannya pasti akan bertambah banyak. Sekolah di sini dibentuk dan dibina karakternya. Jadi bukan berarti sekolah lalu bisa pulang tiap minggu—tidak seperti itu,” kata Asep pada Senin (31/8/2026).
Rincian Komposisi Peserta Didik
Rincian 417 siswa tersebut terdiri dari 237 siswa lokal Kabupaten Bekasi (57 siswa SD, 90 siswa SMP, dan 90 siswa SMA).
Selain itu, terdapat 90 siswa pindahan dari Kota Bekasi yang terbagi rata masing-masing 30 siswa untuk jenjang SD, SMP, dan SMA.
Sementara itu, sebanyak 90 siswa sisanya merupakan pindahan dari sekolah rakyat rintisan Kota Bekasi, yaitu 12 siswa SD dan 78 siswa SMA. Komposisi ini membentuk rasio 1:2 antara siswa lokal dan pendatang.
Asep mengimbuhkan bahwa pola boarding school (berasrama) mewajibkan siswa melakoni hidup mandiri dengan jatah libur tiga kali setahun.
“Anak-anak SD ini kan harus belajar mandiri mencuci sendiri dan mengurus keperluan sendiri. Cara menjaga kesehatan sangat penting, jangan sampai timbul penyakit seperti gatal-gatal,” tutur Asep.
Akses Pendidikan Kurang Mampu
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bekasi Alamsyah menegaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan program strategis pemerintah pusat untuk menekan angka putus sekolah.
Peserta didik yang tersaring berasal dari keluarga kelompok desil 1 dan desil 2 pada DTKS. Melalui sistem asrama terintegrasi, pemerintah daerah bertekad mencetak generasi muda yang mandiri serta berdaya saing.
“Tujuan utamanya tentunya meningkatkan akses pendidikan untuk anak-anak kita, terutama anak-anak yang belum sekolah atau yang putus sekolah. Harapannya anak-anak kita setelah itu bisa menjadi agen perubahan untuk meningkatkan derajat ekonomi dan derajat kesehatan keluarga,” ujar Alamsyah.
Ikuti Kami di GOOGLE NEWS
Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.













