Bekasi  

Gunung Sampah Bantar Gebang Kian Mengancam: Longsor Berulang, Warga Hirup Bau Setiap Hari

Kota Bekasi - Alat berat dikerahkan untuk menata tumpukan sampah yang menggunung di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Kota Bekasi, menyusul terjadinya longsor sampah beberapa waktu lalu. Aktivitas ini dilakukan sebagai bagian dari penanganan dan penataan area pembuangan, Kamis (1/1/2026). Foto: Dok.Syakira Allail Salsabila
Alat berat dikerahkan untuk menata tumpukan sampah yang menggunung di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Kota Bekasi, menyusul terjadinya longsor sampah beberapa waktu lalu. Aktivitas ini dilakukan sebagai bagian dari penanganan dan penataan area pembuangan, Kamis (1/1/2026). Foto: Dok.Syakira Allail Salsabila

Kota Bekasi — Gunung sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang kembali menunjukkan wajah aslinya: rapuh, berbahaya, dan membebani warga sekitar.

Dalam beberapa hari terakhir, longsor sampah terjadi di salah satu zona penumpukan, dipicu oleh tingginya volume sampah dan kondisi cuaca.

Peristiwa ini mempertegas krisis pengelolaan sampah yang selama bertahun-tahun tak kunjung diselesaikan secara mendasar.

Material sampah yang longsor sempat menutup sebagian area TPST dan mengganggu aktivitas operasional.

Meski tak menelan korban jiwa, kejadian ini memantik kekhawatiran lama warga: bau menyengat, air lindi yang meluber, dan ancaman longsor susulan.

Bau, Lindi, dan Ketakutan yang Berulang

Warga yang tinggal di sekitar TPST Bantar Gebang mengaku kondisi lingkungan semakin tidak tertahankan. Bau sampah kian menusuk, terutama setelah hujan mengguyur kawasan tersebut.

Air lindi—cairan hitam pekat hasil pembusukan sampah—kerap mengalir ke jalan, membuat permukaan licin dan membahayakan pengguna jalan.

“Sekarang baunya makin parah, apalagi kalau habis hujan. Air sampah sering ngalir ke jalan, jadi becek dan licin. Aktivitas warga jelas keganggu,” ujar A (45), warga sekitar TPST, Kamis (1/1/2026).

Keluhan serupa disampaikan U (38). Ia mengingat kejadian longsor sebelumnya yang sempat menimbulkan kepanikan karena dikhawatirkan memicu luapan aliran air di sekitar lokasi.

“Kemarin juga sempat longsor. Gara-gara itu, aliran air hampir meluap. Untungnya enggak ada korban. Sekarang memang sudah dibersihin, tapi kami tetap waswas,” katanya.

Insiden Berulang, Solusi Sementara

Longsor sampah kali ini juga sempat menyebabkan sebuah truk pengangkut sampah terjatuh, diduga akibat jalan yang licin dan tertutup material longsoran.

Insiden tersebut kembali menyoroti minimnya faktor keselamatan di kawasan TPST yang setiap hari menampung ribuan ton sampah dari Jakarta.

Pasca kejadian, pengelola TPST bersama pemerintah daerah mengerahkan alat berat untuk membersihkan dan menata ulang timbunan sampah. Pemantauan diklaim terus dilakukan guna mencegah longsor susulan.

Namun, langkah-langkah tersebut dinilai warga hanya bersifat reaktif dan sementara.

Masalah Lama yang Tak Pernah Tuntas

TPST Bantar Gebang selama ini menjadi tumpuan utama pengolahan sampah ibu kota. Setiap hari, ribuan ton sampah dibuang ke kawasan ini, sementara upaya pengurangan dari hulu—seperti pemilahan, daur ulang, dan pengolahan modern—berjalan lambat.

Akibatnya, gunung sampah terus meninggi, stabilitas lahan kian rapuh, dan risiko longsor semakin besar. Warga sekitar menjadi pihak yang paling terdampak, menanggung bau, pencemaran air, hingga ancaman keselamatan.

Longsor sampah di Bantar Gebang bukan peristiwa luar biasa. Ia adalah gejala dari sistem pengelolaan sampah yang menumpuk masalah, bukan menyelesaikannya.

Selama solusi yang diambil masih sebatas merapikan gunung sampah—bukan menguranginya—warga di sekitar TPST akan terus hidup di bawah bayang-bayang krisis lingkungan yang sama, tahun demi tahun.

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Penulis: Syakira Allail Salsabila (Mahasiswa Universitas Bhayangkara Jakarta Raya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *