Bekasi – Kabar duka dari kapal pesiar MV Hondius di tengah Samudra Atlantik seketika memantik alarm kesehatan global. Tiga nyawa melayang akibat infeksi Hantavirus, sebuah virus zoonosis yang dibawa oleh hewan pengerat.
Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ini tak pelak membuat otoritas kesehatan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, bersiaga.
Di Kota Bekasi, Dinas Kesehatan (Dinkes) bergerak cepat memantau radar penyebaran virus ini. Hingga Jumat, (8/5/2026), Kota Bekasi dinyatakan masih steril dari ancaman virus yang dibawa oleh urin, air liur, dan kotoran tikus tersebut.
“Hantavirus belum terdeteksi di Kota Bekasi,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Satia Sriwijayanti Anggraini, memberikan kepastian di tengah kegaduhan informasi.
Satia tidak memandang remeh ancaman ini. Ia membedah dua wajah mematikan dari Hantavirus yang patut diwaspadai masyarakat. Pertama adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau versi “Dunia Baru” yang menyerang sistem pernapasan secara brutal.
“HPS memiliki risiko kematian yang sangat tinggi, mencapai 40 hingga 50 persen,” kata Satia. Sebuah angka yang menunjukkan bahwa infeksi ini hampir menyerupai ‘undian maut’ bagi penderitanya.
Kedua adalah Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yang jamak dikenal sebagai versi “Dunia Lama”. Meski risiko kematiannya lebih rendah, yakni di kisaran 5 hingga 15 persen, virus ini mampu memicu gagal ginjal akut yang fatal jika tidak ditangani dengan presisi.
Tantangan terbesar dalam mendeteksi Hantavirus adalah gejalanya yang menyerupai flu biasa (flu-like symptoms). Demam tinggi di atas 38 derajat Celcius, sakit kepala, hingga nyeri punggung dan perut seringkali membuat pasien terlambat menyadari bahwa ada virus mematikan yang sedang bersemayam di tubuh mereka.
Guna membendung potensi transmisi, Dinkes Kota Bekasi telah merilis panduan mitigasi di tingkat rumah tangga. Kuncinya sederhana namun krusial: putuskan rantai kontak dengan tikus.
“Kendali ada pada kebersihan lingkungan,” tegas Satia. Masyarakat diimbau untuk segera menutup celah lubang di rumah, memasang perangkap tikus, hingga memastikan makanan selalu terlindungi di bawah tudung saji guna menghindari kontaminasi.
Di tengah Bekasi yang padat, pencegahan terhadap hewan pengerat bukan lagi sekadar soal kenyamanan, melainkan benteng pertahanan terakhir melawan virus yang kini tengah menjadi sorotan dunia.
Ikuti Kami di GOOGLE NEWS
Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.












