Bekasi — Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bekasi mencatat sebanyak 3.400 warga di wilayah Kabupaten Bekasi mendaftarkan diri untuk memverifikasi arah kiblat tempat ibadah maupun hunian pribadi mereka.
Momentum ini bertepatan dengan fenomena alam Rashdul Kiblat atau Istiwa A’zam, di mana matahari berada tepat di atas Ka’bah.
Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Kabupaten Bekasi, Nedi Junaedi, mengungkapkan bahwa membeludaknya jumlah pendaftar mencerminkan tingginya kesadaran religius masyarakat Bekasi untuk menyempurnakan aspek keabsahan ibadat salat mereka.
“Yang mendaftar mencapai 3.400 orang se-Kabupaten Bekasi untuk memverifikasi arah kiblat melalui metode Rashdul Kiblat atau Istiwa A’zam. Ini menunjukkan antusiasme masyarakat sangat tinggi untuk memastikan arah kiblat secara benar,” kata Nedi dikutip Jumat (17/7/2026).
Kiblat merupakan metode klasik penentuan kiblat yang memanfaatkan bayangan benda tegak lurus saat matahari melintas tepat di atas garis lintang Ka’bah di Makkah.
Untuk wilayah Indonesia bagian barat (WIB), fenomena astronomis ini terjadi presisi pada pukul 16.27 WIB.
Nedi menjelaskan bahwa metode alamiah ini jauh lebih akurat dan terbebas dari kesalahan ukur jika dibandingkan dengan alat bantu modern seperti kompas digital maupun analog.
“Metode ini dinilai lebih akurat dibandingkan penggunaan kompas maupun alat sejenis yang masih dipengaruhi medan magnet bumi atau faktor teknis sirkuit lainnya. Karena memanfaatkan ketentuan alam, bayangan benda yang berdiri tegak lurus akan menunjukkan arah kiblat secara langsung secara presisi,” terangnya.
Mengantisipasi kekhawatiran pengurus rukun tetangga maupun dewan kemakmuran masjid (DKM), Nedi meluruskan anggapan bahwa koreksi arah kiblat akan berujung pada pembongkaran fisik bangunan.
Jika hasil verifikasi bayangan menunjukkan adanya deviasi atau pergeseran derajat arah kiblat pada bangunan masjid atau musala, solusi yang ditawarkan sangat sederhana dan tak berbiaya besar.
Pengelola tempat ibadah cukup mengubah sudut kemiringan saf makmum (garis batas salat).Posisi bentangan sajadah atau karpet di dalam ruang utama cukup dimiringkan mengikuti garis bayangan hasil ukur Istiwa A’zam terbaru.
Mengingat fenomena matahari di atas Ka’bah ini hanya terjadi dua kali dalam setahun—yakni pada bulan Mei dan Juli—Nedi mengimbau masyarakat luas untuk turut mempraktikkannya secara mandiri di rumah masing-masing dengan langkah-langkah mudah berikut:
Siapkan Tongkat Lurus: Gunakan tongkat atau tiang yang lurus sebagai media pembuat bayangan.
Pastikan Siku 90 derajat (Tegak Lurus): Gunakan alat bantu timbangan air (waterpass) atau tali berbandul gantung agar tongkat benar-benar tegak lurus tegak lurus terhadap bumi.
Pilih Permukaan Rata: Letakkan alat ukur di area terbuka yang terkena sinar matahari langsung dengan permukaan lantai yang rata.
Tandai Bayangan pada 16.27 WIB: Garis bayangan yang terbentuk pada jam tersebut ditarik ke arah tiang. Arah dari ujung bayangan menuju pangkal tiang itulah arah kiblat yang presisi.
“Kuncinya adalah tongkat harus benar-benar tegak lurus dan diletakkan di permukaan yang rata. Jika persiapan benar, maka hasil bayangan akan menunjukkan arah kiblat dengan sangat akurat,” pungkas Nedi.
Ikuti Kami di GOOGLE NEWS
Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.













