Opini  

Dari Penjahit Kain Majun ke Pengupas Bawang

Jakarta - Presiden Prabowo saat memberikan pidato kenegaraan dalam rangka peringatan HUT ke-81 RI di Gedung MPR, Jakarta. Foto: (Tangkapan layar youtube Setpres RI)
Presiden Prabowo saat memberikan pidato kenegaraan dalam rangka peringatan HUT ke-81 RI di Gedung MPR, Jakarta. Foto: (Tangkapan layar youtube Setpres RI)

Bekasi – Publik terus dipaksa bereaksi keras terhadap kebanyakan pidato Prabowo. Berulang kali narasi yang disampaikan seorang presiden menuai banyak respon negatif rakyatnya. Mulai dari halusinasi, kebohongan, dan dianggap melakukan fitnah. Hingga yang relatif lebih lunak menganggapnya pikun. Prabowo seperti sedang berada dalam pusaran penghakiman dirinya terutama di media sosial akibat lemahnya pengendalian kata-katanya sendiri.

Pidato kenegaraan Prabowo di gedung DPR/MPR RI pada Jumat 14 Agustus 2026, kembali memunculkan kehebohan di kalangan netizen. Prabowo menyebut Ibu Susana sebagai tukang pengupas bawang dengan upah 700 ribu per kilo. Padahal ibu Susana yang terdaftar sebagai penerima program PKH dan program sembako yang dihadirkan pada momen itu, hanyalah penjahit kain majun, yakni kain perca atau potongan kain sisa bahan yang dimanfaatkan sebagai lap pembersih.

Penelusuran netizen atas pernyataan Prabowo tersebut begitu dalam dan detail. Sampai menemukan sosok ibu Susana hanya mendapatkan upah sebesar 700 rupiah untuk setiap kilogram kain majun yang selesai dijahit. Bukan sebagai tukang kupas bawang yang yang umumnya menerima upah sebesar 30-40 ribu/kilo.

Fakta yang berbanding terbalik dengan pernyataan Prabowo itu bukan hoaks karena dilansir oleh komdigi.co.id sebuah situs resmi Badan Komunikasi Pemerintah RI. Ketidaksesuaian ucapan dan fakta yang kerap terjadi saat Prabowo pidato, jika tidak mau disebut kebohongan yang menerus.

Beragam komentar terus membanjiri pernyataan Prabowo tak terbatas hanya pada pidatonya semata. Saking seringnya salah ucap, tak sepantasnya dilontarkan, dan dipenuhi kontroversi hingga tidak berdasarkan fakta. Lambat-laun menimbulkan asumsi bahkan konklusi publik yang miring, skeptis, dan apriori terhadap Prabowo.

Sudah ada penilaian kritis pada sosok presiden yang sarat beban sejarah dan dosa masa lalu itu. Mulai dari faktor umur yang kian uzur, penyakit yang terus menjangkit, hingga kondisi miris psikis akibat bertumpuknya masalah demi masalah dalam pengelolaan negara yang dipimpinnya. Bahkan penilaian khalayak ramai berkembang bahwasanya kehadiran dan keberadaan Prabowo itu sendiri juga sudah menjadi problem krusial dan kronis bagi rakyat, negara dan bangsa Indonesia.

Ada sedikit pembenaran atau upaya pemakluman terutama dari kalangan abdi dalem, penjilat, dan buzzer pengerat berbayar. Namun banyak yang tak lagi bisa menerima kebiasaan buruk pada pidato dan perilaku Prabowo sebagai presiden. Mimik ngenye, gimik joget dan meledek menjulurkan lidah serta gestur disertai aksi marah-marah sembari mengancam siapa saja di atas podium dan door stop. Membuat Prabowo sudah terlihat tak sepantasnya dan tak selayaknya lagi sebagai presiden yang sejatinya harus dipenuhi kehormatan, kewibawaan, dan lebih substansi memiliki kepercayaan dan dukungan rakyat.

Publik mengelus dada dan netizen pun menggerutu. Entah harus tantrum atau menjadikan presidennya sebagai badut yang penuh lelucon. Mimpi apa rakyat sebelumnya sampai harus menanggung penderitaan karena memiliki pemimpin yang malah menjadi beban dan sumber masalah. Yang jelas rakyat harus menerima apa adanya, suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, selamat menikmati negara dengan presiden seperti itu oleh pilihannya sendiri.

Dari penjahit kain majun ke pengupas bawang. Entah kepeleset lidah, entah saking piawainya pidato tanpa teks hingga sekata-katanya. Begitulah hobi presiden yang tak bisa jauh dari mik atau podium. Bebas saja mau ngomong dan bertingkah apapun. Toh sudah jadi presiden. Asal kalau ngawur dan sudah bikin gaduh, jangan bilang semua ini karena Anies Baswedan ya. Oh iya masih di forum yang sama ada satu lagi yang fatal, ketika pernyataan presiden menyuruh Citra seorang anak perempuan yang baru berumur 10 tahun untuk pacaran 10 tahun lagi, super miris di forum resmi kenegaraan. Ayo gas, ayo gas, ayo gas dan asyik, dijogetin aja.

Bekasi Kota Patriot.
3 Rabiul Awal 1448 H/16 Desember 2026.

Disampaikan Oleh Yusuf Blegur

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *