Bekasi  

56 Persen Wilayah Jabar Dilanda Kekeringan, Bekasi Masuk Kategori Sangat Panjang

Kabupaten Bekasi - Kabupaten Bekasi dilanda kekeringan dan berdampak langsung kepada petani dan warga. Foto: Gobekasi.id
Kabupaten Bekasi dilanda kekeringan dan berdampak langsung kepada petani dan warga. Foto: Gobekasi.id

Bandung – Ancaman kekeringan akibat penurunan curah hujan mulai mencengkeram sebagian besar wilayah Jawa Barat.

Berdasarkan pemantauan berkala pada dasarian pertama Juli 2026 (periode 1–10 Juli), Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Barat melaporkan sebanyak 56 persen wilayah Jawa Barat resmi mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kategori menengah, yakni berkisar antara 1 hingga 20 hari.

Rekor kekeringan terpanjang di Jawa Barat pada awal bulan ini terpantau melanda kawasan Losari, Kabupaten Cirebon, di mana hujan dilaporkan absen selama 48 hari berturut-turut.

Dari rilis data pemetaan BMKG, terdapat lonjakan indikator di mana 12 persen daerah di Jabar telah memasuki fase kekeringan sangat panjang dengan durasi HTH berkisar antara 31 hingga 60 hari.

Selain di Losari, klaster kekeringan ekstrem ini terdeteksi menyebar di beberapa titik nadi ekonomi dan pertanian, meliputi Bekasi bagian barat dan Karawang tengah. Utara Purwakarta serta beberapa lokasi di Subang dan Indramayu. Majalengka, Sumedang, Garut, Kabupaten Bandung, Cianjur, hingga Sukabumi.

Sementara itu, sebesar 18 persen daerah lainnya mengalami kekeringan panjang (durasi 21–30 hari) yang sebarannya mendominasi wilayah perbatasan Bekasi dan Karawang bagian utara, timur laut Subang, utara Purwakarta, selatan Cianjur dan Kabupaten Bandung, selatan Majalengka, serta Kuningan.

Prakirawan cuaca Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Barat, Diana Hertanti, memaparkan bahwa gersangnya cuaca ini linear dengan hasil analisis iklim global terkini.

Fenomena El Nino aktif mengindikasikan pemangkasan suplai curah hujan di sebagian wilayah Indonesia, termasuk bumi Pasundan.

Kendati demikian, Diana menyebut ada sedikit draf angin segar bagi atmosfer Jabar. Selama sepekan ke depan, radar mendeteksi adanya bauran dinamika atmosfer lokal yang diprediksi masih mampu menyokong suplai uap air dan memicu pertumbuhan awan konvektif secara spot-spot (lokal).

“Secara umum curah hujan di Jawa Barat memang cenderung menurun drastis. Namun, potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih dapat terjadi secara lokal, terutama pada sore hingga malam hari di sebagian wilayah akibat aktifnya gelombang atmosfer tipe Rossby Ekuatorial di pertengahan pekan, suhu muka laut yang relatif hangat, serta indeks labilitas atmosfer yang bervariasi,” urai Diana dikutip Senin (13/7/2026).

Memasuki dasarian kedua di bulan Juli, BMKG memproyeksikan seluruh teritorial Jawa Barat akan dikepung oleh hujan dengan kategori sangat rendah, yakni berada di kisaran draf volume 0 hingga 50 milimeter.

Mayoritas wilayah diprediksi hanya akan mendapat pasokan air tipis antara 10–20 milimeter. Pengecualian volume agak tinggi (berkisar 20–50 milimeter) diperkirakan hanya akan mengguyur sebagian kecil wilayah Bogor, Cianjur, dan sektor selatan Purwakarta.

Warga dihimbau untuk mulai bijak dalam mengelola cadangan air bersih guna mengantisipasi draf krisis kekeringan yang lebih dalam.

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *