Bekasi – Suasana khidmat menyelimuti kawasan Stasiun Bekasi Timur saat Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menghadiri kegiatan doa bersama untuk para korban kecelakaan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line.
Momen ini menjadi refleksi mendalam sekaligus penegasan komitmen Pemkot Bekasi untuk merombak total keamanan jalur kereta api di wilayahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Tri menyampaikan duka cita mendalam dan memastikan negara hadir bagi para penyintas maupun keluarga yang ditinggalkan.
“Sebagai kepala daerah, saya menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya. Pemerintah memastikan seluruh korban mendapatkan haknya, baik santunan bagi ahli waris maupun penanganan medis maksimal bagi yang masih dirawat,” ujar Tri, Senin (4/5/2026).
Ia juga menyampaikan apresiasi atas solidaritas pemerintah pusat, mulai dari Presiden RI hingga Gubernur Jawa Barat yang turut mengawal penanganan para korban pasca-insiden tragis tersebut.
Tak ingin kecelakaan serupa berulang, Tri Adhianto langsung memerintahkan Dinas Perhubungan (Dishub) dan Satpol PP untuk melakukan penjagaan non-stop di titik rawan seperti Bulak Kapal dan Ampera.
Selain itu, langkah berani diambil dengan rencana penutupan permanen perlintasan ilegal, termasuk di wilayah Kranji.
“Lebih baik masyarakat memutar sedikit daripada harus menghadapi risiko kecelakaan yang bisa merenggut nyawa,” tegasnya.
Tri juga menyoroti sistem manual yang masih mendominasi pengamanan perlintasan. Ke depan, ia mendorong transisi ke sistem elektrikal yang lebih aman. Tak hanya alat, kompetensi manusia juga menjadi perhatian utama.
“Penjagaan pintu kereta itu tidak bisa sembarangan, harus ada ilmunya. Kami mengusulkan 22 orang untuk mengikuti pelatihan profesional agar penjagaan sesuai standar keselamatan,” jelasnya.
Sebagai solusi permanen mengurai konflik sebidang, pembangunan flyover di kawasan Bulak Kapal kini menjadi prioritas nomor satu. Tri mengungkapkan telah menjalin koordinasi intensif dengan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Targetnya tidak main-main, pembahasan pembebasan lahan dengan estimasi nilai Rp116 miliar dipatok harus rampung pada akhir Mei ini. Proyek strategis ini diharapkan menjadi jawaban atas “jalur maut” yang selama ini menghantui warga Bekasi Timur.
“Ini adalah ikhtiar bersama antara pemerintah kota, provinsi, dan PT KAI. Semoga prosesnya dilancarkan dan ke depan tidak ada lagi tangisan di perlintasan kereta api kita,” tutup Tri.
Ikuti Kami di GOOGLE NEWS
Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.












