BPIP Gaet Bloger dan Penggiat Medsos Gaungkan Pancasila

  • Bagikan

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia menggaet ratusan kaum milenials penggiat bloger dan media sosial di Kota Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (31/8/2019).

Direktur Sosialisasi Komunikasi dan Jaringan pada BPIP, Aris Heru Utomo mengatakan tujuan seminar pancasila kepada kaum milenials untuk membumikan kembali nilai-nilai pencasila.

“Tujuan kami menggaet mereka untuk memberikan akreditasi tentang apa yang kita (BPIP) lakukan di tularkan kepada penggiat bloger dan media sosial (Medsos),” kata Aris, Sabtu (31/8/2019) di Hotel Aston, Bekasi Selatan.

Menurutnya, bloger dan penggiat medsos saat ini dianggap penting lantaran kerap bersosialisasi langsung dengan masyarakat dunia maya.

Terlebih di Indonesia saat ini mayoritas masyarakat telah menjajakan separuh aktifitasnya dalam media sosial. Dengan demikian, nilai-nilai pancasila yang redup bisa kembali di gaungkan kepada masyarakat luas.

“Bloger dan penggiat medsos ini adalag penulis yang leluasa. Jadi dalam sosialisasi yang telah kami berikan ini bisa mereka tumbuh kembangkan melalui ide dan gagasan,” ujar Aris.

Selain itu, Aris menekankan jika BPIP tidak bermaksud untuk menggurui apalagi mendoktrin secara paksa kaum milenials untuk mendalami pancasila.

“Kami hanya memberikan sosialisasi, pemahaman kepada mereka agar hidup tetap pada jalur sesuai dengan nilai-nilai pancasila,” katanya.

Diusia BPIP yang baru menginjak 1,5 tahun, kata Aris, adalah sebuah motivasi untuk membuktikan kepada masyarakat terkait kinerja BPIP selama ini.

“Mungkin banyak masyarakat bertanya-tanya apa tujuan kami dibentuk, dan inilah maksud kami, mengembalikan dan membumikan kembali nilai-nilai pancasila kepada masyarakat luas,” jelas dia.

Sejauh ini, BPIP sendiri telah bekerjasama dengan Kemeristekdikti, Kemendikbud dan Kemenag untuk mengembalikan pelajaran-pelajaran ideologi pancasila.

“Mulai dari tingkat SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi. Tahun ini dengan Kemendikbud uji coba beberapa sekolah, universitas, tapo belum menerapkan dengan optimal. Kemenristekdikti dan Kemenag sudah meyambut baik tapi tinggal bagaimana persiapan kami nanti,” ungkap Aris.

Mengenai Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), Aris menilai luas negara dari segi kontennya cukup bagus dan mempunyai landasan.

Dalam konten itu ia menggambarkan jika pengelolaan jangka pendek, menengah dan panjang negara bisa terukur.

“Soal garis haluan negara itu kan tergantung pemimpin (Presiden), siapa presidennya dan programnya apa, itu kan kerap berubah-ubah. Nah disini kita membantu jika ada kekurangan. Intinya kita menjaga kesinambungan, menjaga visi negara ketika pergantian pemimpin,” papar Aris.

Dalam hal ini Aria juga berharap agar pancasila bisa membumi di masyarakat luas. Sehingga, kata dia, masyarakat dapat lebih memahami nilai-nilai pancasila.

(MYA)

  • Bagikan