Bekasi — Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Bekasi mengingatkan jemaah haji Indonesia, khususnya gelombang kedua, untuk mewaspadai cuaca ekstrem di Arab Saudi yang mencapai 43 hingga 50 derajat Celsius.
Kepala Bidang Kesehatan PPIH Embarkasi Bekasi, Sedya Dwisangka mengatakan, perbedaan suhu dan tingkat kelembapan antara Indonesia dan Arab Saudi menjadi tantangan serius bagi kondisi fisik jemaah.
“Di Indonesia suhu sekitar 31 sampai 35 derajat dengan kelembapan 60 sampai 70 persen. Sementara di Arab Saudi suhu bisa 43 sampai 50 derajat dengan kelembapan hanya 10 sampai 12 persen. Sangat kering dan berisiko menyebabkan kelelahan hingga fatal,” kata Sedya, Senin(18/5/2026).
Menurutnya, kondisi cuaca kering membuat cairan tubuh jemaah cepat menguap tanpa disadari. Akibatnya banyak jemaah tidak merasa berkeringat sehingga lupa memenuhi kebutuhan cairan tubuh.
“Banyak jemaah merasa tidak berkeringat, padahal cairan tubuhnya menguap lebih cepat. Ini yang menyebabkan dehidrasi sering terjadi di awal kedatangan,” ujarnya.
PPIH pun meminta jemaah menjaga kondisi fisik karena ibadah haji merupakan ibadah yang membutuhkan stamina tinggi. Dalam sehari, jemaah bisa berjalan kaki hingga 3 sampai 7 kilometer.
Selain itu, Sedya mengimbau jemaah menggunakan alas kaki yang layak dan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
“Jangan gunakan sandal hotel yang tipis karena bisa menyebabkan luka bakar pada kaki. Masker juga penting untuk mengurangi debu sekaligus meminimalisir penguapan cairan tubuh,” jelasnya.
Jemaah juga diminta rutin minum air putih secara bertahap dan menambah asupan elektrolit agar kondisi tubuh tetap stabil selama menjalankan rangkaian ibadah haji.












