Bekasi – Di sebuah banjar yang berselimut kabut di Baturiti, Tabanan, Bali, jerit tangis seorang anak perempuan memecah pagi yang dingin. Suaranya melengking, menghujat takdir, meratapi jasad kaku seorang pria yang dibopong warga. Pria itu berinisial KD. Di mata anak perempuan itu, pria yang kini terbujur kaku dengan darah kering menempel di pelipis dan pakaian yang koyak-moyak adalah seluruh dunianya. Pria itulah yang saban hari memastikan ada beras di atas piring rumah mereka, yang memeluknya kala dingin, dan yang berjanji akan terus ada untuk masa depannya.
Namun di mata massa yang kesetanan pada Jumat dini hari itu, KD bukanlah seorang ayah. Ia hanyalah seekor mangsa. Ia dituduh mencuri seekor ayam aduan milik seorang warga.
Satu ekor ayam. Nilainya di pasar mungkin tak seberapa—mungkin hanya cukup untuk membeli beberapa kilo beras atau membayar kontrakan setengah bulan. Namun di negeri yang konon mengagungkan Pancasila, keadilan sosial, dan kemanusiaan ini, taruhan untuk seekor ayam adalah nyawa seorang manusia.
Aksi pengejaran malam itu berlangsung tanpa sedikit pun belas kasih. KD berlari sendirian di kegelapan, memeluk erat ayam yang dituduhkan kepadanya, seolah benda bernyawa itu adalah penentu hidup dan matinya. Langkah kakinya yang terseok-seok akhirnya terhenti ketika sudut-sudut jalan terkuasai oleh kerumunan manusia yang memegang kayu, batu, dan tangan-tangan yang terkepal rapat. KD terperangkap dalam lingkaran kebencian kolektif.
Dalam hitungan detik, kemanusiaan menguap dari udara Baturiti. Bogeman mentah mendarat bertubi-tubi di wajah, dada, dan punggungnya. Suara tulang retak tenggelam dalam teriakan amarah warga yang kalap. Kakinya diikat rapat, melumpuhkan sisa-sisa pertahanan dirinya sebagai seorang manusia. Dalam keadaan telentang, bersimbah darah, dan tak berdaya memohon ampun, ia dihabisi hingga napas terakhirnya berhembus di atas tanah yang dingin.
Ketika video amatir memperlihatkan sang putri meratapi jasad ayahnya viral di media sosial, publik tersentak seketika. Kita menyaksikan betapa murahnya harga nyawa seorang rakyat kecil di negeri ini. Namun, cerita tragedi Baturiti bukanlah pementasan tunggal. Ia adalah pengulangan dari pita kaset lama yang diputar kembali—sebuah déjà vu berdarah yang terus berulang dalam sejarah kelam bangsa yang gemar menghakimi sesamanya.
Warisan Kebiadaban di Tanah Babelan
Memori kita seketika tertarik mundur ke bulan Agustus 2017, di sebuah desa di Babelan, Kabupaten Bekasi. Kala itu, jarum jam menunjukkan pukul 15.35 WIB ketika pria berinisial MAZ—yang akrab disapa Joya—mampir ke Musala Al-Hidayah. Joya adalah seorang tukang servis barang elektronik harian. Hari itu, ia membawa amplifier di dalam tasnya, sebuah alat kerja yang biasa ia perbaiki untuk menyambung hidup keluarganya yang sedang menunggu kelahiran anak kedua.
Sebuah prasangka buruk bergulir bak bola salju di sore yang terik itu. Berawal dari kecurigaan pengurus musala yang kehilangan amplifier, pengejaran sejauh lima kilometer pun terjadi. Joya yang ketakutan mencoba berlari, melompati selokan, menyusuri sawah, memohon ampun di tengah kejaran massa yang kian membesar dan kalap.
Ketika ia berhasil ditangkap di Desa Muara Bakti, Joya sempat berlutut. Ia menangis, merapatkan kedua telapak tangannya di dada, dan meminta maaf meski tuduhan itu belum terbukti secara sah di depan hukum.
Namun, massa yang terlanjur dirasuki amarah tak butuh pembuktian. Tubuh Joya dihantam dengan benda tumpul hingga terkapar sekarat di selokan kering depan sebuah toko. Dan puncak dari kebiadaban itu terjadi ketika seseorang menyulut api ke tubuhnya yang masih bernapas: Pria asal Kampung Jati, Cikarang Utara itu dibakar hidup-hidup. Asap hitam membubung, membawa bau daging terbakar dan sirnanya nurani sebuah masyarakat.
Sembilan hari kemudian, polisi menangkap para pelaku yang hanya bisa menunduk dan mengaku “tersulut emosi”. Sementara di sebuah rumah sederhana, Siti Zubaidah, istri Joya yang tengah hamil muda, harus menerima kenyataan bahwa suaminya tewas dengan cara yang bahkan tak layak diterapkan pada binatang sekalipun.
“Suami saya bukan hewan,” tumpah air mata Zubaidah kala itu. Sebuah kalimat sederhana yang seolah merobek-robek dadanya sendiri, namun tak pernah mampu merobek tebalnya dinding ketidakpedulian bangsa ini.
Psikologi Manusia Lapar dan Terbuang
Mengapa rakyat bawah di negeri ini begitu gampang tersulut amarah hingga tega membantai sesamanya demi barang-barang bernilai recehan? Mengapa kepalan tangan rakyat begitu cepat melayang kepada tetangganya sendiri, namun mendadak lemas dan gemetar ketika berhadapan dengan penguasa?
Jawabannya terletak pada keputusasaan yang menumpuk di dasar piramida sosial. Ketika rakyat bawah berjuang mati-matian hanya untuk menyalakan dapur besok pagi, mereka hidup dalam tekanan ekonomi yang mencekik. Di bawah himpitan biaya hidup, harga beras yang merangkak naik, dan lapangan kerja yang kian sulit, masyarakat bawah menjelma menjadi tumpukan jerami kering. Mereka hanya membutuhkan satu percikan kecil—sebuah teriakan “maling!”—untuk meledakkan seluruh frustrasi hidup yang selama ini membusuk di dalam dada mereka.
Di sisi lain, ada distrust yang amat mendalam terhadap lembaga penegak hukum. Rakyat tahu bahwa hukum formal sering kali berjarak, mahal, dan tak terjangkau. Hukum dianggap lambat dan acapkali memihak mereka yang beruang. Dari ketidakpercayaan inilah lahir hukum jalanan yang liar. Massa merasa bahwa dengan menganiaya terduga pelaku hingga tewas, mereka sedang menegakkan keadilan dengan tangan mereka sendiri.
Namun, celakanya, keberanian massa ini adalah keberanian yang semu dan pengecut. Massa hanya garang ketika berhadapan dengan kaum yang sama miskinnya, sama lemahnya, dan sama terbuangnya.
Garang pada Ayam, Tunduk pada Bandit Berdasi
Di sinilah letak tragedi dan kebingungan moral terbesar dari bangsa ini. Kita adalah masyarakat yang reaktif luar biasa terhadap kejahatan skala mikro, namun tumpul dan amnesia terhadap kejahatan skala makro.
Sementara seorang terduga pencuri ayam dihakimi hingga tewas di Baturiti dan seorang tukang servis elektronik dibakar di Bekasi, para perampok uang negara melenggang santai di dalam ruang-ruang ber-AC. Nilai kerugian dari seekor ayam atau sebuah amplifier musala tak ada seujung kuku dibanding skandal korupsi yang nilainya mencapai ratusan miliar hingga triliun rupiah.
Para koruptor merampok dana bantuan sosial yang seharusnya menjadi piring nasi bagi rakyat miskin. Mereka menggarong anggaran kesehatan yang seharusnya menyelamatkan nyawa bayi-bayi kurang gizi. Mereka merampas masa depan anak-anak bangsa lewat korupsi sektor pendidikan dan infrastruktur. Kejahatan mereka tidak hanya mematikan satu orang, melainkan membunuh secara perlahan jutaan rakyat kecil melalui kemiskinan struktural.
Namun, bagaimana respons masyarakat kita terhadap para perampok besar ini?
Hampir tak pernah ada massa yang berbondong-bondong membawa kayu dan batu ke rumah mewah para koruptor. Tak pernah ada sorak-sorai massa yang membakar mobil-mobil mewah hasil garongan uang rakyat. Di depan kamera media, para koruptor itu bahkan masih bisa tersenyum lebar, melambaikan tangan dengan mengenakan rompi oranye yang rapi, dikawal ketat oleh aparat penegak hukum yang memastikan tidak ada satu pun batu yang mengenai kepala mereka.
Rakyat kecil yang lapar dihajar hingga tak bernapas di jalanan, sementara perampok triliunan rupiah mendapatkan fasilitas hukum bintang lima dan remisi potongan masa tahanan. Sungguh sebuah lelucon gelap yang dipentaskan di atas panggung publik setiap hari.
Ketika Manusia Tak Lagi Mengenali Manusia
Aksi vigilantism atau yang dikenal main hakim sendiri adalah manifestasi dari masyarakat yang sedang membusuk dari dalam. Ketika sebuah bangsa kehilangan rasa empati dasar, ketika rasa iba digantikan oleh hasrat haus darah, kita pada dasarnya telah berubah menjadi kanibal sosial—rakyat yang saling memangsa rakyat lainnya.
Di manakah ajaran agama yang saban hari didengungkan di tempat-tempat ibadah? Di manakah slogan gotong royong dan kemanusiaan yang adil dan beradab yang dipelajari anak-anak kita di sekolah? Semuanya menguap ketika amarah massa meletup.
Kita harus berani jujur melihat cermin retak ini: kita sedang hidup dalam masyarakat yang sakit. Sebuah masyarakat yang dipimpin oleh sistem yang dingin dan acuh tak acuh. Para pejabat di kursi empuk kekuasaan tampak menikmati pemandangan ketimpangan ini dari balik jendela kaca yang gelap. Selama rakyat bawah saling cakar, saling curiga, dan saling bunuh di tingkat tapak, fokus rakyat akan teralih dari bobroknya tata kelola negara dan besarnya skala perampokan yang dilakukan oleh para elit.
Sistem yang timpang ini membiarkan rakyat bertarung memperebutkan remah-remah di bawah meja makan, sementara para penguasa dan bandit berniat jahat menghabiskan seluruh hidangan utama di atas meja.
Memutus Rantai Kebiadaban
Kita tidak pernah boleh merestui atau membenarkan tindak pidana pencurian, sekecil apa pun itu. Kejahatan tetaplah kejahatan yang harus diproses secara hukum. Namun, membiarkan jalanan menjadi arena eksekusi tanpa pengadilan adalah sebuah pemunduran peradaban menuju zaman kegelapan.
Setiap kali massa membiarkan darah mengalir di atas tanah hanya karena hal-hal sepele, kita sedang meruntuhkan fondasi negara hukum dan menggantinya dengan hukum rimba. Jika keadaan ini terus dibiarkan, maka tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar aman. Hari ini mungkin KD atau Joya, besok lusa bisa jadi adalah saudara kita, anak kita, atau diri kita sendiri yang menjadi korban dari salah sangka dan kegilaan massa.
Untuk menghentikan lingkaran setan ini, pembenahan harus dilakukan dari dua arah:
Pertama, ketegasan aparat hukum terhadap pelaku vigilantism. Polisi tidak boleh lagi bersikap kompromistis terhadap pelaku pengeroyokan massal. Setiap tangan yang mengayunkan kayu, setiap kaki yang menendang, dan setiap mulut yang memprovokasi massa hingga menewaskan orang lain harus diseret ke meja hijau dengan ancaman pidana berat. Tidak ada alasan tersulut emosi yang boleh mendiskon kejahatan pembunuhan bertopeng massa.
Kedua, restorasi kepercayaan dan keadilan sosial. Negara harus membuktikan bahwa hukum tidak hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Ketika koruptor kakap dihukum seberat-beratnya dan dimiskinkan hingga ke akar-akarnya, rakyat akan melihat bahwa keadilan itu nyata. Kehadiran negara dalam mengentaskan kemiskinan dan menyediakan jaring pengaman sosial juga akan mengikis keputusasaan yang menjadi bahan bakar utama kekerasan jalanan.
Ratapan di Baturiti dan Duka yang Abadi
Tangisan histeris anak perempuan KD di Baturiti, Tabanan, Bali, seharusnya menjadi lonceng kematian bagi nurani kolektif kita sebagai sebuah bangsa. Wajahnya yang memerah, air matanya yang jatuh menetes di atas jasad ayahnya yang kaku, adalah pemandangan yang harus terus menghantui tidur kita.
Anak itu tidak hanya kehilangan seorang ayah; ia kehilangan rasa amannya di tanah airnya sendiri. Ia tumbuh dengan pengetahuan pahit bahwa ayahnya tewas bukan karena bencana alam, bukan pula karena penyakit, melainkan dibantai oleh tetangganya sendiri demi seekor ayam aduan.
Berapa banyak lagi air mata anak dan istri yang harus tumpah di atas tanah negeri ini sebelum kita tersadar? Berapa banyak lagi nyawa rakyat kecil yang harus melayang sebelum kita menyadari bahwa musuh utama bangsa ini bukanlah tetangga miskin kita yang terdesak kebutuhan dapur, melainkan para perampok besar yang menggerogoti masa depan negeri ini dari dalam istana-istana kemewahan mereka?
Jika kita terus memilih untuk menjadi serigala bagi sesama rakyat kecil sementara bertekuk lutut di hadapan para penjahat kekuasaan, maka kita tak perlu menunggu serangan dari luar untuk menghancurkan bangsa ini. Kita sedang secara perlahan, namun pasti, membusuk dan tewas di tangan bangsa sendiri.
Penulis: M.Y Ardiansyah













